Istri Jenderal Hoegeng Meninggal, Wali Kota Depok Beri Belasungkawa

Kehidupan dan Warisan Meriyati Roeslani Hoegeng

Meriyati Roeslani Hoegeng, istri dari Eks Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada usia 100 tahun, Selasa (3/2/2026). Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak, termasuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok Supian Suri dan Chandra Rahmansyah yang melayat ke rumah duka.

Supian menyebut almarhumah sebagai sosok hebat, tulus, dan penuh keteladanan yang memberi banyak inspirasi. Dukungan moral dari almarhumah menjadi bagian penting dalam perjalanan Pilkada 2024 lalu. Mereka mengunjungi rumah duka di Perumahan Pesona Khayangan Estate DG-DH 1, RT 003/RW 028, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya pada Selasa malam.

Di hadapan keluarga Jenderal Hoegeng, Supian dan Chandra menyampaikan rasa duka atas kepergian sang ibu. Menurut Supian, almarhumah Meriyati Hoegeng merupakan sosok yang melahirkan kebijakan-kebijakan luar biasa. “Kami Pemerintah Kota Depok turut berduka cita mewakili masyarakat Kota Depok dan juga masyarakat Indonesia,” katanya.

Ketulusan dan keikhlasan almarhumah mencintai negeri ini menjadi motivasi bagi Supian dan Chandra untuk mengikuti kontestasi Pilkada 2024. “Dukungan dari beliau sangat berarti selama proses pesta demokrasi,” ujarnya.

Penghormatan dari Kapolri

Terpisah, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Meriyati Roeslani Hoegeng atau dikenal dengan panggilan Eyang Meri, istri almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Dalam keterangannya, ia menyampaikan rasa duka dari seluruh keluarga besar institusi Polri dan Bhayangkari.

Kapolri menyebut almarhumah bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga teladan dan inspirasi bagi generasi penerus Polri dan Bhayangkari. “Beliau menjadi pelita keteladanan bagi kami. Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga marwah institusi,” ujar Jenderal Listyo.

Ia juga mendoakan agar segala jasa dan amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT. “Semoga beliau mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT. Kepada keluarga besar yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan,” tambahnya.

Kehidupan yang Penuh Keteladanan

Meriyati Roeslani Hoegeng dikenal sebagai sosok istri setia dari Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso, Kapolri legendaris yang identik dengan kejujuran dan ketegasan. Lahir sekitar tahun 1925–1926, Meriyati menjalani hidup panjang dengan penuh kesederhanaan dan keteguhan nilai, seiring pengabdiannya mendampingi sang suami dalam tugas negara.

Sebagai pendamping Hoegeng Imam Santoso, Meriyati sering berada di balik layar, namun perannya sangat penting. Ia menjadi penopang moral keluarga di tengah tekanan jabatan tinggi dan sikap tegas Hoegeng yang kerap berseberangan dengan kekuasaan. Kesederhanaan hidup keluarga Hoegeng juga tak lepas dari dukungan Meriyati yang konsisten menjaga prinsip hidup bersih dan jujur.

Meriyati dikenal sebagai pribadi yang kuat, bersahaja, dan rendah hati. Meski menyandang status sebagai istri Kapolri, ia menjalani kehidupan tanpa kemewahan. Nilai integritas dan kesetiaan pada kebenaran yang melekat pada Hoegeng juga tercermin dalam sikap hidup Meriyati sehari-hari.

Perjalanan Terakhir

Dalam kehidupan keluarga, Meriyati berperan besar membesarkan anak-anaknya dengan nilai kedisiplinan dan kejujuran. Ia menjadi figur ibu yang tegas namun penuh kasih, serta teladan dalam menjaga martabat keluarga di tengah sorotan publik terhadap sosok Hoegeng.

Pada tahun 2020, Meriyati mengalami cedera pada bagian paha yang membuatnya tidak lagi mampu berdiri. Sejak saat itu, ia lebih banyak terbaring di tempat tidur dan menjalani hari-harinya dengan kondisi fisik yang semakin terbatas, namun tetap mendapat perawatan dan perhatian penuh dari keluarga.

Meriyati Roeslani Hoegeng wafat pada Selasa, 3 Februari 2026, dalam usia 100 tahun, setelah menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang perempuan tangguh yang setia mendampingi ikon kejujuran bangsa, meninggalkan warisan nilai moral dan keteladanan bagi generasi penerus.

Cerita Sang Anak

Sebelum meninggal, mendiang Meriyati Hoegeng menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Sang anak, Aditya Soetanto Hoegeng menceritakan, ibunya tidak memiliki penyakit tertentu, hanya kesehatan mendiang semakin melemah.

Sebelum meninggal dunia, Meriyati Hoegeng sudah dua kali menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati. “Ibu dua kali dirawat, pertama di pertengahan Oktober 2025, lalu sudah dinyatakan boleh pulang. Tapi dua hari di rumah, Ibu sudah tidak mau makan, akhirnya kita bawa lagi ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya, dari tanggal 26 sampai hari ini,” kata Aditya saat ditemui di rumah duka.

Selain itu, mendiang Meriyati Hoegeng juga pernah mengalami cedera paha pada tahun 2020 silam. Alhasil, ia sudah tak lagi mampu berdiri dan hanya dapat terbaring di tempat tidur selama kurang lebih 6 tahun.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *