Orang yang Tidak Pernah Merasa Dicintai Saat Kecil Cenderung Menunjukkan 9 Perilaku Ini saat Dewasa, Menurut Psikologi

Masa Kecil dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Kepribadian

Masa kecil merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dalam psikologi, khususnya dalam teori keterikatan (attachment theory), hubungan emosional dengan orang tua atau pengasuh sangat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Ketika seseorang tumbuh tanpa merasa benar-benar dicintai, baik karena kurangnya perhatian, kehangatan, validasi emosional, atau bahkan karena pengalaman penolakan, hal ini tidak serta-merta hilang saat mereka dewasa. Sebaliknya, pengalaman tersebut sering “terbawa” dan muncul dalam berbagai pola perilaku.

Berikut adalah beberapa perilaku yang sering ditunjukkan oleh orang yang tidak pernah merasa benar-benar dicintai saat kecil, menurut perspektif psikologi:

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Orang yang kurang mendapatkan kasih sayang di masa kecil sering tumbuh dengan keyakinan bahwa orang lain tidak bisa diandalkan. Mereka mungkin selalu waspada, curiga, atau merasa bahwa hubungan hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Akibatnya, mereka cenderung menjaga jarak emosional, bahkan ketika ada orang yang tulus ingin dekat dengan mereka.

2. Haus Validasi, Tapi Sulit Menerimanya

Di satu sisi, mereka sangat ingin diakui, dihargai, dan dicintai. Namun di sisi lain, ketika benar-benar mendapat pujian atau kasih sayang, mereka justru meragukannya. Mereka mungkin berpikir: “Dia cuma basa-basi.” “Dia belum benar-benar kenal aku.” Konflik batin ini membuat mereka sulit merasa puas secara emosional.

3. Takut Ditinggalkan (Fear of Abandonment)

Ketakutan ini sering muncul secara intens, bahkan dalam hubungan yang sebenarnya stabil. Hal-hal kecil bisa memicu kecemasan besar, seperti:
* Pesan yang tidak segera dibalas
* Perubahan nada bicara
* Jarak fisik sementara
Mereka bisa menjadi sangat sensitif terhadap tanda-tanda penolakan.

4. Terlalu Mandiri secara Emosional

Sebagian orang bereaksi dengan menjadi sangat mandiri, bahkan berlebihan. Mereka belajar sejak kecil bahwa mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Mereka mungkin berkata: “Aku nggak butuh siapa-siapa.” Padahal, di dalamnya ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

5. Sulit Mengekspresikan Perasaan

Karena tidak terbiasa mendapatkan ruang aman untuk mengekspresikan emosi saat kecil, mereka sering kesulitan:
* Mengungkapkan cinta
* Menyampaikan kebutuhan
* Mengakui kesedihan atau luka
Perasaan cenderung dipendam atau bahkan tidak dikenali dengan jelas.

6. Cenderung Overthinking dalam Hubungan

Mereka sering menganalisis berlebihan setiap interaksi:
* “Kenapa dia bilang begitu?”
* “Apa aku salah?”
* “Dia sebenarnya masih peduli nggak?”
Overthinking ini berasal dari ketidakamanan emosional yang sudah terbentuk sejak lama.

7. Menarik Diri atau Justru Terlalu Melekat

Menariknya, ada dua pola ekstrem yang bisa muncul:
* Avoidant (menjauh): takut terluka, jadi menghindari kedekatan
* Anxious (melekat): takut kehilangan, jadi terlalu bergantung
Keduanya berasal dari akar yang sama: kebutuhan cinta yang tidak terpenuhi.

8. Rendah Diri dan Merasa Tidak Layak Dicintai

Tanpa kasih sayang yang konsisten di masa kecil, seseorang bisa tumbuh dengan keyakinan bawah sadar seperti:
* “Aku tidak cukup baik.”
* “Aku tidak pantas dicintai.”
Keyakinan ini bisa memengaruhi pilihan pasangan, karier, dan cara mereka memperlakukan diri sendiri.

9. Berusaha Menyenangkan Orang Lain secara Berlebihan (People Pleasing)

Karena ingin mendapatkan penerimaan, mereka sering:
* Mengorbankan kebutuhan sendiri
* Sulit berkata “tidak”
* Takut mengecewakan orang lain
Mereka percaya bahwa cinta harus “didapatkan” dengan cara memenuhi ekspektasi orang lain.

Penutup: Luka Lama Bisa Disembuhkan

Penting untuk dipahami bahwa menunjukkan perilaku-perilaku di atas bukanlah tanda kelemahan, melainkan hasil dari pengalaman hidup yang membentuk seseorang. Kabar baiknya, psikologi juga menunjukkan bahwa pola ini bisa diubah. Dengan:
* Kesadaran diri
* Terapi atau konseling
* Lingkungan yang suportif
* Hubungan yang sehat
Seseorang dapat belajar membangun kembali rasa aman dan memahami bahwa mereka layak dicintai—tanpa syarat.

Masa lalu memang membentuk kita, tetapi tidak harus menentukan masa depan kita.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *