LSM Harimau Bantah Tuduhan Robek Seragam Kades Hoho Alkaf

Demonstrasi di Desa Purwasaba Berujung Kericuhan

Pada hari Selasa, 11 Maret 2026, terjadi kericuhan di Kantor Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi kekacauan setelah massa mulai menuntut agar proses seleksi perangkat desa dibatalkan. Insiden ini menarik perhatian publik dan memicu berbagai spekulasi mengenai pihak-pihak yang terlibat.

Kepala Desa Mengaku Dikeroyok

Kepala Desa Purwasaba, Hoho Alkaf, mengaku dirinya menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan orang setelah aksi unjuk rasa tersebut berubah ricuh. Ia menyampaikan kronologi kejadian melalui akun media sosial pribadinya @hoho_alkaff. Menurutnya, serangan terjadi tiba-tiba saat ia hendak keluar dari area balai desa.

“Saya hendak keluar dari balai desa, tapi langsung diserang dan dikeroyok. Kacamata saya pecah dan baju saya robek,” ujarnya dalam unggahan yang viral di media sosial. Ia menjelaskan bahwa insiden itu terjadi sesaat setelah dirinya keluar dari pintu aula balai desa, bahkan sebelum aparat keamanan sempat memberikan pengawalan.

Hoho mengatakan bahwa pukulan menghujani tubuhnya dari berbagai arah. “Waktu saya baru keluar dari pintu aula sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, belakang, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan,” katanya.

Atribut Kepala Desa Rusak

Akibat kejadian tersebut, Hoho mengaku sejumlah atribut yang dikenakannya mengalami kerusakan. Kacamata yang ia gunakan pecah setelah terkena pukulan. Sementara pakaian dinas yang dikenakan robek akibat tarik-menarik yang terjadi di tengah kericuhan. Bahkan atribut resmi yang menempel pada seragamnya juga disebut ikut terlepas.

“Logo atribut saya juga pada rogol. Papan nama jatuh karena ketarik-ketarik,” katanya. Insiden ini semakin memperpanjang polemik yang berkembang di tengah masyarakat Desa Purwasaba terkait proses seleksi perangkat desa.

LSM Harimau Bantah Tuduhan Provokasi

Nama LSM Harimau kemudian menjadi sorotan setelah disebut dalam sejumlah pemberitaan terkait dugaan pengeroyokan terhadap Kades Purwasaba. Insiden yang terjadi di wilayah Mandiraja tersebut diduga berkaitan dengan polemik seleksi perangkat desa yang memicu ketegangan antara pemerintah desa dan sejumlah pihak yang mengatasnamakan organisasi masyarakat.

Menanggapi berbagai tudingan tersebut, pihak LSM Harimau akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus membantah narasi yang menyebut mereka sebagai pihak yang memprovokasi kericuhan.

“Kami tidak pernah memulai tindakan provokasi ataupun kekerasan dalam kegiatan advokasi tersebut,” jelas keterangan tertulis LSM Harimau dikutip dari akun Instagram mereka pada Minggu, 15 Maret 2026.

Bantah Tuduhan Merobek Seragam Kades

LSM Harimau juga membantah tuduhan yang menyebut pihak mereka merusak atau merobek pakaian dinas Kepala Desa Hoho seperti yang beredar di media sosial. “Fakta di lapangan menunjukkan bahwa seragam Kepala Desa Hoho tidak dalam keadaan robek, sehingga tuduhan yang menyatakan bahwa pakaian tersebut telah dirobek-robek oleh pihak kami adalah tidak benar dan merupakan fitnah.”

LSM Harimau: Hanya Mendampingi Warga

Menurut mereka, aksi tersebut berkaitan dengan polemik penjaringan dan penyaringan perangkat desa yang dinilai sebagian masyarakat perlu diawasi secara terbuka. LSM tersebut menyatakan bahwa kehadiran mereka bertujuan melakukan advokasi serta mendampingi masyarakat agar proses pemerintahan desa berjalan secara transparan, jujur, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *