Perjalanan Cinta Meriyati Roeslani Hoegeng dan Jenderal Hoegeng
Meriyati Roeslani Hoegeng, istri almarhum Jenderal Hoegeng, meninggal dunia pada usia 100 tahun di kediamannya di Depok, Jawa Barat, pada 3 Februari 2026. Kehidupannya yang penuh dengan ketabahan dan kesederhanaan menjadi contoh bagi banyak orang, terutama dalam menjalani hubungan pernikahan yang penuh cinta dan kesetiaan.
Selama hidupnya, Meri dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja. Ia pernah berjualan sate untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat suaminya bertugas tanpa menerima gaji. Bahkan, ia rela tinggal di garasi mobil hingga rumah dinas yang sempit tanpa mengeluh sedikit pun.
Kesetiaan Meri kepada Jenderal Hoegeng terlihat jelas, bahkan ketika suaminya dipensiunkan dini karena memegang teguh kejujuran dalam mengusut kasus hukum. Kabar wafatnya Meriyati menyisakan duka mendalam, khususnya bagi keluarga besar kepolisian.
Berikut ini adalah perjalanan cinta Meriyati dan Jenderal Hoegeng yang penuh makna:
Berjualan Sate
Hoegeng dan Meri menikah pada 31 Oktober 1946. Di awal pernikahan, Meri rela berjualan sate untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dijelaskan dalam buku “Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan” karya Abrar Yusra dan Ramadhan K., bahwa saat itu Hoegeng masih berstatus mahasiswa di Akademi Kepolisian di Yogyakarta.
Namun, agresi Belanda menyebabkan akademi itu tidak jelas nasibnya. Suatu hari, Hoegeng mendapat tugas dari Kapolri Soekanto Tjokrodiatmodjo untuk menyusun jaringan sel subversi, menghimpun informasi, hingga membujuk pasukan NICA untuk membela Indonesia. Meski mendapat tugas dari Kapolri, Hoegeng tak menerima gaji. Begitu pula dengan pekerjaannya sebagai pelayan restoran ‘Pinokio’. Sebagai ganti, pemilik resto memberikan makanan gratis tiap hari untuk pegawainya, termasuk Hoegeng. Di tempat yang sama, Meri berjualan sate.
Menariknya, tak ada seorang pun yang tahu Hoegeng dan Meri adalah pasangan suami istri saat itu.
Tinggal di Garasi
Pada tahun 1952, Hoegeng mendapat tugas ke Surabaya untuk menjadi Wakil Kepala Direktorat Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN). Di sana, Hoegeng mendapat informasi dari bawahannya bahwa hanya ada satu rumah dinas yang tersisa. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, satu kamar mandi, dan dapur. Namun, Hoegeng tidak mengeluh.
“Keadaannya bagaimana?” tanya Hoegeng.
“Kamarnya ada dua, Pak! Ada kamar mandi, dapur!”
“Kalau begitu, ya saya pindah ke sana saja!”
“Tapi Pak, kurang pantas bagi Bapak. Rumah itu hanya untuk yang berpangkat inspektur polisi!”
“Ya sudah peduli amat. Saya kan belum punya rumah,” ujar Hoegeng dengan nada gembira seperti yang dituliskan dalam buku “Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan”.
Sejak saat itu, Meri tak pernah lagi bertanya tentang rumah mungil itu. Ia semakin terbiasa dengan kondisi serba sulit, apalagi dengan kemauan Hoegeng yang tak pernah berpikir bisa hidup mewah. Saat di Jakarta, Meri dan Hoegeng bahkan pernah tinggal di garasi mobil seorang kerabat.
Difitnah
Meri pernah difitnah oleh pedagang gelap di Sumatra Utara. Ia disebut menerima cincin berlian dari mereka. Gusar bukan main, Hoegeng memboyong Meri ke kantor untuk dikonfrontasi dengan pedagang yang terlibat kasus penyelundupan bahan pakaian.
“Kenal orang ini?” tanya Hoegeng kepada Meri.
Meri menatap orang India itu lalu menggelengkan kepala.
Lalu kepada pedagang India itu Hoegeng pun bertanya, “Kamu kenal orang ini?”
“Tidak pak,” aku si pedagang.
Hoegeng yang tak lagi kuasa menahan amarahnya pun berteriak bahwa wanita yang ada di hadapan orang India itu adalah istrinya.
“Lalu, bagaimana bisa istri saya ini kau hadiahi cincin berlian?” tukas Hoegeng.
Orang India itu terlihat gelagapan, takut, dan malu. Hoegeng sampai memaki dan melemparkan asbak karena tidak terima mendapat fitnah keji itu.
Tolak Hadiah Mewah
Tak sampai di situ saja, keluarga Hoegeng sempat pula dihadiahi barang-barang mewah, mulai dari mesin cuci, pakaian bermerk, hingga alat elektronik yang dikirim ke rumah. Mengetahui adanya pemberian hadiah, Meri tak mau begitu saja menerima. Ia langsung melapor ke sang suami.
Sadar hadiah tersebut adalah bentuk suap, Hoegeng dan istri memutuskan untuk mengembalikan seluruh barang-barang itu. Keteguhan Hoegeng dalam menjaga harga diri ternyata bentuk keteladanannya terhadap sosok Bung Hatta.












