Fakta-Fakta di Balik Tragedi Kecelakaan Maut di Minahasa Selatan
Tragedi kecelakaan yang menewaskan dua sosok PNS, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, mengundang duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat. Keduanya meninggal dunia setelah mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya menabrak pohon serta bangunan rumah makan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.
Sosok Korban: Dedikasi Guru dan Humas Intelijen
Fanni Anelsia Mustaki adalah seorang Pranata Humas pada bidang Intelijen di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan selalu membawa suasana hangat di lingkungan kerja. Rekan kerjanya, Yursin Djafar, mengungkapkan bahwa Fanni tidak hanya menjadi teman sekantor, tetapi juga sosok yang sangat ceria dan humble. Ia masih beraktivitas seperti biasa hingga Jumat sebelum kejadian dan bahkan sempat menyampaikan rencananya untuk melakukan perjalanan ke Manado.
Sementara itu, Yessi Sukersi Mustaki adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Gorontalo. Di mata para murid dan rekan sejawat, Yessi dikenal sebagai pendidik yang sabar dan sangat welcome saat mengajar. Mantan siswanya, Widiastuti, mengingat bagaimana ia selalu bersedia mengulang materi dari awal demi pemahaman muridnya.
Kronologi Kejadian di Jalur Trans Sulawesi
Perjalanan yang dimulai dari arah Gorontalo menuju Kota Manado dalam rangka mengunjungi ibu mereka berubah menjadi tragedi memilukan. Mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh Ismail Zees melaju dengan kecepatan tinggi sebelum kehilangan kendali. Akibatnya, mobil menabrak pohon dan bangunan rumah makan di pinggir jalan, sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada kendaraan.
Dalam kecelakaan ini, terdapat empat orang di dalam kendaraan. Dua di antaranya, yaitu Fanni dan Yessi, meninggal dunia di lokasi kejadian. Pengemudi, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, satu penumpang lainnya, Doni Tentero, mengalami luka ringan.
Niat Mengunjungi Ibu di Masa Libur
Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan dinas, melainkan perjalanan keluarga yang didasari rasa rindu. Kedua korban berniat mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu libur. Namun, harapan untuk berkumpul bersama keluarga seketika berubah menjadi duka yang sangat berat bagi keluarga besar Mustaki.
Korban Luka dan Proses Evakuasi Medis
Selain Fanni dan Yessi, pengemudi mobil, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RSUD Teep Minsel. Satlantas Polres Minsel sedang melakukan penyelidikan terkait faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor teknis kendaraan atau kelalaian manusia.
Pesan Terakhir yang Tak Biasa
Sebuah fakta menyedihkan terungkap mengenai komunikasi terakhir Fanni Anelsia Mustaki sebelum maut menjemput. Menurut tetangga korban, Apris Doda, Fanni menunjukkan gelagat tidak biasa dengan menghubungi pamannya melalui telepon pada malam sebelum kejadian. Dalam percakapan singkat tersebut, Fanni menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu.
Penghormatan Terakhir dari Pimpinan Daerah
Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan penghormatan terakhir secara resmi atas dedikasi keduanya sebagai PNS. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir langsung di rumah duka untuk memimpin prosesi pelepasan jenazah. Wakil Gubernur Idah Syahidah pun turut hadir mengantarkan kedua jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Suasana Haru Pemakaman di Rumah Duka
Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) diwarnai isak tangis yang pecah dari ratusan pelayat. Salat jenazah dilaksanakan di badan jalan depan rumah duka karena banyaknya jamaah yang hadir. Setelah seluruh rangkaian prosesi agama dan kedinasan selesai, kedua almarhumah dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat.
















