Peran Jepang dalam Menghadapi Ancaman Energi Global
Krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menimbulkan ancaman besar bagi Jepang, negara yang sangat bergantung pada impor minyak mentah. Dalam kondisi normal, Jepang mengimpor sekitar 2,36 juta barel minyak mentah per hari, dengan sebagian besar pasokan melalui Selat Hormuz. Kini, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan semakin meningkat, terutama setelah munculnya ancaman dari konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
PM Jepang Menekankan Pentingnya Deeskalasi Konflik Timur Tengah
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, secara aktif berupaya untuk mempercepat deeskalasi konflik Timur Tengah. Dalam pembicaraan telepon selama 25 menit dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Takaichi menekankan pentingnya menjaga keamanan navigasi dan membuka jalur aman bagi kapal-kapal internasional di Selat Hormuz.
“Selat Hormuz adalah jalur vital logistik global dan milik publik internasional,” ujar Takaichi saat berbicara kepada wartawan. Ia juga menyerukan akses segera bagi kapal-kapal dari semua negara, termasuk armada terkait Jepang. Kedua pemimpin sepakat untuk terus berkomunikasi guna menciptakan solusi jangka panjang.
Di sisi lain, Jepang menyambut baik gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sebagai langkah positif. Takaichi berharap adanya kesepakatan diplomatik permanen untuk mengakhiri konflik.
Kapal Tanker Jepang Terjebak di Teluk Persia
Sebanyak 42 kapal tanker Jepang masih tertahan di Teluk Persia akibat blokade yang diberlakukan oleh Iran. Pihak Iran menyatakan akan menghentikan operasi militernya jika serangan terhadapnya dihentikan, serta membuka jalur terbatas di Selat Hormuz melalui koordinasi militer.

Meskipun mengecam blokade tersebut, pemerintahan Takaichi tetap menjaga hubungan diplomatik Tokyo-Teheran, sambil berkoordinasi erat dengan sekutu keamanannya, Washington. Saat ini, sebanyak 42 kapal terkait Jepang masih tertahan di Teluk Persia, menunggu jaminan keamanan lebih lanjut. Bahkan jika blokade dicabut segera, diperlukan sekitar 20 hari bagi kapal-kapal tanker tersebut untuk sampai ke pelabuhan Jepang.
Dilaporkan, 3 kapal afiliasi Jepang telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat sejak 3 April 2026, termasuk kapal LPG Green Asha.
Upaya diversifikasi pasokan dari Amerika dan wilayah lain menghadapi kendala besar. Pejabat pemerintah mengakui bahwa menutup seluruh kekurangan tanpa minyak Timur Tengah adalah mustahil.
Sementara itu, rute alternatif pun tidak bebas risiko. Jalur melalui Laut Merah terancam serangan oleh kelompok bersenjata Houthi pro-Iran di Yaman. Opsi yang lebih aman, yaitu mengitari Tanjung Harapan di Afrika. Namun, rute tersebut akan memperpanjang waktu pelayaran dan dapat memicu kekurangan kapal tanker global.
Lonjakan Harga Energi yang Membebani Fiskal Jepang
Para pejabat Jepang memperingatkan, meskipun pertempuran berakhir, pihaknya khawatir Teheran dapat memberlakukan persyaratan baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, seperti biaya transit.

Secara struktural, Jepang lebih siap dibanding krisis 1970-an. Minyak kini hanya menyumbang 7 persen dari pembangkit listrik, turun dari 60 persen. Negara ini juga memiliki cadangan lebih dari 200 hari. Namun, ketergantungan ini bergeser ke gas alam cair (LNG), yang menghasilkan sebagian besar listriknya.
Serangan Iran terhadap fasilitas LNG di Qatar pada Maret lalu, memicu kekhawatiran baru. Mengingat harga kontrak LNG sering kali terkait dengan harga minyak, masyarakat Jepang bersiap menghadapi lonjakan tagihan listrik dan inflasi rumah tangga dalam waktu dekat.
Di tengah krisis, kebijakan fiskal pemerintah justru menuai kritik tajam. Bukannya membatasi konsumsi seperti negara Asia lainnya, Tokyo justru menggelontorkan subsidi besar untuk menekan harga bensin di angka 170 yen (sekitar Rp18.200) per liter. Program ini menelan biaya sekitar 500 miliar yen (Rp53,6 triliun) per bulan, yang dinilai membebani fiskal dan bertentangan dengan upaya penghematan energi.












