Kondisi Cuaca Ekstrem di Bali dan Upaya Mitigasi Bencana
Sejak awal tahun 2026, Bali masih menghadapi cuaca ekstrem yang berdampak pada berbagai bencana. Dalam satu bulan saja, yaitu Januari, tercatat 12 jenis kejadian bencana. Laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Bali menyebutkan bahwa hingga saat ini telah ditangani sebanyak 495 kejadian bencana. Kejadian-kejadian tersebut mencakup pohon tumbang (214), tanah longsor (106), cuaca ekstrem (85), bangunan rusak (29), kebakaran (12), banjir (11), infrastruktur jebol (9), gelombang pasang dan abrasi (2), serta lainnya (27).
Menurut Della Ema Nurdiana, Penelaah Teknis Kebijakan dari BPBD Provinsi Bali, tren kejadian bencana hidrometeorologi dalam sepuluh tahun terakhir memang lebih tinggi dibanding bencana geologis. Pada tahun 2025, sebanyak 90 persen bencana adalah hidrometeorologi, baik kering maupun basah. Total penanganan yang dilakukan mencapai 2.644 kejadian.
Bali kembali menjadi perhatian karena berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi pada awal tahun 2026. Kondisi ini belum menunjukkan tanda-tanda surut di bulan pertama. BMKG melaporkan curah hujan dengan intensitas ekstrem (216,9 mm/hari) di Bali hingga akhir Februari. Fenomena ini dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) yang memperkuat pembentukan awan hujan di Indonesia.
Ancaman semakin nyata ketika tiga bibit siklon mulai mendekati Indonesia. Ketiga bibit siklon tersebut adalah Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia, Bibit Siklon Tropis 93S di barat laut daratan Australia, dan Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria–sebelah selatan Papua. Dari ketiga bibit siklon tersebut, Bibit Siklon 90S di Samudra Hindia memiliki potensi ancaman yang lebih besar. Kemunculannya memperkuat pembentukan awan hujan dan menghadirkan angin kencang.
Perubahan iklim menjadi isu lingkungan yang interseksional, sehingga menjadi perhatian berbagai pihak. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia Untuk Manajemen Risiko Bencana) mengupayakan langkah strategis melalui kegiatan penyusunan Rancangan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Renja OPD) Tematik Resiliensi terhadap Bencana dan Perubahan Iklim Provinsi Bali Tahun 2027.
Penyusunan Renja ini mengacu pada mandat pembangunan nasional yang tertuang dalam RPJPN 2025-2045 dan selaras dengan kebijakan RPJMN 2025-2029 yang mengedepankan ketahanan iklim dan kebencanaan sebagai prasyarat transformasi ekonomi. I Wayan Wiasthana Ika Putra, Kepala Bappeda Provinsi Bali, menjelaskan bahwa perubahan iklim saat ini ekstrem, namun dari sisi perencanaan harus kita mitigasi. Seluruh perangkat daerah harus berperan, tidak hanya dinas terkait fungsi kebencanaan.
Isu perubahan iklim dan upaya penanggulangan bencana menjadi agenda prioritas dalam RPJMD Provinsi Bali. Secara khusus, Tujuan 6 “Terwujudnya Stabilitas Keamanan Sosial di Masyarakat” dengan Sasaran 2 “Meningkatkan Ketahanan Daerah terhadap Bencana dan Perubahan Iklim” menjadi fokus utama.
Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana, ada tiga isu strategis yang perlu diperhatikan, yaitu kurangnya kesadaran kolektif atas risiko bencana dan perubahan iklim, belum optimalnya sinergitas, serta pembangunan yang belum sepenuhnya menyertai pengelolaan risiko bencana. Jika output dari lokakarya ini tercapai, maka tiga isu strategis ini akan terselesaikan.
Kegiatan renja yang berlangsung pada 11-13 Maret 2026 ini mempertemukan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provinsi Bali. Harapannya melalui pertemuan dan diskusi kolaboratif ini mampu mendorong pengintegrasian agenda resiliensi bencana dan perubahan iklim ke dalam prioritas pembangunan daerah; memperkuat kapasitas perangkat daerah terkait perubahan iklim dan penanggulangan bencana; serta mendorong kolaborasi lintas sektor dan kemitraan pembangunan untuk mewujudkan resiliensi terhadap bencana dan perubahan iklim di Provinsi Bali.
Siklon tropis yang mengarah ke daratan Indonesia tidak terlepas dari dampak perubahan iklim. Awalnya aktivitas ini menjadi fenomena, namun semakin dekat ke daratan, lalu menghadirkan bencana. Siklon dapat dipengaruhi aktivitas atmosfer yang tidak stabil.
Sebagian besar wilayah di dunia menghadapi peningkatan bahaya akibat perubahan iklim, termasuk kehadiran siklon tropis yang semakin kuat. Peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim mendorong pembentukan siklon tropis yang frekuensinya semakin besar.
Beberapa ilmuwan memprediksi aktivitas siklon tropis di dekat pesisir dan yang menembus lebih jauh ke daratan akan meningkat di masa depan karena pengaruh perubahan iklim. Dalam International Workshop on Tropical Cyclones ke-10 (IWTC-10) yang digelar di Bali pada Desember 2022 lalu, para ilmuwan merekomendasikan beberapa hal, salah satunya pembentukan mekanisme kolaborasi multi-institusional.
Kolaborasi ini melibatkan pihak operasional dan peneliti serta lembaga manajemen bencana untuk secara aktif berkolaborasi dalam merespon siklon tropis.
Siklon adalah satu dari berbagai kejadian bencana yang terjadi di Bali. Untuk itu, Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Ni Putu Ayu Puryani, mengungkapkan bahwa dalam mengupayakan adaptasi perubahan iklim tentunya harus ada identifikasi wilayah dan/atau sektor yang terdampak perubahan iklim. Lalu dilakukan kajian kerentanan dan risiko iklim.
Peserta dari berbagai macam OPD yang terlibat dalam lokakarya penyusunan renja ini dibagi berdasarkan sektornya, seperti infrastruktur, sosial, ekonomi, lingkungan, serta tata kelola dan kelembagaan. Pembagian kelompok ini akan membantu peserta dalam mengidentifikasi isu-isu terkait perubahan iklim dan bencana yang diakibatkannya berdasarkan keahlian dan peran masing-masing.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












