Perang Iran-Israel, Elit Golkar: RI Harus Bawa Ketenangan Dunia

Peran Indonesia dalam Menjaga Ketertiban Dunia

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam menyerukan ketertiban dunia. Ia meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil posisi tegas dalam forum internasional, khususnya dalam menyikapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi ini terjadi setelah terjadinya perang terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Idrus menekankan bahwa sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi.

“Kita tidak boleh diam,” kata Idrus kepada jurnalis, Senin (2/3/2026). Ia menyarankan agar jalur diplomasi diperkuat, termasuk melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), guna mencegah konflik yang semakin meluas.

Idrus juga menyoroti bahwa jika konflik ini terus bereskalasi, dampaknya akan mencakup stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan internasional.

Kemunduran Peradaban

Idrus menegaskan bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang harus dihormati. Ia menekankan bahwa tindakan militer sepihak mengingkari prinsip hukum internasional dan Piagam PBB. Serangan tersebut, menurut Idrus, tidak hanya menyasar simbol kepemimpinan sebuah negara berdaulat, tetapi juga menjadi preseden buruk dalam tata hubungan internasional.

“Apapun dalihnya, pendekatan kekuatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban. Dunia seharusnya bergerak menuju dialog, bukan dominasi militer,” ujarnya.

Idrus juga mengkritik dampak kemanusiaan dari serangan yang dilakukan Amerika dan Israel, terutama karena terjadi pada bulan Suci Ramadan. Ia menekankan bahwa rakyat sipil, seperti anak-anak, perempuan, dan orang tua, menjadi korban dari konflik ini.

“Ketika bom dijatuhkan, yang paling menderita adalah rakyat sipil. Anak-anak, perempuan, orang tua yang tidak tahu-menahu soal geopolitik menjadi korban. Ini tragedi kemanusiaan,” tambahnya.

Kondisi WNI di Iran

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran memastikan terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran menyusul serangan yang dilakukan sejumlah negara terhadap wilayah tersebut. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Sumirat, menjelaskan bahwa fokus utama KBRI saat ini adalah menjaga komunikasi intensif dengan seluruh WNI yang berada di berbagai kota di Iran.

“Konsentrasi KBRI Teheran adalah melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh WNI di Iran,” ucapnya dalam keterangannya, Jumat, 28 Februari 2026.

Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 329 WNI telah melapor dan tercatat secara resmi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran. Data tersebut menjadi acuan utama dalam proses pemantauan dan koordinasi perlindungan.

“Seluruh simpul WNI yang kami hubungi menyampaikan tidak ada ancaman langsung yang dirasakan hingga saat ini,” jelasnya.

Meski demikian, KBRI tetap mengimbau agar para WNI meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pengamanan diri, serta keluarga masing-masing di tengah situasi yang masih dinamis.

“Adapun assessment mengenai keamanan di Iran akan tetap dilakukan KBRI Teheran dan berkoordinasi dengan kantor Kementerian Luar Negeri di Jakarta,” tegasnya.

Prabowo sebagai Mediator

Presiden RI Prabowo Subianto menawarkan diri menjadi mediator terkait perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini dinyatakan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri RI.

“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” kata Kemlu RI di akun X @Kemlu_RI, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam pernyataan tersebut, Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Diketahui, eskalasi meningkat di kawasan Timur Tengah, menyusul adanya perang terbuka antara Iran, Israel, dan AS. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan militer pada Minggu (1/3/2026) pagi.

Khamenei tewas terbunuh di kantornya saat “melakukan tugas yang diberikan kepadanya” pada dini hari Sabtu pagi. Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, serta tujuh hari libur umum.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa Khamenei terbunuh dalam serangan yang dimulai pada Sabtu dini hari.

“Ia tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih milik AS dan Israel,” tulis Trump, dikutip Al Jazeera, Minggu.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *