Penyangkalan Menteri Keuangan terhadap Isu Resesi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyangkal klaim sejumlah ekonom yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia telah memasuki fase resesi. Ia menegaskan bahwa kondisi perekonomian nasional masih dalam posisi kuat, meskipun situasi geopolitik global yang sedang memanas, khususnya konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat, dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Resesi, menurut definisi, terjadi ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan tajam dalam jangka waktu yang cukup lama. Umumnya, hal ini ditandai dengan kontraksi Produk Domestik Bruto (PDB) riil selama dua kuartal berturut-turut atau lebih. Namun, Purbaya menyatakan bahwa situasi tersebut belum terjadi di Indonesia.
“Di luar banyak yang bilang kita sudah resesi. Ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi tinggal hancurnya,” ujarnya saat berbicara dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Kekuatan Fundamental Ekonomi Nasional
Dalam penjelasannya, Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional masih berada dalam posisi solid. Menurutnya, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berfungsi sebagai penyangga (shock absorber) ketika gejolak global meningkat. Meski pasar keuangan dunia berfluktuasi dan harga energi bergerak sangat dinamis, pemerintah menilai fondasi ekonomi domestik masih cukup tangguh.
Salah satu indikatornya adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang hingga Maret 2026 berada di kisaran US$68 per barel. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Kondisi ini memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga energi global.
“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,” ujar Purbaya.
Kinerja Industri yang Menguat
Optimisme pemerintah juga didorong oleh indikator sektor riil yang menunjukkan tren positif. Indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Februari 2026 tercatat mencapai 53,8. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir. Capaian ini bahkan disebut lebih baik dibandingkan beberapa negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.
PMI di atas angka 50 menunjukkan sektor manufaktur berada pada fase ekspansi, bukan kontraksi. “Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan,” tambahnya.
Daya Beli Masyarakat dan Inflasi Masih Terjaga
Indikator konsumsi domestik juga menunjukkan tren penguatan. Mandiri Spending Index pada Februari tercatat meningkat hingga 360,7 persen. Selain itu, penjualan mobil nasional mengalami pertumbuhan dua digit, yakni mencapai 12 persen. Sementara itu, tingkat inflasi tahunan (year on year) pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen. Namun Purbaya menilai angka tersebut dipengaruhi faktor sementara.
Menurutnya, inflasi yang relatif tinggi terjadi karena efek basis rendah (low base effect) akibat program diskon listrik pada tahun sebelumnya. Jika faktor tersebut tidak diperhitungkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 2,59 persen, masih berada di bawah target pemerintah.
Kinerja APBN: Pendapatan Tumbuh, Defisit Tetap Terkendali
Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga akhir Februari 2026 dinilai cukup positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan. Angka tersebut tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak bahkan melonjak hingga 30,4 persen.
Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu anggaran. Angka ini meningkat 41,9 persen secara tahunan. Pemerintah mempercepat realisasi belanja untuk mendorong aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Sementara itu, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap PDB, yang dinilai masih dalam batas aman.
“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Purbaya.
Kritik dari Rocky Gerung
Sebelumnya, Rocky Gerung menilai Indonesia perlu lebih waspada terhadap dampak konflik internasional yang sedang berlangsung. Menurutnya, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran merupakan faktor global yang penuh ketidakpastian dan dapat berdampak serius pada perekonomian.
“Semua hal yang akhirnya ada di depan mata kita menunjukkan bahwa kita harus bersiap untuk yang terburuk. Bersiap yang terburuk artinya memanfaatkan apa yang tersisa untuk dimaksimalkan,” ujar Rocky, dikutip dari kanal YouTube miliknya, Senin.
Dalam pernyataannya, mantan dosen Universitas Indonesia tersebut juga mengkritik optimisme yang sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan Purbaya. Menurut Rocky, optimisme tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Purbaya Akui Dapat Cibiran di TikTok
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mendapat kritik keras dari warganet di media sosial, terutama di platform TikTok. Kritik tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS.
“Dari situ sih kita masih lumayan, walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang katanya, ‘hey Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,’ tapi kita menilai harus dengan fair, apa yang terjadi dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa,” kata Purbaya saat jumpa pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan RI, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Meski mendapat kritik, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang beberapa negara lain di kawasan. Berdasarkan data pemerintah, depresiasi rupiah sejak konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran hanya mencapai sekitar 0,3 persen. Angka tersebut dinilai lebih kecil dibandingkan pelemahan mata uang di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia yang tercatat sekitar 0,5 persen dan Thailand sekitar 1,6 persen.

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












