Kehadiran Wakil Presiden di Kota Kupang: Tanda Harapan dan Kesadaran Bersama
Kita mulai dengan sebuah kejujuran, Mas Gibran. Rasa-rasanya kita tidak usah bercerita panjang lebar tentang geografi Indonesia, tentang luasnya tanah air, tentang seberapa jauh jarak yang harus ditempuh seorang Wakil Presiden demi cinta terhadap rakyat dan bangsa.
Sebab pengorbanan itu sudah terbaca dari jadwal perjalanan, dari lelah yang mungkin tidak sempat diucapkan, dari senyum yang tetap terpampang walau tubuh sudah lelah diterjang gelombang udara dan jalanan berbatu.
Fakta bahwa Anda hadir pada Senin, 6 April 2026, di Bundaran PU Kota Kupang untuk melepas Pawai Paskah Akbar, adalah sebuah pernyataan yang tidak perlu kata-kata tambahan. Itu sudah cukup sebagai bukti bahwa pemimpin bangsa ini masih ingat bahwa Indonesia tidak berhenti di Jakarta; Indonesia berjalan sampai ke ujung timur, sampai ke tanah yang disapa angin savana dan diguyur matahari sepanjang tahun.
Tapi izinkan saya, Mas Gibran, berbicara sebagai seorang pendeta yang setiap hari mendengar keluh kesah warga, yang setiap minggu melihat langsung wajah-wajah yang berjuang di antara hidup dan mati.
Ada yang unik dari Nusa Tenggara Timur, ada yang unik dari Kota Kupang yang menjadi daya tarik. Namun boleh jadi itu terlalu subyektif. Karena apa yang menarik bagi seorang wisatawan belum tentu menarik bagi seorang pemimpin yang harus melihat dari sudut kebijakan.
Saya akan coba jujur: NTT, Kota Kupang adalah rumah toleransi yang sesungguhnya. Di sini, gereja berdiri berdampingan dengan masjid, pawai Paskah berjalan aman karena dihormati oleh semua agama. Tapi di balik tembok-tembok gedung yang mulai menjulang, di belakang mal-mal yang mulai ramai, masih ada gambaran kemiskinan yang tak bisa disembunyikan.
Ada jeritan anak-anak Pekerja Migran Indonesia yang ditinggal orang tuanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ada kebingungan masa depan yang melilit kepala para pemuda yang tamat sekolah namun tak tahu ke mana hendak melangkah, dan ada kasak-kusuk P3K NTT yang bingung dengan masa depannya.
Di sinilah kehadiran Mas Gibran, menjadi penting bukan sebagai politisi, bukan sebagai pembawa program, tetapi sebagai gambaran bahwa pemimpin hadir bagi semua, bahwa masyarakat hanya berbeda kulit tetapi sama di mata bangsa.
Allah yang Turut Menderita
Saya seorang pendeta, Mas Gibran. Maka saya akan melihat kehadiran Mas Gibran dari dimensi yang lain: dimensi Paskah itu sendiri. Sebab Paskah memang memiliki dimensi kuasa. Namun perlu kita ingat bersama, sejak awal kisah sengsara, dari penangkapan di Getsemani, pengadilan yang tidak adil, penyiksaan, hingga penyaliban pada Jumat Agung, semua itu menghadirkan dimensi ketidakadilan yang telanjang.
Ada demonstrasi kuasa manusia yang dibalut dengan legitimasi agama. Imam-iman kepala menggunakan kitab suci untuk membenarkan pembunuhan. Gubernur Romawi menggunakan kekuasaan politik untuk mencuci tangan. Dan di tengah semua hiruk-pikuk kuasa itu, Allah memilih untuk hadir dengan cara yang tidak terduga.
Teolog Asia terkemuka, Choan-Seng Song, dengan beraninya mengatakan bahwa teologi kemuliaan telah menyerah pada teologi penderitaan. Ia menawarkan sebuah visi tentang “Allah yang turut menderita,” menolak gagasan tentang Allah yang dingin dan tidak tersentuh oleh realitas penderitaan manusia. Di kayu salib, Allah tidak hanya diam; Allah hadir secara radikal dalam pribadi Yesus yang tersalib.
Seruan Yesus, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” bukanlah seruan keputusasaan orang yang ditinggalkan, melainkan seruan dari Allah sendiri yang memasuki puncak keterasingan manusia.
Choan-Seng Song menegaskan bahwa Allah yang turut menderita adalah inti dari iman Kristen; Allah tidak tinggal diam di surga, melainkan terlibat langsung dalam pergumulan dan kesakitan ciptaan-Nya.
Kuasa yang Membuka Kubur
Dimensi Paskah menampilkan kuasa yang membuka mata semua orang. Batu kubur terbuka bukan karena ada yang menggulingkannya dengan kekuatan otot, tetapi karena Allah bangkit melampaui kematian. Allah mengenakan tubuh baru, tubuh kebangkitan yang masih menyisakan bekas luka. Dan itulah yang membuatnya begitu nyata, Mas Gibran. Bekas luka masih ada, tetapi harapan baru datang.
Para murid yang berlari ketakutan, yang menyangkal, yang menghilang, mereka semua mengalami kuasa yang benar-benar mengubah: kuasa rekonsiliasi. Paskah menunjukkan penerimaan kembali Allah bagi mereka yang memilih jalan pengkhianatan. Petrus yang tiga kali menyangkal dijamu dengan pertanyaan tiga kali: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Bukan penghakiman, tetapi pemulihan. Ini adalah kuasa kesetaraan yang seolah membangkitkan memori akan ucapan Yesus: “Aku menyebut kamu sahabat.” Bukan lagi hamba, bukan lagi bawahan, bukan lagi rakyat yang harus tunduk, tetapi sahabat yang sederajat di hadapan Allah yang bangkit.
Mereka yang Selama Ini Tak Terlihat
Sebagai bangsa, kita sedang belajar untuk melihat mereka yang selama ini tak terlihat. Gemma Tulud Cruz, seorang teolog feminis dari Filipina, mengingatkan kita tentang realitas pahit di balik gemerlap ekonomi global: para migran. Cruz, yang menekuni teologi migrasi dan etika sosial Katolik, menyoroti bagaimana sistem ekonomi global kerap menjadikan manusia sebagai komoditas, terutama para pekerja migran yang meninggalkan tanah air demi secercah harapan.
Jeritan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang ditinggal orang tuanya adalah salah satu wujud han kolektif yang perlu kita tangisi bersama. Ketika Paskah berbicara tentang pemulihan, ia berbicara tentang pemulangan yang aman dan bermartabat bagi para pekerja kita. Ini adalah panggilan untuk mengakhiri siklus ekstraksi di mana daerah-daerah seperti NTT hanya dilihat sebagai pemasok tenaga kerja murah, tanpa pernah menikmati hasil dari keringat mereka sendiri.
Pawai Paskah di Kupang bukan sekadar pawai. Ia adalah kemeriahan yang datang dari gerbang selatan Indonesia, memberi pesan bagi seluruh bangsa tentang indahnya keharmonisan. Toleransi di NTT bukan slogan; ia adalah keseharian yang hidup. Di sini, Paskah dirayakan dengan sukacita yang melibatkan semua elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama. Itu adalah wajah Indonesia yang seharusnya bukan wajah yang saling curiga dan saling menyingkirkan, tetapi wajah yang merayakan kebersamaan di tengah perbedaan.
Paskah yang Menyentuh yang Terluka
Untuk itu, Ivone Gebara, seorang teolog feminis Brasil yang karyanya berfokus pada penderitaan, penebusan, dan pengalaman perempuan, menawarkan perspektif yang sangat relevan. Gebara menekankan pentingnya mendengarkan mereka yang paling menderita dan terpinggirkan. Paskah yang sejati, menurutnya, tidak bisa hanya dirayakan di gedung gereja yang megah, tetapi harus dirasakan di pelosok-pelosok di mana kemiskinan ekstrem, stunting, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta peningkatan kasus HIV/AIDS menjadi keseharian yang pahit.
Ketika seorang anak di Ngada meninggal karena tak mampu membeli alat tulis, ketika seorang ibu harus bekerja sebagai buruh migran dan pulang dalam peti mati, ketika seorang remaja harus bergulat dengan status HIV-nya, di sanalah Paskah harus berbicara. Paskah tanpa transformasi sosial hanyalah sebuah ritual kosong.
Mas Gibran, Faktanya Wakil Presiden termuda adalah representasi suara bonus demografi, kaum milenial dan Zelenial. Mas memiliki ruang yang lebih besar untuk mendengar dan menyuarakan. Maka perayaan Paskah yang memiliki dimensi kuasa transformasi ini semoga memberi harapan nyata bagi soal-soal kemiskinan ekstrem, stunting yang tak kunjung usai, buruh migran yang pulang dalam peti mati, kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih marak di NTT, serta peningkatan kasus HIV/AIDS yang mengancam generasi muda.
Jejak kuasa Paskah, kuasa yang membuka kubur, kuasa yang membarui hidup, kuasa yang mendamaikan yang terasing, semoga hadir tanpa harus menunggu perayaan Paskah tahun depan. Semoga peristiwa ini tidak hanya menjadi memori indah yang usai pawai lalu dilupakan tanpa aksi.
Karena pada akhirnya, Mas Gibran, pertanyaan Paskah untuk Anda dan untuk kita semua bukanlah: “Seberapa meriah perayaannya?” Pertanyaan Paskah adalah: “Apakah orang-orang yang paling kecil, paling lapar, paling terluka, paling terpinggirkan, apakah mereka merasakan bahwa Paskah juga untuk mereka?”
Jika jawabannya belum, maka kita semua, pemimpin dan rakyat, pendeta dan politisi, pengusaha dan buruh, masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat panjang.
Paskah telah membuka kubur. Sekarang giliran kita yang hidup untuk membuka hati, membuka tangan, dan membuka pintu bagi mereka yang selama ini hanya mengetuk dari luar, tanpa pernah diizinkan masuk.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












