Sejarah Salat Tarawih: Dari Masa Nabi Hingga Era Khalifah
Salat tarawih memiliki sejarah yang panjang dan berakar pada tradisi keagamaan umat Islam. Ibadah malam yang hanya dilakukan di bulan Ramadan ini memiliki perjalanan sejarah yang menarik, mulai dari masa Nabi Muhammad SAW hingga era Khalifah Umar bin Khattab.
Awal Mula Salat Tarawih
Pada awal mula Islam, istilah “Tarawih” belum dikenal. Ibadah tersebut lebih dikenal dengan sebutan qiyam Ramadan, yaitu salat malam yang dilakukan khusus pada bulan suci ini untuk menghidupkan malam-malam penuh keberkahan. Nabi Muhammad SAW pertama kali melaksanakan salat malam Ramadan secara berjamaah pada 23 Ramadan tahun kedua Hijriah. Peristiwa ini tercatat dalam hadis riwayat Imam Muslim (No 1270).
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW salat di masjid, lalu diikuti beberapa orang sahabat. Pada malam berikutnya, jumlah jemaah semakin banyak. Namun, pada malam ketiga atau keempat, beliau tidak keluar untuk salat bersama mereka. Setelah pagi tiba, beliau berkata:
“Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan salat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (salat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.”
Kekhawatiran ini muncul karena Nabi SAW takut salat tersebut akan ditetapkan sebagai kewajiban, sehingga bisa memberatkan umatnya. Oleh karena itu, beliau kemudian tidak lagi rutin melaksanakannya secara berjamaah dan memilih menunaikannya secara pribadi.
Perubahan di Masa Khalifah
Setelah wafatnya Nabi SAW, pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, umat Islam melaksanakan salat malam Ramadan secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil. Perubahan besar terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Melihat jemaah di masjid yang terpisah-pisah, Umar berinisiatif menyatukan mereka di bawah satu imam.
Riwayat tentang inisiatif ini tercantum dalam Shahih Imam Bukhari dari Abdurrahman bin Abdul Qari:
“Abdurrahman bin Abdul Qari berkata: Aku keluar bersama Umar bin Khattab RA pada suatu malam di bulan Ramadan menuju masjid. Ternyata orang-orang salat terpencar-pencar. Ada yang salat sendiri, ada pula yang salat dan diikuti beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku, jika aku kumpulkan mereka di bawah satu imam, tentu itu lebih baik.’ Lalu beliau mengumpulkan mereka di bawah kepemimpinan Ubai bin Ka’ab.”
Sejak saat itu, salat tarawih berjamaah dengan satu imam menjadi tradisi yang terus dilestarikan umat Islam hingga sekarang.
Asal Usul Istilah Tarawih
Salat ini disebut dengan tarawih. Sebab, pada zaman Umar bin Khattab pelaksanaannya memberi banyak “Tarwih” alias “istirahat” untuk para makmum di setiap selesai dua rakaat. Inilah asal usul istilah tarawih yang digunakan hingga hari ini.
Pentingnya Salat Tarawih
Meskipun bukan merupakan salat wajib, banyak umat Islam yang ingin mendapat kemuliaan Ramadan dengan melaksanakannya di masjid. Salat tarawih menjadi salah satu bentuk ibadah yang mencerminkan kekhusyukan dan kebersamaan umat Islam dalam merayakan bulan suci ini.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












