Membangun Persatuan Melalui Keberagaman
Saya percaya bahwa setiap perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk memahami kehidupan secara lebih utuh. Keyakinan ini semakin kuat ketika saya bersahabat dengan Ust. Hendra Gunawan—seorang Muslim tradisionalis dengan akar budaya yang kuat dan pengalaman panjang dalam dunia organisasi.
Saya sendiri lahir sebagai seorang Kristen dan Batak, dengan perjalanan hidup yang banyak ditempa oleh dunia profesional, namun minim pengalaman dalam organisasi kemasyarakatan. Di titik inilah saya menyadari, bahwa pertemuan kami bukan kebetulan, melainkan ruang belajar yang memperkaya pandangan tentang makna kebangsaan dan kemanusiaan.
Meski kami datang dari dua dunia yang berbeda, kami dipersatukan oleh nilai yang sama: menjunjung tinggi nasionalisme dan keberagamaan yang saling menghargai. Kami yakin, setiap warga—tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang—memiliki peran penting dalam membangun Kota Depok, kota tempat kami lahir, tumbuh, dan berjuang bersama.
Belajar Kolaborasi dari Keberagaman
Dalam setiap diskusi dan kerja bersama, kami menanamkan nilai kolaborasi lintas iman. Sebab, persatuan sejati bukanlah tentang menyeragamkan, melainkan merayakan keberagaman dalam satu tujuan besar: kemaslahatan bersama.
Semangat ini kami jalani bukan sekadar sebagai idealisme, melainkan praktik nyata yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan dialog kebangsaan. Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja sama, justru memperkaya perspektif dalam mencari solusi bagi masyarakat.
Inspirasi dari Gus Dur: Politik Kemanusiaan
Sumber inspirasi terbesar kami datang dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)—tokoh yang mengajarkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber kasih, bukan sekat perbedaan. Bahwa politik adalah alat pengabdian, bukan arena perebutan kekuasaan.
Bagi kami, Gus Dur adalah simbol keberanian moral yang melampaui batas identitas. Ia menegaskan bahwa kemanusiaan lebih tinggi dari segala perbedaan, dan bahwa Indonesia justru kokoh karena keberagamannya.
Di tengah situasi sosial-politik hari ini, nilai-nilai Gus Dur terasa semakin relevan. Ketika sebagian orang masih sibuk mempertegas perbedaan, Gus Dur telah lebih dulu mengajarkan bahwa keberagaman adalah anugerah yang memperkaya bangsa.
Menjaga Api Kemanusiaan
Dalam perjalanan ini, saya dan Ust. Hendra terus berusaha menapaki jalan kebersamaan dengan meneladani nilai-nilai toleransi, cinta tanah air, dan keberanian moral yang diwariskan Gus Dur. Kami percaya, semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan dasar hidup bersama yang harus dijaga dan diperjuangkan.
Dengan kolaborasi lintas iman, kami ingin memperkuat kohesi sosial dan menghidupkan kembali semangat gotong royong, yang menjadi jiwa bangsa Indonesia sejak awal berdirinya.
Gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur: Sebuah Pengingat
Pada momentum Hari Pahlawan Nasional, 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Abdurrahman Wahid. Atas nama pribadi, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) atas perjuangan panjang menjaga warisan Gus Dur.
Anugerah ini bukan sekadar bentuk pengakuan atas jasa seorang tokoh bangsa, tetapi juga pengingat bagi kita semua—bahwa perjuangan Gus Dur belum selesai. Ia terus hidup dalam setiap langkah kecil yang kita ambil untuk menjaga kemanusiaan, menegakkan keadilan, dan memperkuat persaudaraan lintas iman.
Semoga semangat Gus Dur terus menyala dalam hati setiap anak bangsa, menjadi cahaya yang menuntun kita menuju Indonesia yang lebih inklusif, adil, dan beradab.












