Perayaan Ramadan di Masjid Agung Bandung
Masjid Agung Bandung, yang berada di sisi timur Alun-alun Kota Bandung, menjadi pusat perhatian selama bulan suci Ramadan. Tahun ini, kawasan masjid akan menghadirkan berbagai kegiatan yang menarik minat masyarakat. Acara yang diberi nama Ramadan Fest akan berlangsung dari 6 hingga 15 Maret mendatang. Acara ini tidak hanya sekadar rangkaian pengajian, tetapi juga dirancang sebagai ruang bersama untuk warga.
Salah satu acara utama dalam Ramadan Fest adalah bazar UMKM. Deretan tenda akan ditata di pelataran masjid, memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah untuk memperkenalkan produk mereka. Selain itu, ada tausiah jelang berbuka puasa dan lantunan musik religi yang akan mengiringi waktu ngabuburit. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan suasana yang hangat dan penuh makna.
Ketua Nadzir Masjid Agung Bandung, Roedy Winatakusumah, menjelaskan bahwa acara ini menjadi program percontohan bagi masjid-masjid agung lainnya di sekitar Kota Bandung. Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, maupun pihak swasta. “Kami sangat terbuka untuk kerja sama. Ini momentum kebersamaan dan juga pemberdayaan ekonomi selama Ramadan,” ujarnya.
Selain itu, ada pemandangan tak biasa yang disiapkan, yaitu aksi pembersihan menara masjid oleh tim Vertical Rescue. Aksi tersebut direncanakan menjadi bagian dari tontonan ngabuburit yang tetap sarat makna. Pembersihan menara ini dilakukan untuk merawat ikon kota sekaligus menunjukkan keahlian para relawan di ketinggian. Dua menara yang selama ini menjadi penanda lanskap Bandung akan dibersihkan, seakan menyambut bulan suci dengan wajah baru.
Target acara ini cukup besar. Selama Ramadan dan periode festival, pihaknya berharap sekitar 50.000 orang bisa hadir meramaikan rangkaian acara. Jika setiap hari 2.000 hingga 3.000 warga datang untuk ngabuburit, serambi masjid akan menjadi ruang perjumpaan yang riang sekaligus khidmat.
Roedy juga menyiapkan arah pengembangan jangka panjang yang dikaitkan dengan momentum bersejarah kawasan Asia Afrika. Dia menyebut, dalam empat tahun ke depan, masjid yang berada di jantung Kota Bandung itu diharapkan dapat ambil bagian dalam peringatan 75 tahun Konferensi Asia Afrika. “Jadi memang kita ke depan, empat tahun ke depan, mengharapkan bahwa masjid ini, masjid Asia Afrika, bisa kita memperingati bersama 75 tahun,” ujarnya.
Menurutnya, posisi masjid yang berdekatan dengan kawasan bersejarah memberi peluang untuk terlibat dalam agenda berskala kota bahkan internasional. Program menuju 2030 tersebut akan dilakukan bertahap dan terukur. “Oleh karena itu, program menuju 2030 ini bisa terlaksana step by step melalui Ramadan Festival saat ini,” katanya.
Sejarah Masjid Agung Bandung
Lebih dari dua dekade dikenal sebagai Masjid Raya Bandung, status tersebut resmi dicabut Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 7 Januari 2026 melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 188/Kep.5-Kesra/2026. Dengan keputusan itu, masjid yang berdiri sejak 1812 tersebut kembali pada identitas awalnya sebagai Masjid Agung.
Roedy menuturkan, penetapan sebagai Masjid Raya sebelumnya terjadi pada 2002, ketika Jawa Barat belum memiliki masjid raya tingkat provinsi. Pada masa Gubernur Nana Nuriana, melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 451.2/Kep.1055-Yansos/2002, Masjid Agung Bandung dikukuhkan menjadi Masjid Raya Bandung. Perubahan status tersebut menandai penguatan fungsi kelembagaan masjid sebagai representasi provinsi.
Namun jauh sebelum dinamika administratif itu, masjid ini telah lebih dulu menjadi pusat kehidupan kota. Berdiri di awal abad ke-19 saat Bandung masih berupa kota kecil di wilayah Priangan, masjid ini sejak awal bukan hanya tempat menunaikan salat, melainkan juga simpul aktivitas sosial dan keagamaan warga. Letaknya yang berdampingan dengan Alun-alun menegaskan perannya sebagai pusat ruang publik.
Pada masa awal berdiri, masjid dilengkapi kolam besar untuk berwudhu. Kolam tersebut bahkan tercatat pernah dimanfaatkan untuk membantu memadamkan kebakaran di kawasan Alun-alun Bandung pada 1825. Saat itu, pengelolaan berada di bawah Bupati Bandung, sementara kegiatan keagamaan sehari-hari dijalankan oleh penghulu.
Memasuki abad ke-20, bangunan mengalami sejumlah penyesuaian. Tahun 1900, dilakukan penambahan mihrab serta pawestren di sisi kiri dan kanan bangunan utama untuk menampung jemaah yang terus bertambah. Adaptasi fisik ini menjadi bukti bahwa masjid terus mengikuti perkembangan zaman.
Roedy menyebut usia masjid kini telah mencapai sekitar 215 tahun dengan daya tampung sekitar 12 ribu jemaah. Ia menjelaskan, lahan masjid merupakan wakaf dari Wiranatakusumah IV yang telah dicatatkan secara administratif sejak 1994. “Dicatatkan dalam aktanya 1994 sebelum Undang-undang wakaf terbit. Dari Kemenag dikeluarkan (akta wakaf) 2012 dicatatkan 1994,” ujar Roedy.
Ia menuturkan, wakaf tersebut diperuntukkan bagi kepentingan sosial, budaya, dan kehidupan beragama warga Bandung. Roedy menambahkan, pada 1812 Bandung belum memiliki masjid agung sebagai pusat ibadah publik. “Alasan keluarga mewakafkan, ke keluarga kami memiliki tanah hektaran. Bandung pada 1812 tidak punya grand mosque atau masjid agung. Untuk kepentingan publik. Zaman Belanda pun sudah tercatat,” tuturnya.
Menurutnya, dalam lintasan sejarahnya, masjid ini juga pernah menjadi ruang diskusi dan pertemuan berbagai isu strategis, mulai dari pemberdayaan ekonomi hingga persoalan sosial dan politik. Bahkan saat Konferensi Asia-Afrika 1955, delegasi dari sejumlah negara tercatat menunaikan salat di masjid tersebut.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












