Genangan Air yang Mengancam Aktivitas Sekolah
Genangan air yang terus berada di lapangan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Kota Tangerang Selatan hingga awal April 2026 ini menjadi perhatian serius bagi seluruh lingkungan sekolah. Genangan tersebut tidak hanya mengganggu kegiatan siswa, tetapi juga memengaruhi proses belajar mengajar dan kondisi lingkungan sekitar.
Air tampak mengendap dari ujung ke ujung lapangan, menciptakan kesan seperti kolam besar yang tak kunjung surut sejak pertama muncul pada pertengahan Desember 2025. Lapangan yang seharusnya menjadi ruang aktivitas siswa justru tampak seperti kolam buatan berwarna hijau. Permukaan air itu diam dan genangan tersebut diperkirakan membentang luas, mencapai sekitar 300 meter di area lapangan sekolah.
Genangan air bahkan merambat lebih jauh, sekitar 100 meter ke arah jalan yang biasa dilalui siswa menuju kantin di bagian belakang sekolah, menutup akses yang dulu ramai oleh langkah dan canda. Tidak ada lagi riuh permainan atau suara peluit olahraga. Lapangan itu sunyi, hanya menyisakan bayangan aktivitas yang dulu hidup.
Warna hijau pada air yang menggenang perlahan memberi kesan kusam. Para siswa berusaha menjalani sekolahnya seperti biasa. Mereka hanya bisa berlalu-lalang di pelataran depan kelas, area yang sedikit lebih tinggi dan terbebas dari genangan. Langkah mereka terbatas, bergerak dalam ruang sempit. Sesekali pandangan mereka mengarah ke lapangan yang tak lagi bisa dipijak.
Di tengah genangan yang tak kunjung surut, aktivitas siswa terasa ikut tertahan, berjalan pelan, seakan menunggu keadaan kembali seperti semula.
Kondisi yang Berbeda dari Banjir-Banjir Sebelumnya
Humas SMAN 4 Tangerang Selatan, Siti Rukiah, mengatakan, kondisi ini berbeda dari banjir-banjir sebelumnya. Jika biasanya air hanya menggenang singkat, kali ini genangan bertahan berbulan-bulan tanpa pernah benar-benar kering.
“Biasanya paling 15 menit surut dan bersih, tapi dari pertengahan Desember lalu sampai sekarang tidak pernah surut,” kata Siti Rukiah, Kamis (2/4/2026).
Genangan yang menetap itu membuat berbagai aktivitas sekolah lumpuh. Lapangan yang seharusnya digunakan untuk upacara, olahraga, dan kegiatan siswa kini tidak bisa difungsikan sama sekali. Upacara bendera yang rutin digelar setiap Senin kini terpaksa terhenti. Sejak Januari 2026, kegiatan tersebut nyaris tidak pernah dilakukan karena kondisi lapangan yang tidak memungkinkan.
Tak hanya upacara, kegiatan olahraga siswa juga ikut terdampak. Lapangan yang tergenang membuat siswa tidak memiliki ruang untuk beraktivitas fisik sebagaimana mestinya. “Kegiatan olahraga, futsal anak-anak, tidak terlaksana,” katanya.
Pada jam istirahat, siswa juga kehilangan ruang bermain. Alih-alih beraktivitas di luar kelas, mereka hanya bisa melihat genangan air yang memenuhi area sekolah.
Kondisi yang Memburuk dan Upaya Penanganan
Kondisi sempat memburuk pada Januari hingga Februari 2026, ketika air mulai masuk ke dalam kelas. Situasi tersebut memaksa pihak sekolah menghentikan pembelajaran tatap muka sementara. “Saat itu kita sampai melakukan PJJ karena air sudah masuk ke kelas dan akses juga tergenang,” jelasnya.
Siti telah melaporkan kondisi tersebut ke berbagai instansi terkait. Namun hingga kini, upaya yang dilakukan baru sebatas peninjauan lapangan tanpa tindak lanjut nyata. Hanya survei yang dilakukan oleh sejumlah tim, yang bahkan datang langsung melakukan survei ke lokasi lebih dari satu kali untuk melihat kondisi genangan yang terus bertahan.
Meski demikian, hasil dari survei tersebut belum berujung pada langkah penanganan. Sekolah belum melihat adanya realisasi program atau perbaikan yang dijanjikan. Dalam beberapa kesempatan, pihak sekolah mengaku sempat menerima wacana solusi dari pihak terkait. Namun rencana tersebut belum juga diwujudkan hingga saat ini.
“Pernah dibilang nanti akan dibuatkan tandon, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” jelas Siti.
Upaya Mandiri dan Keprihatinan Lingkungan Sekolah
Sambil menunggu kepastian, sekolah hanya bisa bertahan dengan kondisi yang ada. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski berbagai kegiatan siswa terganggu akibat genangan tersebut. Upaya mandiri sempat dilakukan, seperti penyedotan air, namun hasilnya tidak bertahan lama. Air kembali menggenang setiap kali hujan turun, memperlihatkan bahwa persoalan utama belum terselesaikan.
Situasi ini menimbulkan keprihatinan di lingkungan sekolah. Selain mengganggu aktivitas, genangan juga berpotensi membahayakan siswa dan menurunkan kualitas lingkungan belajar. Ia berharap adanya langkah nyata dari pemerintah agar persoalan ini tidak terus berlarut.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












