
Beberapa rumah di bantaran Kali Ciliwung, khususnya di RT 6 RW 10, Tebet, Jakarta Selatan, mengalami keruntuhan pada Jumat (6/3). Dari pantauan di lokasi, terlihat bagian belakang rumah tersebut rusak parah. Dinding dan pintu serta dapur rumah tersebut ambruk. Lokasi bangunan ini berada di tebing Kali Ciliwung, sehingga puing-puing bangunan tampak berserakan di sekitar kali.
Irmawati (48), selaku Ketua RT 6 RW 10 Jalan J, Tebet, Jakarta Selatan, menyampaikan bahwa dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. Ia menjelaskan bahwa rumah-rumah tersebut sudah lama tidak ditempati karena kondisi bangunan yang mulai memburuk.
“Rumah itu sudah lama tidak ditinggali karena tanahnya terasa miring. Sudah retak dan patah,” ujar Irmawati saat ditemui pada Minggu (8/3).
Menurut Irmawati, penghuni rumah tersebut telah pergi sekitar tiga hingga empat bulan lalu. Ia juga menegaskan bahwa kondisi bangunan sudah sangat rentan dan bisa saja ambrol kapan saja.

Pemilik empat rumah sewa yang ambruk, Komang (35), menjelaskan bahwa sejak awal kondisi rumahnya mengalami keretakan. Pada tahun lalu, ia sempat melakukan perbaikan dengan cara peluran dan pembobokan. Namun, beberapa waktu lalu, rumah tersebut kembali retak akibat cuaca yang tidak menentu.
“Awalnya sempat retak, tapi sudah diperbaiki. Tapi beberapa minggu lalu, bagian belakang rumah ini longsor. Retak lagi karena hujan yang terus-menerus,” ujar Komang.
Selain faktor cuaca, Komang juga menyebutkan kekhawatiran akan risiko korban jika dilakukan perbaikan. Ia mengatakan bahwa bagian bawah rumah sudah tidak memiliki tumpuan yang kuat.
“Kalau diperbaiki, takutnya malah ambrol dan menimbulkan korban. Kita tidak ingin sampai ada korban jiwa,” tambah Komang.

Komang juga menjelaskan bahwa ada faktor lain selain pengikisan Kali Ciliwung yang menyebabkan kerusakan pada rumahnya. Faktor tersebut adalah letak rumah yang dekat dengan saluran air warga.
“Di belakang rumah ini ada saluran air warga. Ada rembesan, mungkin tanah bergerak atau lainnya. Itu yang menyebabkan retakan awalnya,” jelas Komang.
Untuk menghindari risiko korban jiwa, Komang meminta penghuni kontrakannya untuk mengosongkan rumah tersebut pada tahun lalu. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan.
“Kami suruh keluar dari tahun kemarin karena risiko. Kami tidak ingin ada korban jiwa,” ucap Komang.

Salah satu tetangga Komang, Effendi (60), yang tinggal di samping reruntuhan rumah, menceritakan detik-detik keruntuhan terjadi. Ia mengatakan insiden terjadi pada Jumat siang pukul 11.00 WIB.
“Waktu rumah itu jatuh, saya kaget. Batu langsung bergerak,” kata Effendi sambil menunjuk reruntuhan di samping rumahnya.
Effendi mengatakan bahwa ia sudah menduga rumah tersebut akan ambruk sejak malam hari. Ia melihat bagian bawah rumah sudah terkikis hingga tidak memiliki pondasi.
“Saya takut rumah itu rubuh malam. Akhirnya jatuh pagi hari,” ujar Effendi.
Ia juga mengatakan bahwa tiang-tiang rumah sudah habis dan dindingnya retak.

Tidak Ada Hubungan dengan Normalisasi Kali Ciliwung
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa lokasi rumah yang ambruk memang rencananya menjadi titik normalisasi Kali Ciliwung. Namun, ia memastikan bahwa robohnya rumah bukan disebabkan oleh proses normalisasi.
“Longsoran terjadi bukan karena normalisasi Ciliwung. Itu adalah tempat yang akan dinormalisasi, tetapi belum dilakukan pembebasan,” ujar Pramono di Bundaran HI Jakarta.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah DKI Jakarta akan turun tangan untuk membantu warga yang terdampak.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












