Gaya Diplomasi Prabowo Subianto yang Berbeda
Presiden Prabowo Subianto kembali mengejutkan dunia dengan tindakan yang dianggap berani. Di tengah situasi kritis akibat eskalasi konflik antara Israel dan Iran, Prabowo menyatakan kesiapannya untuk terbang langsung ke Iran sebagai upaya mediasi. Langkah ini mendapat apresiasi sekaligus kritik dari berbagai pihak.
Pendekatan Prabowo dalam diplomasi terlihat agresif dan berbeda dari pendahulunya. Ia tidak hanya memperkuat prinsip “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”, tetapi juga membawanya ke tingkat global. Dengan menyatakan kesiapan menjadi mediator, ia ingin menggeser posisi Indonesia dari penyuplai bantuan kemanusiaan menjadi aktor penentu perdamaian.
Strategi “Good Neighbor Policy” Versi Global
Prabowo menegaskan bahwa diplomasi bukan sekadar pesan normatif, melainkan aksi langsung. Hal ini menunjukkan perbedaan gaya dengan pemerintahan sebelumnya yang cenderung lebih hati-hati dan bekerja di balik layar. Dalam situasi kritis seperti ini, Prabowo memilih bertindak daripada menunggu konflik mencapai titik jenuh.
Namun, langkah ini juga menuai keraguan dari kalangan akademisi. Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional, mengatakan bahwa momentum saat ini belum tepat. Menurutnya, upaya damai idealnya dilakukan ketika konflik telah berlangsung cukup lama, sehingga para pihak membutuhkan mediator secara psikologis.
“Sebaiknya tunggu bila perang ternyata akan selesai untuk jangka waktu yang lama, karena saat itu juru damai dibutuhkan untuk menyelamatkan muka negara-negara yang berkonflik,” ujarnya.
Hikmahanto juga menambahkan bahwa negara yang terlibat perang biasanya enggan mengakui kekalahan. Mereka tidak mau dikatakan kalah dan karenanya menerima proposal damai. Karena itu, ia memprediksi inisiatif Prabowo saat eskalasi baru terjadi akan menemui jalan buntu.
Tantangan Utama: Hubungan Diplomatik dengan Israel
Masalah utama bukan hanya soal timing, tetapi juga arsitektur diplomasi. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga jalur komunikasi resmi hanya terbuka dengan Iran. Dalam kondisi ini, mediasi berisiko dianggap sepihak.
Secara realistis, Indonesia mungkin membutuhkan mitra mediasi paralel, seperti Qatar atau Turki, yang memiliki akses ke Tel Aviv. Tanpa saluran komunikasi ke kedua belah pihak, pesan damai Indonesia berpotensi terhenti di satu sisi konflik.
Akses langsung ke Tel Aviv menjadi krusial agar inisiatif Prabowo tidak dipersepsikan sebagai keberpihakan. Pernyataan kesiapan Prabowo disampaikan secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui akun X.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.”
Ujian Terbesar bagi Diplomasi Prabowo
Misi ke Teheran adalah ujian terbesar bagi diplomasi Prabowo. Meski demikian, langkah out of the box seperti ini sering kali memecah kebuntuan dalam sejarah diplomasi. Namun, Prabowo tetap dituntut menyiapkan rencana cadangan jika Iran atau Israel menutup pintu dialog. Tanpa itu, keberanian bisa berubah menjadi risiko politik dan diplomatik.
Berhasil atau tidak, Indonesia telah mengirim pesan kuat ke dunia, kita tidak lagi sekadar menonton sejarah, tetapi mencoba menulisnya, dengan seluruh nyali dan konsekuensinya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












