Kehidupan Fara, Manusia Patung Noni Belanda di Kota Tua Jakarta
Fara adalah salah satu dari sekian banyak “Noni Belanda” yang menjadi daya tarik bagi pengunjung Kota Tua, Taman Sari, Jakarta Barat. Ia bekerja sebagai pemakai kostum Noni Belanda untuk berfoto bersama para pengunjung. Kostum yang dikenakan oleh para Noni Belanda terdiri dari gaun panjang dengan rok mengembang, sarung tangan hingga siku, dan payung. Rambut palsu berwarna coklat atau pirang serta make-up tebal khas bangsawan Eropa juga menjadi bagian dari penampilannya.
Fara tidak hanya menjadi figur yang menarik perhatian anak-anak dan remaja, tetapi juga memiliki perjuangan besar dalam menghidupi keluarganya. Setelah enam hari mudik ke Semarang untuk menjenguk orangtuanya, ia harus segera kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Perjalanan pulang dari Semarang dilakukan dengan naik travel pada malam hari dan tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB. Dengan waktu yang sangat singkat, Fara langsung mempersiapkan makanan untuk anaknya, lalu melakukan make-up dan ganti baju sebelum siap bekerja pada pukul 09.30 WIB.
Libur Lebaran yang Ramai, Bulan Ramadan yang Sepi
Selama libur Lebaran, pengunjung Kota Tua cukup ramai, sehingga permintaan foto bersama dengan para Noni Belanda meningkat. Namun, situasi berbeda terjadi selama bulan Ramadan. Fara mengungkapkan bahwa selama masa ini, pengunjung Kota Tua jauh lebih sedikit. Akibatnya, pendapatan Fara selama Ramadan sangat minim. Terkadang, ia bahkan tidak mendapat ajakan berfoto sama sekali dalam sehari.
Meski begitu, Fara tetap semangat dan berusaha memberikan layanan terbaik meskipun lelah setelah pulang dari mudik. Ia tidak menetapkan tarif resmi untuk sesi foto bersama, melainkan menetapkan harga seikhlasnya. Alasannya karena kondisi ekonomi warga beragam. Ia menyebutkan bahwa sebagai seorang ibu, ia merasa prihatin jika anak-anak tidak bisa berfoto karena biaya.
Untuk memudahkan pengunjung, Fara menyediakan topi yang bisa dibalik sebagai tempat menaruh uang. Biasanya, pengunjung menaruh uang sebesar Rp 10.000 untuk satu sesi foto. Selain itu, Fara juga menyediakan berbagai topi pantai warna-warni yang dapat digunakan selama sesi foto tanpa dikenakan biaya tambahan.
Tiga Tahun Tanpa Mudik
Mudik ke Semarang yang baru saja dilakukan Fara merupakan pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Sejak 2023, Fara dan keluarga tidak pernah mudik karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Awalnya, suami Fara terkena PHK akibat dampak pandemi Covid-19, sehingga keluarga mengalami kesulitan finansial. Meski begitu, Fara tetap berjuang untuk mencari nafkah.
Selama tiga tahun tersebut, Fara seperti tidak pernah memiliki liburan. Ia bekerja sebagai manusia patung setiap hari, kecuali saat Kota Tua tutup atau saat harus mengantar anak piknik sekolah. Awalnya, Fara mulai bekerja sebagai penjual es teh di Kota Tua pada 2012. Setelah itu, ia mencoba peruntungan dengan menjadi manusia patung karakter hantu kuntilanak di malam hari. Namun, karena karakter tersebut dilarang oleh pengelola Kota Tua, Fara beralih ke karakter RA Kartini. Akhirnya, ia memilih karakter Noni Belanda karena dinilai lebih menarik pengunjung.
Kehidupan yang Penuh Perjuangan
Menurut Fara, karakter hantu kuntilanak menghasilkan pendapatan yang paling besar, sementara Noni Belanda berada di urutan kedua. Saat ditanya tentang pendapatan harian, Fara enggan menyebutkan angka pastinya. Ia hanya mengatakan bahwa pendapatan dari aktivitas ini cukup untuk menyambung hidup empat anggota keluarga selama suaminya menganggur.
Saat ini, suami Fara sudah kembali bekerja selama tiga bulan. Fara berharap pekerjaan suaminya berjalan lancar dan memberikan kontribusi yang baik bagi keluarga. Anak-anak Fara juga memiliki rencana untuk kuliah, sehingga keluarga terus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.











