Tren Investasi Emas di Indonesia Meningkat Akibat Ketegangan Global
Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah memicu peningkatan minat masyarakat terhadap investasi emas. Hal ini terlihat dari meningkatnya permintaan pembiayaan emas di sejumlah bank syariah, termasuk Bank BJB Syariah, Bank Muamalat Indonesia Tbk, dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Harga emas pada hari Jumat (6/3) berada di Rp 3.024.000 per gram di Butik Emas Antam. Direktur Utama PT Bank BJB Syariah, Arief Setyahadi, menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah secara tidak langsung memengaruhi bisnis emas. Tren permintaan pembiayaan emas di bank tersebut meningkat signifikan, yaitu sebesar 118,13% atau sekitar Rp 95 miliar, dari posisi Desember 2025 sebesar Rp 528,7 miliar menjadi Rp 624,6 miliar per Februari 2026.
Jumlah nasabah pembiayaan emas Bank BJB Syariah mencapai 10.709 nasabah. Mekanisme pembelian emas menggunakan skema cicilan, di mana nasabah dapat mengajukan pembiayaan melalui kantor cabang terdekat dengan melengkapi dokumen yang dibutuhkan serta menyiapkan uang muka sesuai ketentuan bank. Proses pengajuan memiliki service level agreement (SLA) satu hari atau one day service.
Bank BJB Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas hingga 129% pada 2026 dibanding posisi Desember 2025. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, bank ini memperluas kerja sama dengan pemasok emas guna memastikan ketersediaan stok. Selain itu, strategi digitalisasi proses pembiayaan kepemilikan emas melalui mobile banking BJB Syariah juga diterapkan.
Emas sebagai Aset Lindung Nilai
Sekretaris Perusahaan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, Hayunaji, menyebut bahwa kondisi geopolitik global secara historis mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas sering menjadi pilihan utama masyarakat untuk menjaga nilai kekayaan.
Di Bank Muamalat, tren tersebut tercermin dari meningkatnya minat masyarakat terhadap produk pembiayaan emas Solusi Emas Hijrah (SOLEH). Pada 2025, pembiayaan Solusi Emas Hijrah melonjak 33 kali lipat secara tahunan dengan pertumbuhan mencapai Rp1,1 triliun. Jumlah rekening juga meningkat tajam 1.218% menjadi 24.335 rekening sepanjang 2025.
Melalui produk SOLEH, nasabah dapat memiliki emas dengan skema pembiayaan syariah menggunakan akad murabahah. Dalam mekanisme ini, bank terlebih dahulu membeli emas dari mitra penyedia logam mulia seperti PT Aneka Tambang Tbk, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), dan PT Pegadaian Galeri Dua Empat, kemudian menjualnya kepada nasabah dengan skema cicilan. Nasabah dapat memilih tenor pembayaran mulai dari tiga hingga sepuluh tahun.
Pertumbuhan Bisnis Emas di BSI
Selain Bank Muamalat, Bank Syariah Indonesia (BSI) juga mencatat kenaikan jumlah nasabah bullion bank di BSI dari Januari hingga Februari 2026 sebesar 44% secara year to date (ytd) dan penjualan selama tahun 2026 sudah mencapai 58% dari total penjualan tahun 2025.
Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna menjelaskan bahwa peningkatan permintaan emas dipicu oleh multiplier effect kondisi global terkait ketegangan di Timur Tengah. Untuk mengantisipasi peningkatan permintaan, BSI telah memiliki inventory management yang baik.
Kemudahan pembelian emas bullion bank BSI secara real-time lewat superapps BYOND juga mendorong masyarakat membeli emas dengan aman dan mudah. Nasabah bisa melakukan pembelian dengan harga mulai dari Rp50.000an. Nasabah juga dapat melakukan transfer saldo emas (gramase) ke sesama rekening BSI Emas. Selain itu, nasabah yang ingin mencetak emasnya dapat mengajukan via aplikasi dan melakukan pengambilan di kantor cabang yang telah dipilih.
Ke depan, BSI akan memastikan kesiapan dari sisi persediaan, serta edukasi nasabah agar investasi emas dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi apapun, BSI selalu melakukan antisipasi atas ketersediaan stok yang memadai dari para supplier serta pengelolaan inventory management yang baik.












