Bisa Makan Daging Kucing? Ini Aturannya!

Fenomena Daging Kucing



Di beberapa negara, terutama di Asia, daging kucing masih menjadi bahan makanan yang diperjualbelikan. Di Vietnam, misalnya, daging kucing sering dimasak menjadi hidangan khas dengan nama “Little Tiger.” Daging kucing hitam bahkan dianggap sebagai daging premium karena rasanya yang khas. Namun, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kesehatan dan etika.

Kucing bukanlah hewan ternak, sehingga konsumsi dagingnya tidak diatur secara khusus. Hal ini membuat proses penyembelihan tidak memiliki standarisasi yang jelas. Akibatnya, risiko penyebaran penyakit melalui daging kucing sangat tinggi. Banyak organisasi internasional telah mengecam praktik ini karena dianggap tidak manusiawi dan berisiko bagi kesehatan.

Bahaya untuk Kesehatan



Dalam sistem pemerintahan, setiap rumah potong hewan (RPH) memiliki standar penyembelihan agar hasil potongan aman dan halal. Namun, untuk daging kucing, tidak ada standarisasi yang jelas. Tanpa standarisasi, hewan yang disembelih berpotensi menyebarkan penyakit yang ditularkan melalui daging, seperti tuberkulosis dan rabies.

Selain itu, bakteri seperti Clostridium, Staphylococcal, dan Brucella serta parasit seperti cacing gelang Trichinella dan cacing pita Taenia juga bisa terbawa dalam daging kucing. Konsumsi daging yang tidak aman dapat menyebabkan gangguan pencernaan, diare, atau bahkan infeksi berat.

Mitos Daging Kucing



Pada Agustus 2024, sebuah peristiwa heboh terjadi di Semarang ketika seorang pemilik kos memakan daging kucing dengan alasan ingin menyembuhkan diabetes. Kejadian ini membuat warga heboh dan akhirnya pelaku ditangkap serta dihukum wajib lapor.

Dinas kesehatan setempat membantah mitos tersebut, menyatakan bahwa daging kucing tidak bisa menyembuhkan diabetes. Justru, daging kucing lebih berisiko menularkan penyakit, termasuk rabies. Oleh karena itu, konsumsi daging kucing tidak direkomendasikan karena berpotensi membahayakan kesehatan.

Regulasi dan Larangan



Di Indonesia, aturan tentang konsumsi daging kucing tercantum dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam aturan tersebut, daging kucing tidak diperuntukkan untuk pangan manusia, melainkan hanya untuk hewan peliharaan.

Konsumsi daging kucing dianggap sebagai penyalahgunaan, dan pelakunya bisa dihukum dengan wajib lapor hingga penjara selama dua tahun. Selain Indonesia, banyak negara lain juga memiliki undang-undang perlindungan hewan yang melarang konsumsi daging kucing.

Negara dengan Praktik Makan Daging Kucing



Meskipun sudah diketahui bahaya kesehatan dan larangan hukum, beberapa negara masih mengonsumsi daging kucing. Contohnya adalah China, Vietnam, Korea Selatan, Filipina, dan Thailand. Di sana, masyarakat percaya bahwa daging kucing baik untuk kesehatan.

Di China, diperkirakan ada 4 juta kucing yang disembelih dan dikonsumsi setiap tahunnya. Pada Juni, di bagian selatan China, terdapat festival daging anjing yang juga memperjualbelikan kucing dan anjing. Ada kepercayaan bahwa daging kucing bisa meningkatkan metabolisme dan menyejukkan tubuh saat musim panas.

Sementara itu, di Vietnam, perdagangan ilegal kucing dan anjing marak. Kucing sering dimasak dalam bentuk sup, semur, atau sate sebagai menu harian di Ho Chi Minh. Setiap tahunnya, ribuan kucing diculik dan dikonsumsi.

Kesimpulan

Pertanyaan apakah daging kucing bisa dimakan sudah terjawab. Selain tidak baik untuk kesehatan, konsumsi daging kucing juga melanggar aturan hukum di berbagai negara. Dari segi kesehatan, daging kucing berisiko menularkan penyakit, sedangkan dari segi etika, kucing bukanlah hewan ternak. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak mengonsumsi daging kucing dan lebih memilih alternatif makanan yang lebih aman dan etis.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *