
Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, yang berlangsung pada hari Sabtu (11/04), dibuka oleh gencatan senjata selama dua pekan. Namun, keputusan ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan kelompok garis keras Iran.
Beberapa hari sebelumnya, kelompok garis keras Republik Islam Iran memasang spanduk besar di salah satu persimpangan paling sibuk di Teheran. Isi spanduk tersebut menyatakan bahwa “Selat Hormuz akan tetap ditutup”. Spanduk itu disebut sebagai pernyataan tegas dari Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang belum pernah terlihat di depan publik sejak ia menjabat bulan lalu.
Namun, spanduk tersebut kemungkinan harus diturunkan setelah Iran menyetujui gencatan senjata serta perundingan damai di Pakistan. Padahal, sebelumnya Iran secara berkali-kali menyatakan tidak akan menerima gencatan senjata sementara maupun perundingan damai.
Gencatan senjata dinilai sebagai “hadiah untuk musuh” oleh kelompok garis keras Iran. Mereka merasa semakin percaya diri setelah Iran berhasil menutup Selat Hormuz serta menggempur negara-negara Teluk dengan serangan rudal dan drone. Kelompok ini tetap bersikeras bahwa Iran seharusnya melanjutkan perang karena berada dalam posisi unggul melawan AS dan Israel.
Laporan dari Teheran menyebutkan bahwa kelompok garis keras membakar bendera AS dan Israel setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata pada Selasa (07/04). Sekelompok pria dari milisi sukarelawan Basij, yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bahkan berbaris menuju Kementerian Luar Negeri Iran pada tengah malam untuk menentang keputusan tersebut.
Pemimpin redaksi surat kabar garis keras Kayhan menulis bahwa menyetujui gencatan senjata merupakan “hadiah bagi musuh”. Alasannya, gencatan senjata memberi kesempatan bagi AS dan Israel untuk mengisi kembali persenjataan dan melanjutkan perang.
Keputusan untuk menerima permintaan gencatan senjata dan perundingan damai dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC)—lembaga pengambil keputusan tertinggi Iran di bawah Pemimpin Tertinggi. Lembaga ini saat ini dipimpin oleh Presiden moderat Masoud Pezeshkian.
SNSC menyatakan bahwa jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dibuka selama dua pekan sebagai imbalan atas gencatan senjata dari AS dan Israel, sementara Washington dan Teheran terlibat dalam perundingan.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa China memainkan peran penting dalam meyakinkan Iran untuk menyetujui permintaan Pakistan selaku mediator.
Gencatan senjata sangat dibutuhkan oleh warga Iran yang mengalami kehancuran besar selama perang 40 hari tersebut. Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas, menurut para aktivis hak asasi manusia. Presiden AS Donald Trump sempat mengancam korban jiwa akan bertambah.
Bahkan di kalangan kelompok garis keras, mulai muncul kesadaran bahwa jalan keluar harus segera ditemukan sebelum infrastruktur vital Iran mengalami kerusakan yang lebih parah.
Hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata, Ketua Mahkamah Agung Iran yang berhaluan keras, Gholamhossein Mohseni Ejei, mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah Iran bahwa negara tersebut tengah mencari cara untuk mengakhiri perang sambil tetap mempertahankan posisi unggulnya.
Pernyataan itu pada dasarnya mengulang apa yang telah ditulis oleh mantan Menteri Luar Negeri Iran yang berhaluan moderat, Mohammad Javad Zarif, dalam sebuah artikel yang dipublikasi Foreign Affairs beberapa hari sebelumnya.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) menggambarkan kesepakatan gencatan senjata sebagai kemenangan bagi Iran, seraya menyerukan para pendukung rezim untuk tetap bersatu. Menurut media Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dijadwalkan memimpin delegasi Iran dalam perundingan dengan AS di Islamabad, dengan melakukan negosiasi langsung dengan Wakil Presiden AS JD Vance.
Langkah ini menandai penyimpangan lain dari kebijakan garis keras pada masa sebelumnya. Negosiasi langsung dengan AS selama ini selalu dilarang oleh mantan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal dunia dalam serangan Israel ke kediamannya pada 28 Februari lalu. Kontak langsung ini tampaknya telah disetujui oleh pemimpin baru, yang merupakan putra Khamenei.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan, Iran dan AS masih jauh dari perdamaian yang berkelanjutan. Perang dapat kembali pecah apabila perundingan tersebut menemui jalan buntu. Kemungkinan ini justru diharapkan oleh sebagian warga Iran yang mendukung perang. Mereka memandang konflik tersebut sebagai cara untuk menumbangkan apa yang mereka anggap sebagai rezim yang keji.
Namun bagi banyak warga lainnya, gencatan senjata ini memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan dari kematian dan kehancuran yang selama ini menyelimuti kehidupan mereka.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












