Opini  

Empati Sosial Pasca Ramadan, Guru Besar UIN Saizu: Takwa Bukan Hanya Puasa

Memaknai Ramadan di Luar Bulan Suci

Setelah bulan suci Ramadan berlalu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Naqiyah.

Menurutnya, esensi puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk pribadi yang bertakwa dan peduli terhadap sesama. Dalam penyampaiannya, Prof Naqiyah membuka dengan mengingatkan kembali firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman.

Tujuan Utama Puasa adalah Ketakwaan

Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai derajat ketakwaan. Menurut Prof Naqiyah, pertanyaan reflektif yang perlu dijawab setiap Muslim setelah Ramadan adalah apakah ibadah puasa yang dijalani benar-benar berdampak pada perubahan diri. Ia menekankan bahwa ketakwaan tidak cukup diukur dari ibadah ritual semata, tetapi harus terlihat dalam sikap sosial, khususnya kepedulian terhadap sesama manusia.

Empati Sosial sebagai Ciri Orang Bertakwa

Lebih lanjut, Prof Naqiyah menjelaskan bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa adalah memiliki empati sosial yang tinggi. Puasa sejatinya menjadi sarana untuk melatih kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Saat menahan lapar, seseorang diajak merasakan kondisi mereka yang hidup dalam keterbatasan, bahkan tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu.

“Ketika kita lapar saat berpuasa, seharusnya kita bisa merasakan bagaimana orang lain yang mungkin setiap hari mengalami hal yang sama,” jelasnya.

Pengendalian Diri dan Perilaku

Puasa juga melatih pengendalian diri, termasuk menahan amarah dan menjaga perilaku agar tidak menyakiti orang lain, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas. Untuk memperkuat pesan tentang pentingnya kepedulian sosial, Prof Naqiyah mengangkat kisah inspiratif dari Zainab binti Khuzaymah, seorang tokoh perempuan dalam sejarah Islam yang dikenal sangat dermawan.

Zainab dijuluki Ummul Masakin atau ibu bagi orang-orang miskin karena kepeduliannya yang luar biasa terhadap kaum dhuafa. Ia tidak hanya membantu secara materi, tetapi juga berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di sekitarnya, seperti makanan, pendidikan, dan tempat tinggal.

“Bahkan ketika beliau hanya memiliki sedikit makanan, tetap diberikan kepada orang yang membutuhkan, meskipun dirinya sendiri juga membutuhkan,” tutur Prof Naqiyah.

Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Peduli

Prof Naqiyah juga menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam membentuk karakter peduli. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Ramadan harus diajarkan kepada anggota keluarga agar menjadi budaya yang terus hidup.

“Apakah puasa kita sudah berdampak pada keluarga kita? Apakah kita sudah mendidik mereka untuk peduli terhadap sesama?” katanya. Ia menambahkan, jika nilai empati tertanam kuat dalam keluarga, maka akan berdampak luas pada kehidupan sosial masyarakat.

Fenomena Sosial yang Menunjukkan Rendahnya Kepedulian

Dalam kesempatan tersebut, Prof Naqiyah juga menyinggung fenomena sosial yang menunjukkan masih rendahnya kepedulian di masyarakat. Ia mencontohkan kasus seorang pelajar yang terpaksa mencuri demi memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk adik-adiknya dan neneknya yang sakit.

Kasus tersebut, menurutnya, menjadi alarm bahwa masih banyak masyarakat yang belum peka terhadap kondisi sekitar. “Apakah lingkungan sekitar tidak mengetahui kondisi tersebut? Ini menjadi refleksi bagi kita semua bahwa kepedulian sosial masih perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Ramadan sebagai Titik Awal Perubahan

Lebih jauh, Prof Naqiyah mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia berharap nilai-nilai seperti empati, kepedulian, dan pengendalian diri tetap terjaga setelah Ramadan berakhir.

Menurutnya, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari seberapa lama menahan lapar, tetapi sejauh mana mampu membawa perubahan positif dalam kehidupan sosial.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Ramadan harus menjadi momentum untuk membentuk pribadi yang lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan dalam arti yang luas. Menutup penyampaiannya, Prof Naqiyah berharap agar umat Islam dapat menjaga semangat Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa kepedulian sosial merupakan kunci terciptanya masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

“Semoga nilai-nilai Ramadan terus kita bawa, sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *