100 Pusat Data Ancam Kenaikan Suhu Jakarta 3,65 Derajat Celsius

Pusat data atau data center yang digunakan untuk kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memerlukan energi dalam jumlah besar, tetapi juga menghasilkan panas yang dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya.

Menurut Albertus Sulaiman, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pusat data AI menghasilkan panas hingga sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan dengan pusat data konvensional. Sebagai contoh, sebuah pusat data AI dengan luas seukuran lapangan sepak bola dan ketinggian 14 meter (dua lantai) mampu menghasilkan panas sebesar 168 megawatt (MW) dari operasional graphics processing unit (GPU). Jika ditambahkan panas yang dihasilkan oleh mesin pendingin, total panas yang dikeluarkan mencapai 210 MW. Angka ini setara dengan satu juta setrika listrik yang dinyalakan secara bersamaan.

Panas tersebut dipancarkan 24 jam non-stop, sehingga mampu meningkatkan suhu di sekitarnya sebesar 0,5 derajat Celsius secara klimatologi. Dalam konteks Jakarta, yang merupakan lokasi dengan jumlah pusat data terbanyak di Indonesia, jika diasumsikan 100 pusat data sebagai pusat data AI, maka panas tersebut dapat menyebar ke seluruh Jakarta dan memengaruhi rata-rata suhu kota tersebut yang saat ini berkisar di angka 28°C.

Jika Jakarta dianggap sebagai kubah dengan jari-jari 40 kilometer, maka dalam setahun kota ini akan mengalami kenaikan suhu sebesar 3,65 derajat Celsius. Hal ini berarti suhu rata-rata 28°C bisa meningkat menjadi 32°C dalam waktu setahun.

Risiko Sengatan Panas

Albertus menjelaskan bahwa peningkatan suhu ini membawa risiko sengatan panas. Pada suhu rata-rata 28°C dan tingkat kelembapan 80%, indeks panas yang dirasakan tubuh sekitar 32°C atau dalam kategori waspada. Namun, jika suhu naik menjadi 32°C dengan tingkat kelembapan yang sama, indeks panas yang dirasakan tubuh melonjak menjadi 45-48°C. Ini adalah kondisi bahaya yang memiliki risiko terkena head stroke atau sengatan panas karena keringat manusia tidak bisa menguap untuk mendinginkan tubuh.

Meski demikian, Albertus menyebut bahwa Jakarta sebagai kota pantai memiliki land-sea breeze circulation yang bisa memberikan koreksi sebesar 0,032°C. Dengan demikian, risiko sengatan panas baru akan terjadi sekitar 125 tahun ke depan.

Bagaimana untuk Meredam Risikonya?

Untuk meredakan dampak-dampak tersebut, Albertus mengusulkan tiga cara. Pertama, perlu adanya regulasi yang mengharuskan power usage effectiveness (PUE) pusat data AI berada dalam kategori sangat efisien. Dengan begitu, fasilitas penting AI itu hanya akan membuang sedikit panas.

Kedua, panas dari pusat data dapat dimanfaatkan, misalnya untuk industri pengeringan makanan atau kebutuhan lainnya. Ketiga, keberadaan pusat data perlu diiringi dengan adanya radiator panas seperti hutan kota. Luasan hutan kota harus proporsional dengan luas bangunan pusat data, sehingga membantu penyerapan panas melalui evapotranspirasi (penguapan air).

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *