Konflik AS-Iran, BI Malang Waspadai Kenaikan BBM yang Picu Inflasi



MALANG — Bank Indonesia (BI) Malang mengamati potensi kenaikan inflasi di wilayah Malang Raya dan Pasuruan yang dipicu oleh fluktuasi harga BBM dan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, menekankan bahwa perlu adanya pengawasan terhadap volatilitas harga emas yang cenderung meningkat. Namun, ia menjelaskan bahwa tidak ada instrumen khusus yang dimiliki pemerintah atau daerah untuk mengendalikan harga emas.

Inflasi di Kota Malang dan Probolinggo tercatat tinggi, dengan penyebab utama berasal dari komoditas pangan seperti cabai rawit, ayam ras, dan telur ayam ras. Meski demikian, cabai keriting dan cabai merah besar relatif stabil, sehingga masyarakat dapat beralih konsumsinya.

BI Malang bekerja sama dengan TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) untuk melakukan berbagai upaya pengendalian inflasi. Salah satu langkahnya adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 34 titik di Kota Malang. Selain itu, Bapanas memberikan bantuan ongkos transportasi untuk memfasilitasi distribusi bahan-bahan kebutuhan pangan. Indra menekankan pentingnya menghindari pembelian berlebihan (panic buying) agar stabilitas harga tetap terjaga.

Pemerintah juga telah mengambil beberapa langkah untuk menekan inflasi sektor transportasi, seperti memberikan diskon pada tarif KA dan tol serta menyediakan mudik bersama gratis. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan inflasi pada Maret 2026.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Kota Malang pada Februari 2026 mencapai 0,74% (mtm), setelah sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,10% (mtm). Dalam skala tahunan, inflasi Kota Malang mencapai 4,81% (yoy), yang lebih rendah dibanding inflasi Jawa Timur sebesar 4,88% (yoy), namun lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 4,76% (yoy).

Inflasi di Kota Malang terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,48% (mtm). Penyebab utama kenaikan harga meliputi cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah, masing-masing dengan andil sebesar 0,20%, 0,17%, 0,10%, 0,07%, dan 0,02% (mtm).

Kenaikan harga komoditas pangan disebabkan oleh penurunan pasokan akibat curah hujan yang tinggi dan meningkatnya permintaan menjelang HBKN Ramadhan 1447 H. Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tren kenaikan harga emas secara umum.

Beberapa komoditas lain seperti bensin, wortel, sawi putih/pecay/pitsai, bawang merah, dan tarif kereta api mencatatkan deflasi. Bensin memberikan andil deflasi sebesar -0,05% (mtm), sedangkan empat komoditas lainnya memberikan andil deflasi masing-masing sebesar -0,01% (mtm).

Penurunan harga bensin terjadi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 1 Februari 2026. Penurunan harga wortel, sawi putih/pecay/pitsai, dan bawang merah disebabkan oleh pasokan yang tetap terjaga. Tarif kereta api juga turun karena program diskon tarif kereta api sebesar 30% dari PT KAI (Persero) dalam rangka mendukung angkutan Lebaran 2026.

Tekanan inflasi di Kota Malang pada Februari 2026 masih sejalan dengan kondisi di tingkat provinsi dan nasional. Koordinasi solid TPID melalui berbagai inisiatif seperti GPM Serentak 13 Februari 2026, monitoring harga bahan pangan pokok, sidak pasar oleh Satgas Pangan, serta keikutsertaan dalam rakor TPID mingguan selama Februari 2026 menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi.

Risiko Tekanan Inflasi Jelang Lebaran

Menghadapi risiko meningkatnya tekanan inflasi pada periode HBKN Idulfitri yang jatuh pada Maret, TPID akan meningkatkan intensitas pemantauan harga dan melakukan intervensi melalui operasi pasar untuk stabilisasi harga kebutuhan pokok.

Berdasarkan rilis BPS, inflasi di Kota Probolinggo pada Februari 2026 mencapai 1,12% (mtm), setelah sebelumnya mencatatkan deflasi sebesar 0,03% (mtm). Secara tahunan, inflasi Kota Probolinggo mencapai 5,04% (yoy). Inflasi IHK pada Februari 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,70% (mtm).

Kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras masing-masing dengan andil sebesar 0,40%, 0,23%, 0,15%, 0,05%, dan 0,04% (mtm). Penurunan harga bensin, bawang merah, bawang putih, dan wortel memberikan andil deflasi masing-masing sebesar -0,02%, -0,01%, -0,01%, dan -0,01% (mtm).

Tekanan inflasi Kota Probolinggo pada Februari 2026 terjaga sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur dan Nasional. Koordinasi TPID melalui pelaksanaan Pasar Murah, monitoring harga bahan pangan, pelatihan budidaya cabai rawit, serta keikutsertaan dalam rakor TPID mingguan menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *