Cara Memilih Film Favorit yang Tepat

Mekanisme Otak Saat Memilih Film Favorit

Ketika seseorang ditanya 4 film favorit sepanjang masa, banyak dari kita justru bungkam seribu bahasa. Padahal, otak kita sedang memilah dan mengingat film apa saja yang layak masuk daftar favorit. Tapi, bagaimana sebenarnya mekanisme otak kita saat diminta menyebut film favorit? Apa pertimbangan yang kita gunakan untuk menjawab pertanyaan yang terdengar sederhana ini?

Kita Cenderung Memilih Film yang Mencerminkan Diri dan Minat Kita

Sebuah artikel menarik dari Cedarville University pada Desember 2024 dengan judul “What makes a favorite movie?” membahas hal ini. Salah satu mahasiswa bernama Janie Walenda mewawancarai beberapa rekan sesama mahasiswa tentang film favorit mereka. Dari jawaban mereka, Walenda menyimpulkan bahwa relatability (kedekatan atau keintiman) jalan cerita dengan hidup dan minat penontonnya punya andil besar dalam keputusan memilih film favorit.

Rasa terwakili inilah yang membuat film favorit menjadi personal dan lekat dengan kita, bahkan sampai bertahun-tahun setelah kita menontonnya. Ketimbang menggunakan penilaian objektif, saat ditanya film favorit, kita cenderung menggunakan metode penilaian subjektif. Ada banyak film superior di luar sana, tetapi rasa dan kesannya belum tentu menyentuhmu seperti film favoritmu.

Misalnya, kamu mungkin mengakui bahwa 12 Angry Men (1957) adalah film unggul yang memang layak disebut legenda. Namun, karena tidak memiliki kedekatan dengan pengalaman personalmu, film itu tak terasa cocok kamu sebut sebagai film favorit sepanjang masa versimu. Sebaliknya, kamu mungkin akan memilih film lain seperti Linda Linda Linda (2005) yang mengingatkanmu pada band yang pernah kamu bentuk saat sekolah.

Tipe Eskapis Akan Memilih Film yang Jauh dari Realitas Hidupnya Sendiri

Namun, gak semua orang memilih film favorit dengan cara di atas. Sebagian juga memilih dengan pertimbangan sebaliknya. Ketimbang mencari kedekatan cerita dengan kehidupan sendiri, ada yang justru menyukai film yang jauh dari realitas. Scott Jones dari University of Birmingham dalam tulisannya untuk The Conversation pernah membahas ini. Ia secara spesifik mengulik alasan di balik popularitas serial dan film pascabencana dan distopia seperti Silo dan The Walking Dead.

Menurut argumennya, ini berkaitan erat dengan kenyamanan yang didapat penonton sebagai pengamat dari kejauhan. Mereka yang menyukai tipe film ini adalah orang-orang yang mencari pelarian dari hidup mereka yang monoton dan repetitif. Mereka butuh sesuatu yang baru, seru, nyeleneh, menantang, bahkan ekstrem tetapi ogah menjalaninya sendiri. Jika kamu suka film-film seperti Avatar, Jaws, Jurassic Park, 28 Days Later dan Mad Max, mungkin kamu termasuk penganut eskapisme.

Dipilih dari Film yang Bisa Ditonton Berkali-Kali Tanpa Bikin Bosan

Mekanisme memilih film favorit juga bisa dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Yakni, memilih film yang bisa ditonton berkali-kali tanpa sekalipun membuatmu bosan. Ini mekanisme yang menurut sinefil kurang teknis dan objektif, tetapi itulah esensi film favorit: subjektivitas.

Kadang film-film yang kamu tonton berkali-kali ini sangat generik dari segi plot, mudah ditebak, dan tidak benar-benar superior dari segi teknis (sinematografi, pencahayaan, naskah), tetapi bagi kamu mereka memberikan efek terapeutik bahkan katarsis tersendiri. Tak semua orang setuju dengan ini, tetapi film itu secara personal membuatmu nyaman.

Tiga poin di atas menjelaskan mengapa kita cukup defensif soal film favorit. Rasanya aneh dan tidak nyaman saja saat ada orang mengkritisi film terbaik versimu itu. Seolah mereka juga menghina bagian dari dirimu yang diwakili film tersebut. Dari ketiga mekanisme di atas, mana yang paling sering kamu pakai untuk memilih film favorit?

Netflix Mau Beli Studio AI Ben Affleck Rp9,6 Triliun, Bikin Film Pakai AI?

3 Film India yang Masuk Nominasi Best Foreign Film di Oscar

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *