Obesitas: Bukan Gaya Hidup, Tapi Penyakit Rumit

Masalah Obesitas yang Tidak Bisa Dianggap Sepele

Obesitas tetap menjadi isu kesehatan global yang sering kali dianggap sebagai tanggung jawab individu. Namun, dampaknya jauh lebih luas dan sistemik, melibatkan berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Secara global, jumlah orang dengan obesitas mencapai lebih dari 1 miliar jiwa. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mendekati separuh populasi dunia atau sekitar 4 miliar jiwa pada tahun 2035. Dampak ekonomi dari kondisi ini juga sangat signifikan. Menurut data dari Novo Nordisk, potensi kerugian ekonomi akibat obesitas bisa mencapai US$3,23 triliun pada tahun 2030.

Di Indonesia, situasi obesitas semakin memprihatinkan. Data terbaru menunjukkan bahwa 1 dari 4 penduduk Indonesia mengalami obesitas, dengan peningkatan prevalensi dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023. Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat obesitas mencapai Rp78,4 triliun. Selain itu, angka kematian terkait obesitas diperkirakan mencapai 1,7 juta jiwa setiap tahun.

Perubahan Pola Hidup yang Memicu Peningkatan Kasus Obesitas

Dr. Diana Suganda, dokter ahli gizi klinik, mengungkapkan bahwa situasi obesitas di Indonesia semakin memprihatinkan karena kasus obesitas kini lebih banyak ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh pola asuh serta faktor lingkungan yang kurang mendukung.

“Mirisnya, saat ini kita justru lebih banyak menemukan anak-anak dengan obesitas dibandingkan orang dewasa. Hal ini dipengaruhi pola asuh serta faktor lingkungan yang kurang mendukung,” ujarnya dalam diskusi kesehatan bersama Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Obesitas Bukan Sekadar Gaya Hidup

Dr. Diana menegaskan bahwa obesitas secara medis merupakan penyakit kronis yang kompleks, bukan sekadar persoalan gaya hidup atau kurangnya kemauan individu. Tubuh manusia memiliki mekanisme biologis berupa hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak. Namun, pada sebagian individu, sistem tersebut tidak bekerja secara optimal.

Gangguan pada hormon ghrelin dan leptin—yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang—membuat upaya penurunan berat badan sering kali berujung kegagalan. Akibatnya, seseorang harus berjuang melawan sistem biologis tubuhnya sendiri.

Dia menjelaskan, ketika kedua hormon tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tubuh dapat merespons dengan menurunkan penggunaan energi. Kondisi ini menyebabkan berat badan sulit turun meskipun seseorang telah menjalani diet atau pola hidup sehat.

Dampak Kesehatan yang Mengkhawatirkan

dr. Vardian Mahardika, dokter spesialis penyakit dalam, menekankan bahwa obesitas telah diklasifikasikan sebagai penyakit kronis yang menjadi akar berbagai risiko kesehatan serius, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Selain itu, obesitas juga dapat menyebabkan penyakit Alzheimer yang menyerang daya ingat seseorang di usia dini.

“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensinya bisa pikun atau Alzheimer itu meningkat, bahkan di usia muda. Dampaknya juga turun ke pernafasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (nafas terhenti saat tidur), ngorok yang tidak teratur,” ujarnya.

Klasifikasi tersebut merujuk pada ketetapan World Health Organization (WHO) serta pedoman nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK).

Fenomena “Memori Lemak” yang Membuat Diet Sulit Berhasil

dr. Vardian juga menambahkan adanya fenomena “memori lemak” atau obesogenic memory, yakni kemampuan tubuh untuk “mengingat” kondisi obesitas sebelumnya. “Lemak memiliki semacam ingatan. Inilah yang kerap menyebabkan efek diet yoyo, di mana berat badan yang sudah turun kembali naik,” jelasnya.

Dengan kompleksitas tersebut, para ahli menilai penanganan obesitas memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi, intervensi medis, hingga dukungan lingkungan yang lebih sehat. Mereka berharap masyarakat dapat lebih sadar akan risiko obesitas dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *