Trump Minta Iran Menyerah Tanpa Syarat untuk Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar menyerah tanpa syarat jika ingin mencapai kesepakatan. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial Truth pada Jumat (6/3/2026). Ia menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali negara tersebut menyatakan tunduk sepenuhnya.
Pernyataan ini memperkuat sikap keras Trump di tengah konfirmasi dari pihak Iran tentang upaya mediasi diplomatik untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Trump secara eksplisit menyatakan posisinya dalam unggahan tersebut dengan menulis, “Tidak akan ada kesepakatan kecuali Iran menyerah tanpa syarat.”
Trump Ingin Terlibat dalam Pemilihan Pemimpin Iran, Seperti di Venezuela
Trump menjanjikan bahwa setelah proses penyerahan diri dan terpilihnya pemimpin baru yang ia setujui, AS bersama para sekutunya akan membantu membangun kembali negara tersebut. Ia menjelaskan, “Setelah itu, dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan banyak sekutu serta mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya.”
Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk menerapkan skenario Venezuela di Iran. Yakni, dengan mempertahankan struktur pemerintahan yang ada namun mengganti kepemimpinan dengan sosok yang bersedia memenuhi tuntutan Washington. Ia menekankan perlunya sosok pemimpin yang ia anggap adil dan bijaksana serta kooperatif terhadap kepentingan AS dan sekutunya.
Kritik terhadap Ambisi Trump
Namun, ambisi Trump ini menuai keraguan dari para ahli. Sina Azodi, asisten profesor Politik Timur Tengah di Universitas George Washington, menilai upaya Trump untuk memilih pemimpin tertinggi berikutnya sebagai hal yang tidak realistis. “Itu hanya angan-angan,” kata Azodi kepada Al Jazeera. Ia menjelaskan bahwa meskipun ada perbedaan pendekatan di antara para kandidat pengganti Khamenei, mereka semua tetap setia pada sistem Republik Islam.
Azodi juga memperingatkan kekuatan nasionalisme di Iran yang akan menolak campur tangan luar. “Donald Trump dapat mengatakan banyak hal, tetapi Anda harus mengingat kekuatan nasionalisme, dan itu berarti tidak seorang pun, tidak seorang pun di dunia ini ingin melihat aktor asing menentukan masa depan mereka,” tuturnya.
Iran Menantang, Ejek Keinginan Trump
Di pihak lain, para pejabat AS dan Israel mengeklaim bahwa Iran telah menderita pukulan hebat. Kepala Pentagon Pete Hegseth menyatakan bahwa para pemimpin Iran tidak berdaya menghadapi kehancuran yang dilancarkan Washington. Meski demikian, Teheran menunjukkan sikap menantang. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengejek keinginan Trump untuk ikut campur dalam urusan domestik Iran.
“Nasib Iran tercinta, yang lebih berharga daripada hidup, akan ditentukan semata-mata oleh bangsa Iran yang proud, bukan oleh geng (Jeffrey) Epstein,” tulis Ghalibaf di platform X. Ghalibaf juga menambahkan bahwa Trump belum menyadari dampak besar dari keputusannya membunuh Ali Khamenei.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengkritik pendekatan Trump sebagai tindakan kolonial. Dalam konferensi Dialog Raisina di New Delhi, ia mempertanyakan logika Trump yang mengeklaim menjunjung demokrasi namun ingin menggulingkan pemimpin terpilih di negara lain. “Bisakah Anda bayangkan pendekatan kolonial ini, bahwa ia ingin melihat demokrasi di dalam negeri, tetapi ia ingin menggulingkan presiden Iran yang terpilih secara demokratis?” ujar Khatibzadeh.












