Polemik Awardee LPDP dan Perdebatan Nasionalisme
Polemik terkait Dwi Sasetyaningtyas, seorang alumni beasiswa LPDP, kembali memicu perdebatan mengenai makna nasionalisme. Isu ini muncul setelah Dwi memamerkan paspor WNA Inggris milik anaknya, sementara suaminya yang juga penerima beasiswa disebut belum menyelesaikan kewajiban pengabdian pada negara.
Di tengah kontroversi tersebut, Rocky Gerung, seorang pengamat politik, mengangkat kembali cerita lama tentang mahasiswi LPDP di Polandia yang merasa bingung antara kewajiban moral dan keinginan pribadi untuk tidak kembali ke Indonesia. Cerita ini menjadi bahan refleksi tentang makna pengabdian dan bagaimana nasionalisme bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Pengalaman di Warsawa
Rocky Gerung pernah diundang untuk memberikan kuliah dan dialog dengan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral melalui program LPDP di Warsawa, Polandia. Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswi yang hampir menyelesaikan disertasinya menyampaikan kegelisahannya.
Ia bertanya, bagaimana menurut Rocky jika ia tidak pulang ke Indonesia meskipun telah mendapatkan beasiswa LPDP. Menurut Rocky, pertanyaan ini bukan sekadar soal pulang atau tinggal, tetapi lebih kepada benturan antara idealisme dan realitas.
Mahasiswi itu mengaku khawatir jika kembali ke Indonesia, ia akan harus bekerja di lingkungan yang tidak sejalan dengan nilai moralnya. “Kalau saya pulang nanti, saya akan mengabdi kepada atasan saya. Setiap hari tugas saya adalah mark up,” ujar Rocky menirukan perkataan mahasiswi tersebut.
Nasionalisme yang Tidak Hitam Putih
Menurut Rocky, nasionalisme tidak boleh dimaknai hanya sebagai kewajiban administratif. Ia menilai bahwa setiap orang memiliki hak untuk membuat pilihan hidup yang sesuai dengan prinsip dan nilai pribadinya.
Rocky memberikan jawaban yang cukup tegas dalam kesempatan itu. Ia menyarankan agar mahasiswi tersebut tidak pulang, karena ia tidak berhukum pada negara, tetapi pada dirinya sendiri. “Saya nekat saja bilang, enggak usah pulang. Anda tidak berutang pada negara, Anda berutang pada saya. Dan saya enggak mau utang itu dibayar dengan Anda kembali kepada bos yang koruptor,” katanya.
Tak Buru-buru Menghakimi
Rocky meminta publik tidak terburu-buru menghakimi pilihan hidup seseorang hanya karena status kewarganegaraannya. Ia menilai bahwa nasionalisme tidak selalu diukur dari paspor atau tempat tinggal.
Ia mencontohkan jika anak Dwi, yang saat ini memiliki paspor WNA Inggris, bergabung dengan organisasi kemanusiaan internasional seperti Greenpeace atau komunitas relawan global yang membantu korban bencana. “Bayangkan si anak tadi, yang Warga Negara Inggris ada bencana di Indonesia terus dia kumpulkan teman-temannya se-Eropa itu untuk datang ke Indonesia dan membantu Indonesia. Bukankah dia lebih patriotis?” tanyanya.
Pilihan Hidup yang Kompleks
Rocky juga menyampaikan bahwa pilihan hidup seseorang tidak selalu hitam putih. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang yang belum pulang ke Indonesia bisa disebut tidak patriotik. Ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan seseorang, termasuk pertimbangan profesional dan moral.
“Jadi enggak ada yang penting sebetulnya mempersoalkan mereka yang merasa belum layak pulang ke Indonesia karena mungkin pertimbangan mereka pulang jadi ASN tapi uangnya kurang,” katanya.
Kontroversi di Media Sosial
Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas memicu polemik di media sosial setelah memperlihatkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi British citizen. Unggahan tersebut viral dan memicu respons keras dari warganet.
Banyak yang menilai narasi tersebut kurang bijak disampaikan oleh seorang awardee LPDP, mengingat beasiswanya dibiayai negara. Polemik pun berkembang, termasuk pembahasan mengenai kewajiban pengabdian sebagai penerima beasiswa LPDP.
Dwi sendiri tercatat sebagai Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017.
Selama masa pengabdian di Indonesia pada 2017–2023, Dwi menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatera, hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












