Bisnis  

Dari Pesanan Teman, Fuadi Kini Punya Ratusan Produk Benang Bintik Kalteng

Khas Kalimantan Tengah, Tas dan Aksesoris Benang Bintik Menarik Perhatian Pengunjung CFD

Di tengah suasana Car Free Day (CFD) Jalan Yos Sudarso, pada Minggu (29/3/2026), deretan tas dan aksesoris bermotif khas Kalimantan Tengah menarik perhatian pengunjung. Produk-produk ini dijual di bawah tenda biru yang terlihat rapi dan menarik. Warna-warna cerah berpadu dengan corak benang bintik yang unik, mencuri perhatian para pengunjung.

Pemilik usaha, Fuadi (35), tampak sibuk melayani pembeli. Ia tidak hanya memperlihatkan detail produk, tetapi juga menjelaskan bahan serta menawarkan model yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Namun, usaha ini tidak lahir secara instan. Fuadi mulai merintis bisnisnya sejak Desember 2019, awalnya berawal dari permintaan seorang teman yang ingin dibuatkan tas.

Dari situ, ia mencoba menjahit sendiri secara rumahan. Awalnya, sang istri lebih dulu menekuni pekerjaan kerajinan dari bahan “purun” lalu menjahit. Seiring waktu, Fuadi ikut belajar hingga kini keduanya berbagi peran dalam produksi.

Perjalanan Awal yang Penuh Tantangan

Pada awalnya, pemasaran hanya dilakukan dari rumah dan sesekali mengikuti pasar malam. Hingga akhirnya, pada 2022, ia mulai mencoba berjualan di kawasan CFD. Saat itu, kondisinya jauh berbeda dengan sekarang. Fuadi hanya membawa beberapa produk menggunakan kantong plastik (kresek), tanpa meja, tanpa tenda, bahkan tanpa display. Produk yang ditawarkan pun masih sangat terbatas, hanya satu model dengan satu warna dominan hijau.

“Awalnya cuma bawa pakai kresek, belum ada apa-apa,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat dagangannya kurang menarik perhatian. Bahkan, selama tiga minggu pertama berjualan di CFD, ia tidak berhasil menjual satu pun produk. “Orang juga sungkan mau nanya,” katanya.

Dari pengalaman itu, Fuadi mulai berbenah. Ia perlahan memperbaiki tampilan lapak, menambah variasi produk, serta menghadirkan lebih banyak motif dan warna. Kini, usahanya menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari yang awalnya hanya satu model, Fuadi telah mengembangkan lebih dari 40 jenis produk, mulai dari pouch, tas selempang hingga ransel.

Proses Produksi dan Motif Lokal

Dalam pembuatannya, satu produk bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit hingga dua jam, tergantung tingkat kerumitan. Ransel menjadi salah satu produk yang paling menantang. Bahan yang digunakan adalah kain benang bintik dengan beragam warna dan motif. Produknya juga dapat dicuci saat kotor, sehingga lebih praktis digunakan.

Meski produknya semakin beragam, Fuadi tetap mempertahankan identitas lokal dalam setiap karyanya. Ia memilih menggunakan motif khas Kalimantan Tengah benang bintik seperti motif kelakai, huma betang, dan batang garing. Motif benang bintik sendiri merupakan batik khas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang mengandung makna tentang kehidupan, seperti Batang Garing sebagai simbol pohon kehidupan dan Huma Betang yang melambangkan kebersamaan.

Motif tersebut mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitar. “Untuk memperkenalkan Kalimantan Tengah, biar nggak kalah sama motif dari luar seperti Jawa, Kalsel,” ujarnya.

Penjualan dan Pemasaran yang Berkembang

Produk yang dijual dibanderol mulai dari Rp20 ribu hingga Rp350 ribu. Produk yang paling diminati adalah pouch dan tas selempang karena simpel dan praktis. Kini, pembelinya tidak hanya berasal dari Palangka Raya, tetapi juga dari luar daerah seperti Surabaya, Jakarta hingga Papua.

Dalam kondisi ramai, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hari, meski tidak selalu stabil. Selain berjualan langsung, Fuadi juga memasarkan produknya melalui media sosial seperti Instagram, Facebook hingga TikTok dengan nama @naufalcollectionpky.

Harapan untuk Masa Depan

Dalam kurun waktu sekitar enam tahun sejak merintis pada 2019, usahanya berkembang dari satu model pesanan menjadi puluhan produk. Berawal dari satu pesanan teman, usaha Fuadi kini berkembang sekaligus menjadi cara memperkenalkan benang bintik khas Kalimantan Tengah yang tak kalah menarik dari motif daerah lain.

Fuadi berharap, ke depan produk berbahan benang bintik semakin dikenal luas dan diminati masyarakat, sekaligus dapat membantu melestarikan budaya lokal Kalimantan Tengah melalui karya yang terus berkembang.


Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *