Orasi Ilmiah tentang Kompetensi Kultural dalam Pendidikan Keperawatan
Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), Enie Novieastari, memberikan orasi ilmiah dengan tema “Kompetensi Kultural sebagai Transformasi Pendidikan Tinggi Keperawatan di Indonesia: Merawat dalam Keberagaman”. Dalam pidatonya, ia menyoroti pentingnya memahami realitas keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Negara ini memiliki lebih dari 1.200 suku dan 694 bahasa daerah.
Keberagaman tersebut, menurut Enie, bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi utama dalam menyediakan layanan kesehatan yang bermartabat. Di era menuju Indonesia Emas 2045, penguasaan teknologi saja tidak cukup. Dunia keperawatan juga membutuhkan peningkatan literasi manusia (humanities).
“Pendidikan tinggi keperawatan tidak lagi cukup hanya menyiapkan lulusan yang kompeten secara klinis dan teknis, tetapi juga perawat yang mampu merawat manusia secara utuh,” ujar Enie pada Senin (6/4/2026).
Enie menegaskan bahwa pengabaian aspek budaya dalam pelayanan kesehatan dapat berdampak negatif. Hal ini bisa berupa hambatan komunikasi atau penurunan kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan. Akibatnya, masyarakat sering kali lebih memilih penyembuh tradisional sebagai alternatif.
Dalam pemaparannya, Enie merujuk pada model Campinha-Bacote yang menggambarkan kompetensi kultural sebagai proses berkelanjutan, bukan hasil akhir. Model ini mencakup lima komponen utama, yaitu kesadaran budaya, pengetahuan budaya, keterampilan budaya, interaksi budaya, dan hasrat budaya.
Selain itu, ia juga memperkenalkan konsep “cultural competemility”, yakni sinergi antara kompetensi dan kerendahan hati budaya. Gagasan ini dinilai relevan baik di tingkat nasional maupun global, terutama dalam diskursus pendidikan keperawatan transkultural. Konsep ini membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang inklusif sekaligus mengurangi disparitas layanan.
Kontribusi dan Penghargaan Enie Novieastari
Dalam pengembangan keilmuan, Enie aktif menghasilkan berbagai karya ilmiah dan inovasi di bidang keperawatan. Beberapa karyanya termasuk buku Kurikulum Pendidikan Ners Indonesia Tahun 2024 dan aplikasi Caring dalam Praktik Keperawatan Indonesia: Tangguh Denara Jaya (2023), serta sejumlah produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Atas kontribusinya, Enie menerima beberapa penghargaan, seperti Satyalancana Karya Satya X Tahun pada 2006, Satyalancana Karya Satya XX Tahun pada 2018, serta Penghargaan Kategori Inovasi HKI dari UI pada 2022.
Enie menamatkan pendidikan Sarjana Keperawatan (S.Kp.) di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1991. Ia kemudian memperoleh gelar Master of Science in Nursing (M.S.N.) dari School of Nursing, The Catholic University of America pada 1996. Selain itu, ia juga meraih gelar Doktor Ilmu Keperawatan (Dr.) di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia pada 2014.
Saat ini, Enie menjadi Ketua Bidang Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Keperawatan di Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) periode 2021–2025.
Prosesi Pengukuhan yang Khidmat
Prosesi pengukuhan Enie berlangsung khidmat dan dihadiri oleh sivitas akademika Universitas Indonesia serta tamu undangan. Dengan pengukuhan ini, Enie menjadi Guru Besar ke-8 FIK UI yang dikukuhkan Universitas Indonesia pada tahun 2026 dari total 475 Guru Besar aktif di UI.












