Lonjakan Harga Plastik: Ancaman Baru bagi Pasar Tradisional Cirebon

Lonjakan Harga Plastik Kemasan yang Mengganggu Aktivitas Pasar Tradisional

Lonjakan harga plastik kemasan kini menjadi isu baru yang diam-diam menekan aktivitas pasar tradisional. Memasuki April 2026, kondisi ini semakin terasa di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon. Di mana beban pedagang tak hanya datang dari sembako, tetapi juga dari kebutuhan pendukung yang tak terpisahkan.

Jika sebelumnya plastik dianggap hal sepele, kini justru menjadi komponen biaya yang cukup memberatkan. Kenaikannya tidak lagi bertahap, melainkan melonjak dalam waktu singkat dan langsung terasa dalam aktivitas jual beli sehari-hari.

Alami Kenaikan Signifikan

Inah, salah seorang pedagang di Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon menyebut, harga berbagai jenis plastik, mulai dari kantong belanja hingga kemasan makanan, mengalami kenaikan signifikan. “Meski tidak memiliki standar harga resmi seperti bahan pangan, lonjakan ini dirasakan nyata dan konsisten,” ujar Inah Senin, 6 April 206.

Pantauan di lapangan memperlihatkan adanya penyesuaian harga di tingkat penjual. Di salah satu toko, yakni Toko Plastik Kembar, terlihat perubahan harga pada sejumlah jenis plastik dibandingkan periode sebelumnya.

Kenaikan ini tidak terjadi tanpa sebab. Harga bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak bumi ikut terdorong naik akibat fluktuasi global. Situasi geopolitik yang belum stabil memperpanjang tekanan pada rantai pasok dan distribusi. Karena itu, pemerintah pun mulai bergerak merespons kondisi tersebut.

Cari Alternatif Pemasok

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pihaknya tengah mencari alternatif pemasok untuk meredam lonjakan harga yang mulai berdampak luas. “Kami sedang membuka peluang kerja sama dengan pemasok lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, agar harga bisa lebih stabil,” ujar Budi Santoso.

Ia menekankan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan pasar, terutama agar pelaku usaha kecil tidak semakin terbebani. “Kami berupaya menjaga distribusi tetap lancar dan harga bisa dikendalikan, sehingga pedagang tetap bisa bertahan,” tambahnya.

Di sisi lain, tekanan sudah lebih dulu dirasakan di tingkat bawah. Idah, salah seorang pedagang sembako di Pasar Sumber mengaku biaya operasionalnya meningkat akibat harga plastik yang terus naik. “Sekarang plastik mahal banget. Naiknya kerasa cepat, nggak seperti dulu,” ujarnya.

Menurutnya, plastik merupakan kebutuhan yang tidak bisa digantikan dalam aktivitas jual beli. “Mau nggak mau tetap beli. Kalau nggak ada plastik, pembeli juga kesulitan,” katanya.

Kenaikan ini pun berdampak langsung pada keuntungan pedagang yang kian menipis, terlebih di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. “Untung makin kecil. Harga naik, tapi pembeli justru makin hemat,” tambahnya.

Perparah Kondisi Pasar

Meski harga terus merangkak naik, penggunaan plastik belum bisa ditinggalkan. Baik pedagang maupun pembeli masih bergantung pada kemasan tersebut dalam setiap transaksi. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi tidak hanya datang dari bahan pangan, tetapi juga dari kebutuhan penunjang yang selama ini kurang mendapat sorotan.

Jika tidak segera dikendalikan, lonjakan harga plastik berpotensi memperparah kondisi pasar tradisional yang saat ini mulai melambat. Kini, upaya pemerintah mencari pemasok alternatif menjadi harapan baru agar harga kembali stabil dan aktivitas perdagangan di pasar rakyat dapat kembali bergairah.


Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *