Bisnis  

Tradisi Ngideri Cermee Bondowoso Bertahan 5 Abad, 11 Pria Berkeliling Desa Tanpa Sepatu

Tradisi Ngideri di Bondowoso yang Berusia Ratusan Tahun

Di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terdapat sebuah tradisi unik yang telah berlangsung selama lebih dari lima abad dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ngideri, yang digelar setiap malam Jumat (Kamis malam) pada bulan Syawal. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi Selametan Gugur Gunung yang resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI).

Pelaksanaan Ritual Ngideri

Heri Kusdaryanto, Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, menjelaskan bahwa ritual Ngideri dilaksanakan selama tujuh minggu berturut-turut, yaitu setiap malam Jumat pada bulan Syawal. “Pelaksanaannya dimulai setiap malam Jumat selama tujuh minggu berturut-turut. Jadi tujuh Malam Jum’at pada bulan Syawal,” jelasnya.

Ritual ini dimulai dengan upacara doa bersama di makam Raden Imam Asy’ari, seorang tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut. Setelah itu, 11 pria warga lokal akan berkeliling desa tanpa alas kaki sambil membawa alat musik khusus seperti klonengan, tong-tong kecil, dan talam (nampan). Rute perjalanan dimulai dari makam Raden Imam Asy’ari di Desa Ramban Kulon, kemudian menuju Ramban Wetan, Suling Kulon, dan kembali lagi ke titik awal.

Struktur Peserta dan Alat Musik

Menurut Heri, rombongan terdiri dari 11 orang; 10 pria bertugas memegang alat musik, sedangkan satu orang lainnya adalah juru kunci. Meskipun warga meyakini tradisi ini ada sejak tahun 1500-an, pihak dinas menduga usianya jauh lebih tua. Hal ini terlihat dari kemiripan alat musiknya dengan lonceng atau klonengan pada masa Buddha. “Masuknya Islam di sini tidak terjadi secara instan, melainkan berakulturasi dengan adat istiadat yang sudah ada,” tuturnya.

Keunikan Ritual

Uniknya, meski berjalan kaki tanpa alas sejak pukul 20.00 hingga 01.00 WIB, telapak kaki para peserta tidak ada yang terluka. Menurut penuturan warga, rute saat ini sebenarnya lebih pendek dibanding masa lampau. Pada era Majapahit, para peserta konon harus berkeliling hingga ke kawasan Surabasah hingga Panarukan, Situbondo.

Peserta Ngideri pun tidak sembarangan; mereka adalah keturunan dari 11 orang asli secara turun-temurun. Jika salah satu anggota sudah sepuh, perannya akan digantikan oleh keturunannya.

Keyakinan Masyarakat

Kepercayaan masyarakat setempat terhadap ritual ini sangat kuat. Jika tradisi tidak dilaksanakan atau ada rukun yang terlewat seperti syarat kambing yang harus berwarna cokelat muda menyerupai kijang, warga percaya akan terjadi musibah atau kejadian di luar nalar (bala).

Pengakuan Budaya

Sebagai informasi, pada Januari 2026, tradisi Selametan Gugur Gunung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) bersama dua kekayaan budaya Bondowoso lainnya, yaitu Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *