Pengamanan Aksi Demo Mahasiswa di Mabes Polri dengan Atribut Khusus
Beberapa anggota kepolisian terlihat mengenakan atribut seperti kopiah dan sorban putih saat melakukan pengamanan aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2/2026). Penggunaan atribut tersebut sempat menimbulkan pertanyaan dari peserta aksi.
“Ini maksudnya apa? Kami tidak akan tertipu dengan pakaian itu, percuma kalau perilaku tidak berubah,” ujar salah satu peserta aksi. Hal ini menunjukkan ketidakpuasan terhadap tindakan aparat yang dinilai belum sepenuhnya berubah meskipun menggunakan atribut khusus.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa penggunaan atribut tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap bulan suci Ramadan. Menurutnya, penggunaan peci, syal putih, serta kerudung putih bagi polisi wanita (polwan) adalah bagian dari kegiatan internal kepolisian selama Ramadan. Ia menyebut Polda Metro Jaya juga memiliki tim selawat dan hadroh.
“Polda Metro Jaya memiliki ada tim selawat. Jadi ada tim hadroh, tim selawat. Nah, kami menghormati bulan suci Ramadan dengan penggunaan peci, syal, serta bagi Polwan menggunakan hijab putih,” ujar Budi, kepada wartawan, usai aksi, Jumat.
Ia menegaskan bahwa personel yang bertugas ditekankan untuk mengedepankan kesabaran dan tidak terpancing provokasi demi menjaga situasi tetap kondusif selama aksi berlangsung. Budi juga mengimbau seluruh pihak, baik aparat maupun peserta aksi, untuk menjaga sikap dan tutur kata selama Ramadan agar pengamanan berjalan tertib dan damai.
Aksi yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai elemen mahasiswa tersebut mulai berlangsung sejak sore atau tepatnya pukul 16.15 WIB, dengan pengawalan ketat aparat. Massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan, satu di antaranya mendesak penjatuhan hukuman pidana yang seberat-beratnya kepada polisi pembunuh AT (14), siswa MTs yang dianiaya anggota Brimob berinisial Bripda MS di Tual, Maluku Tenggara dan segenap aparat pelaku represifitas.
Selain mengenakan seragam dinas, personel polisi laki-laki memakai peci putih dan sorban putih yang dililitkan di leher. Polisi wanita pun terlihat mengenakan hijab berwarna putih. Para personel tampak membentuk barikade di depan Mabes Polri. Namun, ada mahasiswa yang bahkan mengeluarkan satire atau sindiran terhadap para personel itu.
“Assalamualaikum pak haji…. hahahaha,” ujar mahasiswa tersebut. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara aparat dan peserta aksi.
Sebelumnya, sejumlah elemen mahasiswa mulai berdatangan ke depan Mabes Polri, Jumat (27/2/2026) sore. Berdasarkan pantauan Warta Kota di lokasi, awalnya massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) tiba lebih dulu sekira pukul 16.00 WIB. Tak lama berselang, mahasiswa dari BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta datang.
Sejumlah mahasiswa tampak mengenakan almamater kampus masing-masing. Mereka menggelar aksi demo atau unjuk rasa, satu di antaranya adalah menuntut kematian Arianto Tawakkal (AT), siswa MTsN Maluku Tenggara oleh Bripda Masias Siahaya (MS). Para mahasiswa tampak membawa spanduk, poster tuntutan, serta bendera organisasi kampus masing-masing.
Mahasiswa UI terlihat membentangkan spanduk warna putih bertuliskan “Tolak Brutalitas Aparat 1312”. Ada juga yang membawa poster dengan wajah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta tulisan “Pukul Mundur Listyo Sigit Prabowo”. Serta poster dengan wajah Bripda Masias Siahaya bertuliskan “Who Do You Call When The Police Murders?”.
“Pembunuh, pembunuh, pembunuh,” teriak para mahasiswa di depan Mabes Polri. Aksi ini membuat arus lalu lintas di Jalan Trunojoyo arah Senopati dialihkan, sedangkan arah Blok M padat kendaraan. Aparat kepolisian terlihat telah bersiaga di sekitar pintu gerbang Mabes Polri dan melakukan pengaturan lalu lintas.
Sementara koordinator lapangan secara bergantian memberikan instruksi melalui pengeras suara. Diberitakan sebelumnya, Polda Metro Jaya melakukan penyekatan di sejumlah wilayah guna mengantisipasi penumpang gelap dalam aksi unjuk rasa BEM UI di depan Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan penyekatan dilakukan bersama 13 polres jajaran dan komponen masyarakat sebagai bagian dari skema pengamanan. “Selain dari pelayanan aksi yang dilaksanakan di on the spot ini, kami juga (bersama) 13 polres jajaran dan komponen masyarakat terlibat dalam melakukan penyekatan,” ucap Budi kepada wartawan, Jumat (27/2/2026).
Penyekatan dilakukan untuk mencegah keterlibatan pelajar SMA/SMK sederajat serta pihak lain yang berpotensi menyusupi aksi. Polisi turut mengimbau agar demonstrasi murni diikuti mahasiswa tanpa ditunggangi kelompok tertentu. “Kami juga sudah memberikan imbauan kepada elemen mahasiswa, kampus, apabila dalam melaksanakan penyampaian pendapat itu murni dari mahasiswa,” kata dia.
“Tidak melibatkan golongan-golongan tertentu, saya sampaikan saja golongan-golongan tertentu yang menunggangi dalam setiap kegiatan penyampaian pendapat,” tambahnya. Menurut Budi, kehadiran pihak di luar massa aksi kerap memicu kericuhan dan mencederai substansi penyampaian pendapat yang dilindungi undang-undang.
“Akhirnya itu dapat mencoreng, mencoreng aksi yang disampaikan oleh orang yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang dan konstitusi. Tapi, cacat karena ada tunggangan -tunggangan. Makanya polda, Polres jajaran juga melakukan penyekatan,” kata dia.
Untuk pengamanan aksi tersebut, Polda Metro Jaya mengerahkan 3.093 personel serta melibatkan personel lain dari Polres jajaran. Sehingga total ada 3.992 personel guna mengamankan aksi demonstrasi yang akan digelar di depan Mabes Polri, Jakarta. Rekayasa lalu lintas akan diberlakukan secara situasional sesuai kondisi di lapangan.
Aksi yang digelar BEM UI itu merupakan bentuk kritik terhadap Polri terkait kasus tewasnya siswa MTsN 1 Maluku Tenggara, AT (14), yang diduga dianiaya anggota Brimob, Bripda Mesias Siahaya (MS). Oknum tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijatuhi sanksi etik. Melalui akun Instagram resminya, BEM UI menyerukan aksi dengan tagar #AparatKepar4t.
Massa direncanakan bergerak dari FISIP UI menuju Mabes Polri sekitar pukul 13.00 WIB. Dikutip dari Tribunnews.com, anggota BEM UI Hafidz Hernanda menyampaikan setidaknya ada lima tuntutan yang akan disampaikan dalam aksi nanti. Pertama, mendesak penjatuhan hukuman pidana yang seberat-beratnya kepada polisi pembunuh AT dan segenap aparat pelaku represifitas. Kedua, mendesak pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto. Ketiga, menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi. Keempat, menuntut penegakan batasan kewenangan dan penarikan Polri dari jabatan sipil. Kelima, menuntut hasil konkret Reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental dari Komisi Percepatan Reformasi Polri.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












