Bisnis  

Ananda warga Jambi blak-blakan soal gaji kerja di Kamboja, hingga mata melirik

Pengalaman Buruk Seorang Warga Jambi di Kamboja

Ananda Rizkiyanto, seorang warga Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, mengungkap pengalamannya bekerja sebagai scammer di Kamboja. Ia mengaku telah mengalami banyak kesulitan selama bekerja di sana.

Rizki bekerja di Kamboja selama dua bulan, namun kondisi kesehatannya memburuk. Matanya mulai merah dan sakit-sakitan. Selain itu, ia akhirnya dijual oleh pihak perusahaan ke tempat pembuangan akhir. Saat ini, Rizki terjebak di Imigrasi Sihanoukville, Kamboja.

Pemuda dengan nama sapaan Rizki ini tinggal di RT 12, Marga Mulya, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Dalam percakapan via WhatsApp dengan reporter Tribun Jambi, ia menceritakan awal keberangkatannya ke Kamboja untuk bekerja scam pada tahun 2025 lalu.

Awalnya, di Indonesia, khususnya di Jambi dan beberapa daerah lainnya, Rizki tidak mendapatkan pekerjaan. Ia bahkan sempat tidak makan selama beberapa hari. Setelah itu, ia menerima panggilan untuk berangkat ke Kamboja dengan gaji yang cukup besar.

Rizki tidak ingat tanggal pasti keberangkatannya ke negara tersebut. Yang ia ingat adalah bahwa dari Jambi, ia diberangkatkan menuju Malaysia dan kemudian transit ke Kamboja. Ketika tiba di Kamboja, ia disambut dengan baik oleh pihak perusahaan.

Di sana, Rizki bekerja selama dua bulan, sejak akhir Desember 2025. Namun, hasil dari pekerjaan itu jauh dari harapan. Ia mengatakan bahwa gaji yang diterimanya hanya Rp10 juta, padahal standar gaji di Indonesia biasanya Rp5 juta. Jam kerja yang panjang dan istirahat yang kurang membuatnya sangat lelah.

“Jam kerja yang lama dan sakit mata. Duduk saja depan PC (komputer) dan jam istirahat yang kurang,” tutur Rizki. Ia mengaku tidak tahan dengan jam kerja hingga pukul 12 malam. Kondisi fisiknya mulai memburuk, dengan mata yang memerah dan kepala sering sakit.

Dijual ke Pembuangan Akhir

Akhirnya, kata Rizki, dirinya dijual oleh pihak perusahaan ke pembuangan akhir. Menurutnya, tempat itu benar-benar kejam. Ia melapor ke KBRI, tetapi yang menjemputnya adalah pihak kepolisian Kamboja. Kemudian, ia dibawa ke Imigrasi Sihanoukville, Kamboja.

Rizki mengatakan sudah tiga bulan di Kamboja. Ia meminta bantuan dari Kementerian Luar Negeri dan pemerintah Indonesia. Namun, sampai saat ini belum ada bantuan yang diterimanya.

Di Kamboja, Rizki merasa kesusahan karena tidak memiliki ongkos untuk pulang ke Indonesia. Di Jambi, pemuda ini sudah tidak punya orangtua. Keduanya sudah meninggal. Selain itu, dia juga sudah hilang kontak dengan keluarganya.

Tidak Tahu Prosedur Penjemputan

Kepada Tribun Jambi, Rizki mengaku tidak mengetahui prosedur penjemputan dari pihak KBRI. “Saya tidak tahu memang di sini. Katanya ada dua prosedur. Kadang dijemput KBRI langsung, kadang polisi Kamboja,” ujarnya.

Selain itu, Rizki juga harus membayar oknum polisi di negara tersebut sebesar 100 USD agar bisa menggunakan ponsel. Ia ingin meninggalkan Kamboja dan pulang ke Indonesia. Namun, masalah utamanya adalah tidak memiliki uang untuk membeli tiket pesawat. Selain itu, ia juga tidak memiliki ponsel karena ponselnya ditahan pihak Imigrasi Kamboja.

“Ponsel yang digunakan untuk berkomunikasi dengan Tribun Jambi bukan milik Rizki, melainkan milik teman sesama WNI di penampungan,” jelasnya. Ia sangat takut di sana dan memohon bantuan.

Daftar Warga Jambi yang Terjebak Loker Scam di Kamboja

Pengakuan Rizki menambah jumlah warga Jambi yang terjebak dalam loker scam di Kamboja. Berikut adalah daftar nama warga Jambi yang tertahan di Kamboja:

  • Andri Budi Sanjaya (Jambi)
  • Chilva Shety Priyanka Elwani (Jambi)
  • Fajar Setiawan (Jambi)
  • M Eep Abdul Fatah (Jambi)
  • Mustafa Ramadhani (Jambi)
  • Syehdi (Kabupaten Sarolangun)
  • Deri Setiawan (Jambi)
  • Dison (Jambi)
  • Rangga Gustianto (Kabupaten Batang Hari-Muara Bulian)
  • Rizky Warnizon (Jambi)
  • Vikky Pratama Putra (Jambi)
  • Ananda Rizkiyanto (Kabupaten Muaro Jambi)

Terkait kisah dan pengakuan Ananda Rizkiyanto, Tribun Jambi sedang mengonfirmasi pihak-pihak terkait.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *