Kondisi Energi di Indonesia: Tantangan dan Harapan Menuju Swasembada
Di tengah 15 bulan masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sektor energi menjadi salah satu fokus utama dalam kebijakan nasional. Salah satu program yang digaungkan adalah slogan “Swasembada Energi”, yang bertujuan untuk memperkuat kemandirian energi dalam negeri. Namun, berbagai analisis dari akademisi menunjukkan bahwa target tersebut masih jauh dari tercapai.
Salah satu proyek yang dianggap sebagai simbol komitmen pemerintah adalah Refinery Development Master Plan (RDMP), yang diresmikan pada Januari 2026 di Balikpapan. RDMP merupakan megaproyek strategis nasional milik Pertamina yang bertujuan untuk memodernisasi dan meningkatkan kapasitas kilang minyak dalam negeri. Meskipun demikian, beberapa ahli menilai bahwa RDMP belum mampu menciptakan swasembada energi secara nyata.
RDMP: Penguatan Kapasitas Pengolahan atau Solusi Komprehensif?
Prof Muhammad Bachtiar Nappu, Pakar Energi dari Universitas Hasanuddin, menilai bahwa RDMP lebih tepat dipahami sebagai penguatan kapasitas pengolahan domestik, bukan solusi komprehensif menuju kemandirian energi. Menurutnya, RDMP tidak menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Bahkan, Indonesia masih harus mengimpor bahan baku minyak mentah untuk kemudian diolah di kilang RDMP.
“Kita belum (swasembada), nol besar. RDMP di Balikpapan itu hanya jaringan pengolahan, bukan jaringan pasokan. RDMP itu mengolah minyak mentah, sementara pasokan minyak mentahnya tidak ada, jadi apa yang mau diolah,” ujarnya dalam sebuah diskusi publik di Makassar.
Menurut Prof Bachtiar, RDMP masih menjadi langkah pragmatis pemerintah dalam jangka pendek. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada energi fosil hingga 80 persen, baik untuk BBM maupun listrik yang bersumber dari batu bara. Data konsumsi BBM menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara produksi dan konsumsi. Lifting minyak atau volume produksi minyak siap jual masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari (bph), sementara konsumsi telah mencapai sekitar 1,4 juta bph. Kondisi ini membuat ketergantungan terhadap impor tetap tinggi.
Perlu Transisi ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
Meski demikian, Prof Bachtiar menilai RDMP tetap menjadi langkah positif untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, hanya saja belum dapat disebut sebagai swasembada energi. Ia mendorong pemerintah untuk mulai serius beralih ke EBT yang sumber dayanya tersedia di dalam negeri. EBT seperti matahari, angin, dan biomassa bisa menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Namun, transisi dari energi fosil ke EBT bukan perkara mudah. Infrastruktur dan kebutuhan anggaran yang besar memerlukan kajian mendalam. “EBT sangat menggiurkan, tapi ada kelemahannya. Kecepatan angin berubah-ubah, radiasi matahari juga berubah, sehingga output generator ikut berubah,” jelasnya.
Solusi yang ditawarkan adalah penerapan smart grid untuk menjaga stabilitas pasokan energi. Menurutnya, smart grid memungkinkan sistem energi saling menutup kekurangan. Saat produksi energi angin atau surya menurun, pasokan dapat ditopang oleh sistem penyimpanan daya. “Ketika solar atau angin di puncak, energinya bisa disimpan di power bank. Saat produksinya turun, power bank yang menyuplai,” ujarnya.
Regulasi dan Investasi yang Dibutuhkan
Dalam penerapan EBT, kepastian regulasi juga dinilai krusial karena biaya investasi yang tidak sedikit. “Investasi di sektor energi butuh dukungan regulasi. Investor perlu jaminan bahwa PLN akan membeli daya yang dihasilkan, karena dana yang dibutuhkan untuk membangun sangat besar,” katanya.
Selain itu, Pakar Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Dr Syamsuri Rahim, mengingatkan besarnya anggaran negara yang terserap untuk sektor energi, khususnya subsidi BBM. “Sehingga dibutuhkan alternatif untuk mendorong kemampuan mengatasi kebutuhan energi kita secara lebih efektif,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Pakar Kebijakan Publik M. Kafrawy Saenong juga menilai transisi dari energi fosil ke EBT sudah menjadi kebutuhan mendesak. Cadangan energi fosil yang terus menipis tidak dapat diperbarui, sementara kondisi geopolitik global yang semakin rentan membuat energi fosil rawan menjadi tumpuan utama.
“Transisi energi menjadi tantangan setelah investasi besar di bahan bakar fosil harus dialihkan ke EBT,” katanya. Selain impor yang menyedot anggaran besar, subsidi BBM juga semakin membebani keuangan negara. Transisi energi dinilai menjadi momentum tepat untuk mulai dijalankan secara serius pada era pemerintahan Prabowo.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












