Serangan Israel dan AS ke Iran: Dampak pada Harga Emas
Serangan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada hari Sabtu (28/2/2026) menimbulkan ketegangan geopolitik di kawasan. Menurut laporan dari kantor berita Fars, beberapa rudal dilaporkan menghantam wilayah Jalan Universitas dan Jomhouri di ibu kota Teheran. Meskipun belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerugian material, situasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas regional.
Dampak dari serangan tersebut juga terasa dalam pasar keuangan, terutama pada harga emas. Pada perdagangan hingga Jumat (27/2/2026), harga emas tetap stabil dan berada di jalur kenaikan bulan ketujuh berturut-turut. Ketidakpastian kebijakan tarif impor AS serta ketegangan antara AS dan Iran memberikan daya tarik bagi emas sebagai aset safe haven.
Harga emas spot turun tipis sebesar 0,1 persen menjadi 5.181,18 dolar AS per ons pada pukul 08.37 GMT. Namun, sepanjang bulan Februari, logam mulia tersebut telah naik sebesar 6,5 persen, sehingga total kenaikan selama tujuh bulan terakhir mencapai 58 persen. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga naik 0,1 persen menjadi 5.198,10 dolar AS per ons.
Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, sehingga menurunkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Analis ANZ Soni Kumari menyebutkan bahwa dua faktor utama yang menopang emas adalah ketidakpastian tarif di pasar dan situasi antara AS dan Iran.
Pembicaraan Tidak Langsung AS dan Iran
AS dan Iran sedang menjalani pembicaraan tidak langsung di Jenewa terkait sengketa nuklir yang telah berlangsung lama. Mediator dari Oman menyatakan bahwa kedua pihak mencatat kemajuan dan berencana melanjutkan negosiasi pada tingkat teknis pekan depan di Wina. Meski putaran pembicaraan terbaru belum menghasilkan kesimpulan jelas, risiko geopolitik masih ada namun belum meningkat.
“Hal ini menjaga harga emas tetap tinggi, meski belum cukup kuat untuk membentuk tren bullish yang berkelanjutan,” kata Analis Pasar Senior XS.com Linh Tran.
Tarif Impor AS dan Data Ekonomi
AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada Selasa. Namun, tarif tersebut akan naik menjadi 15 persen bagi sejumlah negara, menurut Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Sementara itu, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran baru meningkat tipis pekan lalu, sementara tingkat pengangguran tetap stabil pada Februari.
Kenaikan Harga Logam Mulia Lainnya
Selain emas, harga perak spot naik 1,7 persen menjadi 89,87 dolar AS per ons dan menuju kenaikan bulanan 6,2 persen. Harga platinum spot melonjak 4,1 persen menjadi 2.365,33 dolar AS per ons, tertinggi dalam empat pekan terakhir, sedangkan paladium naik 2,1 persen menjadi 1.821,28 dolar AS per ons.
Bank Sentral Borong Emas
Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut penguatan harga patokan ekspor (HPE) emas pada periode pertama Maret 2026 didorong oleh pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah dinamika ekonomi. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan, HPE emas meningkat dari 159.475,43 dolar AS per kilogram menjadi 161.568,53 dolar AS per kilogram.
Harga referensi (HR) emas juga naik dari 4.960,24 dolar AS per troy ounce (t oz) menjadi 5.025,35 dolar AS per troy ounce. “Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven serta pembelian oleh sejumlah bank sentral global di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dunia,” ujar Tommy dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Harga Konsentrat Tembaga
Sementara itu, HPE konsentrat tembaga (Cu ≥ 15 persen) untuk periode pertama Maret 2026 sebesar 6.684,18 dolar AS per Wet Metric Ton (WMT). Nilai tersebut turun 0,12 persen dibandingkan periode kedua Februari 2026 yang tercatat sebesar 6.692,35 dolar AS per WMT. Penurunan HPE konsentrat tembaga dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan penguatan dolar AS di tengah fase konsolidasi harga tembaga global.
Selama periode pengumpulan data, harga tembaga London Metal Exchange (LME) sempat menembus 13.000 dolar AS per ton dan mencapai sekitar 13.300 dolar AS per ton pada 11 Februari, sebelum terkoreksi ke kisaran 12.500-12.700 dolar AS per ton dan kembali bergerak mendekati 13.200 dolar AS per ton pada akhir Februari 2026. “Dalam rentang penghitungan tersebut, harga tembaga (Cu) turun 1,44 persen dan perak turun 15,09 persen, sementara emas (Au) naik 1,31 persen,” kata Tommy.












