Basir Noho Bocorkan Visi Pendidikan Kabupaten Bone Bolango di Podcast TribunGorontalo.com

Pendidikan sebagai Fondasi Pembangunan Daerah

Pendidikan bukan hanya sekadar proses belajar mengajar, tetapi menjadi fondasi utama dalam pembangunan daerah. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Bolango, Basir Noho, saat menjadi narasumber dalam podcast bersama Jefri Potabuga, Jurnalis Tribun Gorontalo, Rabu (11/2/2026). Menurutnya, secara kelembagaan, Dinas Pendidikan memiliki mandat langsung dari negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Amanat tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga dijabarkan dalam regulasi khusus terkait penyelenggaraan pemerintahan daerah. “Dalam sistem pemerintahan daerah, urusan pendidikan adalah urusan wajib. Artinya, tidak bisa ditawar-tawar,” ujar Basir.

Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam Pendidikan

Dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan Bone Bolango berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan. SPM ini menjadi acuan dasar agar layanan pendidikan yang diberikan pemerintah daerah benar-benar menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Terdapat tiga pilar utama SPM pendidikan yang menjadi fokus pemerintah daerah:

  1. Pendidikan kesetaraan

    Program ini dijalankan melalui satuan pendidikan nonformal yang memfasilitasi anak-anak yang putus sekolah atau yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Pendidikan kesetaraan diwujudkan melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C. Tujuannya adalah memastikan bahwa anak-anak yang terputus dari sistem pendidikan formal tetap punya ruang untuk mendapatkan hak pendidikannya.

  2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

    Layanan PAUD mencakup TK, kelompok bermain, tempat penitipan anak (TPA), hingga PAUD sejenis. Fase usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter, kebiasaan belajar, dan kesiapan anak memasuki pendidikan dasar.

  3. Pendidikan Dasar

    Meliputi jenjang SD hingga SMP. Pemerintah daerah berkewajiban memastikan akses, mutu pembelajaran, serta keberlanjutan pendidikan anak.

Pengawasan Sekolah dan Perlindungan Guru

Basir menekankan pentingnya pengawasan dan penguatan ekosistem pendidikan. Menurutnya, sekolah bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan ekosistem yang terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan. Di satuan pendidikan itu paling tidak ada empat unsur utama: guru dan kepala sekolah, peserta didik dan orang tua, komite sekolah, serta pengawas sekolah.

Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai ujung tombak pembentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, perlindungan terhadap guru dan tenaga kependidikan menjadi hal krusial. Peraturan Menteri Dikdasmen Nomor 4 Tahun 2026 tentang perlindungan guru dan tenaga kependidikan diperkuat dengan kerja sama antara Kementerian dengan kepolisian serta kejaksaan sebagai aparat penegak hukum.

Secara struktural, pengawasan juga dilakukan oleh pengawas sekolah dan pengawas bina yang secara rutin memantau kompetensi guru serta proses pembelajaran di sekolah. Untuk satuan pendidikan nonformal, terdapat mekanisme pengawasan tersendiri melalui penilik yang bertugas melakukan pemantauan dan evaluasi. Selain itu, organisasi profesi seperti PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ikut berkontribusi dalam pengawasan penyelenggaraan pendidikan dan penguatan profesionalisme guru.

Program Sekolah Hijau dan Pembelajaran Mendalam



Selain penguatan tata kelola, Dinas Pendidikan Bone Bolango juga mendorong inovasi pembelajaran melalui program Climate Change and Green School atau Sekolah Hijau dan Perubahan Iklim. Program ini telah dilaunching di SDN 2 Suwawa Tengah dan menjadikan pekarangan sekolah sebagai media pembelajaran kokurikuler yang kontekstual dan aplikatif.

Melalui program ini, sekolah mengembangkan pekarangan atau kebun sekolah hijau yang ditanami berbagai tanaman pangan, seperti bawang, cabai, tomat, serta tanaman obat keluarga seperti kunyit dan lengkuas. Kebun sekolah ini menjadi ruang belajar yang hidup. Program tersebut dirancang untuk mendukung pembelajaran mendalam (deep learning), sekaligus menerapkan prinsip pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menyenangkan (joyful).

Tidak hanya itu, kebun sekolah hijau juga berfungsi sebagai sarana menumbuhkan kesadaran lingkungan pada siswa sejak dini. Program ini juga memiliki dimensi strategis lain, yakni mendukung kedaulatan dan kemandirian pangan, membantu pengendalian inflasi daerah, serta menyediakan bahan pangan sehat yang aman untuk mendukung logistik program MBG.

Tantangan Akses Pendidikan di Wilayah Sulit

Dalam podcast tersebut, Basir juga mengakui masih adanya tantangan akses pendidikan, khususnya di wilayah terpencil seperti Bulango Ulu dan Pinogu dengan keterbatasan infrastruktur dan transportasi. Ia mencontohkan wilayah seperti Bulango Ulu dan sekitarnya, yang memiliki beberapa SD dan SMP. Para guru di wilayah ini harus menempuh perjalanan dari tempat tinggal ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum terbuka karena keterbatasan sarana transportasi dinas.

Sebagai bentuk perhatian, pemerintah daerah menyiapkan insentif daerah tertentu bagi guru dan tenaga kependidikan yang bertugas di wilayah dengan keterbatasan akses geografis. Insentif ini menggantikan istilah lama daerah terpencil atau tertinggal, menyesuaikan dengan nomenklatur kebijakan terbaru.

Peran Desa dan Masyarakat

Basir juga menyoroti peran penting pemerintah desa dan masyarakat dalam mendukung akses dan mutu pendidikan. Melalui dana desa, pemerintah desa di Bone Bolango aktif mendukung penyelenggaraan PAUD dan TK, mulai dari pembangunan sarana, pengadaan alat belajar, hingga penyediaan tenaga pendidik. Satuan pendidikan yang telah terdata dalam Dapodik kemudian berhak menerima dana operasional pendidikan, termasuk BOS, dengan besaran yang disesuaikan jumlah peserta didik.

Di akhir perbincangan, Basir berharap dukungan dari seluruh unsur masyarakat, mulai dari komite sekolah, orang tua, hingga komunitas lokal, untuk bersama-sama mendorong penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan. “Pendidikan bermutu itu tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Harus kolaborasi,” pungkasnya.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *