Budaya  

Bukti Warisan Tionghoa Asli di Rumah Kebaya Cina Benteng Tangerang

Sejarah dan Filosofi Rumah Kebaya Cina Benteng di Tangerang

Rumah Kebaya Cina Benteng di Tangerang bukan hanya sekadar bangunan tua dari kayu. Di dalamnya, tersimpan kisah tujuh generasi keluarga Cina Benteng yang tinggal dan merawatnya, sejak zaman leluhur datang dari Tiongkok hingga kini. Bangunan ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup masyarakat Tionghoa peranakan yang berbaur dengan budaya lokal.

Rumah Kebaya Cina Benteng adalah rumah tradisional khas masyarakat peranakan Cina Benteng di Tangerang. Terletak di tengah kawasan persawahan, rumah ini dibangun oleh keluarga petani keturunan Tionghoa yang sudah menetap di wilayah ini selama generasi kelima. Saat ini, rumah tersebut ditempati oleh generasi kelima bernama Tio Tiong Suih, warga Cirarab, Desa Cirarab, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

Sejarah Keluarga Marga Tio

Tio Tiong Suih tinggal di rumah leluhur ini, yang awalnya dimulai dari generasi pertama dari Tiongkok, yaitu Kongco Goeng. Sampai saat ini, rumah ini sudah masuk generasi ketujuh. Zaman dulu, generasi pertama membuka lahan pertanian. Kemudian turun-menurun memiliki anak, termasuk generasi kedua bernama Ahoi, ketiga Ponyan, keempat Congkun, dan kelima Tiong Suih. Generasi berikutnya adalah anak-anak Tiong Suih, dan saat ini sudah memasuki generasi ketujuh, yaitu cucu-cucu Tiong Suih.

Struktur dan Fungsi Rumah

Luas bangunan Rumah Kebaya Cina Benteng keseluruhan kurang lebih 800 meter persegi, termasuk garasi-garasi mobil, halaman, dan altar. Dari dulu, rumah ini memiliki ukuran lebar, mulai dari pintu pagar sampai dengan halaman. Halaman yang luas biasanya digunakan sebagai tempat menjemur gabah atau melaksanakan upacara-upacara adat, seperti perkawinan atau kematian. Jadi, tidak perlu menyewa rumah duka atau rumah kawin saat ada acara demikian.

Selain itu, ada pasan yang digunakan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat menaruh gabah hasil pertanian. Rumah ini ciri khasnya dari kayu, bukan kayu sembarangan, kebanyakan kayu nangka. Model-model kayunya berbeda dengan ukuran besar dan kokoh. Berbeda dengan rumah-rumah sekarang. Jendela, daun, pintu juga beda, termasuk engsel pintu pun beda. Dari dulu, engselnya tidak pernah menggunakan besi. Kebanyakan dari kayu semua.

Bagian-Bagian Penting dalam Rumah

Sekarang jendelanya dibuka dan dilipat, sedangkan zaman dulu jendela disorok dan disebut muntun. Yang bagian terpenting di rumah ini adalah bagian rumah tengah, disebut rumah abu. Ada anggapan bahwa rumah besar itu bagian terpenting adalah altar leluhur dari zaman yang pertama sampai sekarang.

Dalam sudut pandang orang Cina Benteng, Rumah Kebaya itu punya makna dan filosofi tersendiri. Salah satunya adalah bagian-bagian dimulai dari depan yang disebut dengan altar, masuk lagi disebut dengan paseban, masuk lagi ke dalam ada yang namanya tia, belakangnya tia itu ada yang namanya cemceh, kiri kanan adanya pangkeng dan adanya juga emper.

Kamar disebut pangkeng, terdapat tempat tidur yang memiliki model zaman dulu. Ranjang tidak ada sekat, langsung terhubung dalam rumah gede, rumah abu, dan rumah dapur. Kentong-kentong yang digunakan masih asli dari zaman dulu, tempat minum yang disebut kendi masih digunakan sampai sekarang. Karena masih tersedia banyak kayu di sini, maka memasak pun menggunakan kayu bakar dengan kompor tungku yang khas. Ada juga khusus tempat beras yang disebut pangkeng beras, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan.

Perawatan dan Keberlanjutan

Dari zaman dulu, menjaga Rumah Kebaya Cina Benteng ini tidak terlalu rumit, kemungkinan menggunakan kayu kuat yang tahan rayap. Untuk membuat tetap awet, setidaknya setahun atau dua tahun sekali dicat pernis untuk menjaga agar tidak terkena rayap. Genteng-genteng yang bocor diperbaiki, agar bentuk dan keaslian rumah ini tetap terjaga. Sampai sekarang, rumah ini tidak menggunakan internet, masih seperti semula.

Budaya dan Pertanian di Sekitar

Kebanyakan warga di kampung Cirarab ini memiliki aktivitas pertanian dan peternakan. Dan yang mempunyai rumah leluhur seperti Rumah Kebaya Cina Benteng ini selalu dijaga, dilestarikan agar bisa diwariskan untuk generasi berikutnya, jangan sampai punah.

Di tengah kota yang terus berubah, rumah ini menjadi saksi bisu akulturasi budaya Tionghoa dan lokal di Kabupaten Tangerang. Rumah Marga Tio menjadi bukti bahwa sejarah bisa tetap hidup selama ada yang mau merawatnya.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *