Sanksi untuk Pemain yang Tinggalkan Pelatnas, BAM Diusulkan Tindak Lanjuti



Pembahasan mengenai sanksi bagi pemain yang meninggalkan pelatihan nasional bulu tangkis Malaysia kembali muncul setelah salah satu atletnya memutuskan untuk mundur.

Beberapa pihak mengusulkan bahwa pemain yang keluar dari pelatnas akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar 500.000 ringgit Malaysia atau sekitar 2 miliar rupiah, atau larangan bermain selama dua tahun. Meskipun terdengar keras, mantan atlet legendaris Malaysia, Datuk Rashid Sidek, menyatakan bahwa aturan tersebut dapat dibenarkan.

Salah satu pemain yang meninggalkan Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) tahun ini adalah Go Pei Kee, yang merupakan ganda putri. Keputusan ini memaksa pelatih ganda putri nasional, Rosman Razak, harus mencari pasangan baru untuk Teoh Mei Xing menjelang Uber Cup 2026. Namun, Pei Kee tidak akan dikenakan sanksi karena aturan tersebut belum diresmikan hingga rapat dewan pada Mei. Meski demikian, klausul pelanggaran sudah tercantum dalam kontrak pemain.

Sekretaris BAM, Datuk Kenny Goh, menjelaskan bahwa kontrak tersebut dirancang agar adil bagi kedua belah pihak. Pemain yang meninggalkan klub sebelum waktunya bisa menghadapi larangan bermain di kompetisi internasional selama dua tahun atau membayar kompensasi antara 300.000 hingga 500.000 ringgit Malaysia, tergantung peringkat dunia mereka saat kepergian.

Rashid menegaskan bahwa BAM memiliki hak penuh untuk menerapkan tindakan tersebut setelah melakukan investasi besar-besaran pada para pemain. “Itu adil,” ujarnya. Mantan pemain nomor 1 nasional ini juga menjadi bagian dari tim Malaysia yang memenangkan Thomas Cup 1992.

BAM telah banyak berinvestasi pada para pemain. “Saat ini, ketika seorang pemain mencapai level tertentu, mereka bisa memilih untuk pergi meskipun jasa mereka masih dibutuhkan. Di sinilah batasan perlu ditarik.”

Namun, Rashid menekankan bahwa aturan tersebut harus diterapkan secara kasus per kasus. “Beberapa pemain mungkin cedera dan tidak bisa berkontribusi. Dalam situasi seperti itu, BAM bisa berterima kasih atas jasa mereka dan melepaskan mereka meskipun kontrak belum selesai.”

Mengenai Ng Tze Yong, mantan pemain nomor 1 nasional yang belum berkompetisi selama hampir setahun, Rashid mengatakan BAM tetap mendukung pemain tersebut. “Tze Yong adalah kasus yang berbeda. Dia masih punya potensi dan asosiasi memberikan dukungan penuh kepadanya, yang bagus.”

Pemain berusia 25 tahun ini terakhir kali tampil pada Malaysian Masters 2025. Saat ini, dia berada di peringkat ke-211 dunia, namun tetap menerima pendapatan sama dengan pemain top tim. Bahkan, ia dikirim ke Doha untuk menjalani operasi ligamen anterior cruciate (ACL) agar bisa pulih lebih cepat.

Pada 1990-an, BAM pernah memberlakukan hukuman serupa ketika Roslin Hashim dan Ismail Saman meninggalkan tim nasional dengan kesepakatan terpisah membayar masing-masing 67.000 (Rp 283 juta) dan 44.000 ringgit Malaysia (Rp 186 juta).

Langkah serupa pada 2022 yang melibatkan Lee Zii Jia dan Goh Jin Wei tidak terwujud setelah mendapat kecaman publik. Situasi ini mendorong BAM untuk membatalkan keputusan mereka menjatuhkan larangan bertanding Lee dan Goh selama dua tahun.

Kedua pemain tersebut sekarang berstatus profesional tetapi telah diundang untuk bergabung dengan persiapan tim nasional untuk Thomas dan Uber Cup 2026 di Horsens, Denmark, mulai 24 April hingga 3 Mei.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *