Perang di Timur Tengah dan Kembali ke Akar: Persoalan Syiah dan Sunni
Di tengah perang yang sedang berlangsung antara Amerika, Israel, dan Iran, muncul suara-suara yang tak kalah penting dari tempat yang jauh lebih sederhana. Suara ini lahir dari warung kopi, grup WhatsApp, dan ruang-ruang diskusi kecil yang sering kali lebih panas dari ruang sidang PBB. Percakapan melompat dari isu misil dan Selat Hormuz ke soal lama yang selalu siap menyala: Syiah dan Sunni.
Setiap konflik geopolitik di Timur Tengah selalu membawa “bonus konflik” di kepala umat Islam. Masalah ini tidak pernah benar-benar selesai sejak berabad silam. Di satu sisi, suara pembela Sunni semakin keras. Mereka berdiri di atas argumen teologis yang sudah lama beredar, dengan alasan menjaga kemurnian akidah. Tuduhan mereka klasik, tetapi tetap ampuh: Syiah mengkafirkan para sahabat utama dan keluarga Nabi.
Tuduhan ini seperti lagu lama yang selalu diputar ulang setiap kali suhu politik naik. Bagi generasi yang belum sempat memeriksa ulang sumbernya, wacana ini terdengar baru. Diskusi jadi ramai, dan tak pernah berujung.
Di sisi lain, para pendukung Syiah tidak tinggal diam. Mereka menolak tuduhan tersebut dengan keyakinan yang sama kuatnya. Mereka menegaskan bahwa Islam mereka tidak berbeda: kiblat yang sama, syahadat yang sama, Al-Qur’an yang sama. Bagi mereka, tuduhan itu adalah warisan polemik sejarah yang terus dipelihara, bukan kenyataan utuh dari praktik keagamaan mereka hari ini.
Dialog berubah menjadi dua monolog panjang yang berjalan sejajar, tetapi tak pernah benar-benar bersentuhan. Lalu, di tengah riuh itu, muncul suara yang terasa ganjil, bahkan bagi sebagian orang mungkin “tidak nyambung”. Suara itu datang dari jantung dunia Sunni sendiri, dari seorang ulama Saudi, Muhammad Abdul Karim al-Issa.
Posisi yang Tak Sembarangan
Al-Issa adalah Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami. Jabatan ini bukan sekadar posisi administratif, melainkan simpul pengaruh global yang menghubungkan otoritas keagamaan, diplomasi internasional, dan arah wacana Islam dunia. Sejak masa lalu, organisasi ini menjadi ruang gerak tokoh besar seperti Mohammad Natsir melalui jejaring Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia. Bahkan ia turut mewarnai literatur keislaman di Indonesia, termasuk penerbitan buku-buku kritis terhadap Syiah.
Maka, berdiri di posisi itu bukan sekadar soal ilmu, tetapi juga soal keseimbangan, keberanian, dan kemampuan berjalan di atas tali yang tegang.
Di Saudi Arabia sendiri, Al-Issa bukan figur yang lahir dari ruang hampa. Ia pernah menjadi Menteri Kehakiman, kemudian tampil sebagai wajah baru diplomasi keagamaan Saudi yang lebih terbuka. Ia aktif dalam dialog lintas agama, mengunjungi situs Auschwitz sebagai simbol penolakan terhadap kekejaman kemanusiaan, berbicara di sinagoga, bertemu para rabi, dan mendorong kerja sama lintas iman.
Pandangan yang Menyeimbangkan
Di saat sama, ia tetap berdiri dalam tradisi Sunni yang kuat, tanpa kehilangan pijakan identitasnya. Ini kombinasi yang tak mudah, karena setiap langkah selalu diawasi dari dua arah: dari dalam yang khawatir kehilangan kemurnian, dan dari luar yang menuntut keterbukaan.
Dalam konteks Syiah, pandangan al-Issa justru terasa seperti upaya merapikan rumah yang sudah lama penuh prasangka. Ia membedakan dengan tegas antara “mazhab” sebagai hasil dialektika ilmu, dengan “sektarianisme” sebagai produk politik. Ia menyatakan bahwa Syiah adalah bagian dari umat Islam, saudara dalam lingkaran yang sama, selama masih bersaksi pada syahadat dan menghadap kiblat yang satu.
Namun, ia tidak menutup mata terhadap praktik politik Iran yang dinilainya merusak stabilitas kawasan. Di sinilah letak keseimbangannya: mengkritik tanpa menggeneralisasi, membedakan tanpa memecah.
Lebih jauh, al-Issa juga menunjukkan penghargaan terhadap tradisi keilmuan Syiah. Ia mengakui mengenal dan bahkan mengambil manfaat dari karya-karya tokoh seperti Muhammad Baqir al-Sadr dan Murtadha Muthahhari. Ia memuji kapasitas fikih dan ushul mereka, sesuatu yang jarang diucapkan secara terbuka oleh tokoh dari arus utama Sunni.
Dialog yang Masih Mungkin
Pertemuan-pertemuannya dengan ulama Iran, termasuk dengan Ayatollah Al-Arafi, menunjukkan satu hal penting: bahwa dialog masih mungkin, bahkan di tengah ketegangan geopolitik. Dalam forum-forum internasional, ia terus mendorong pendekatan taqrib, mendekatkan mazhab, bukan mencairkan identitas, tetapi mengelola perbedaan dengan akal sehat.
Ia juga berulang kali mengingatkan bahwa ekstremisme tidak punya mazhab tunggal; ia bisa muncul di Sunni maupun Syiah, dan hanya bisa dilawan dengan moderasi yang berakar pada nilai Islam itu sendiri.
Melihat Ulang Peta Besar
Di titik ini, kita seperti diajak melihat ulang peta besar. Bahwa mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperdebatkan perbedaan, sampai lupa membedakan mana wilayah ilmu dan mana wilayah politik. Bahwa mazhab bisa menjadi jalan memahami agama, tetapi juga bisa diseret menjadi alat kekuasaan. Dan ketika itu terjadi, yang rusak bukan hanya hubungan antar kelompok, tetapi juga cara kita memandang Islam itu sendiri.
Perang di Timur Tengah mungkin akan berhenti atau berubah bentuk, tetapi percakapan tentang Syiah dan Sunni akan terus hidup. Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: apakah kita ingin mewarisinya sebagai konflik, atau sebagai khazanah?
Karena pada akhirnya, umat ini terlalu luas untuk disempitkan oleh satu tafsir, tetapi juga terlalu berharga untuk terus dibiarkan retak oleh prasangka yang tak pernah diperiksa ulang.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












