Pengalaman Chef Paik dalam Membuka Restoran di Berbagai Negara
Menjalankan bisnis bukanlah hal yang mudah, terutama ketika memulainya dari nol di negara asing di mana kita tidak bisa berbicara bahasanya. Namun, bagi sebagian orang, tantangan ini justru meningkatkan rasa semangat mereka. Salah satu contohnya adalah Chef Paik Jongwon, seorang chef asal Korea Selatan yang juga sering tampil di acara televisi. Selain itu, ia juga seorang pengusaha sukses dengan banyak sekali restoran franchise.
Dengan latar belakang seperti itu, Chef Paik tahu benar cara mendirikan restoran. Tapi, kali ini ia ditantang untuk membuka restorannya di luar negeri, terutama di negara-negara yang tidak terbiasa dengan hidangan khas Korea Selatan. Untuk menyebarluaskan cita rasa Korea Selatan ke berbagai negara, TvN memulai program varietas mereka, The Genius Paik, bersama Chef Paik.
Program The Genius Paik
Para kru diberikan misi setiap harinya, yaitu menjadi restoran dengan pendapatan tertinggi di kota atau dalam satu lingkungan tersebut. Ketika sebuah misi tercapai, mereka akan mendapatkan hadiah yang dapat membantu bisnis mereka.
The Genius Paik 1 (2023)
Chef Paik bersama aktor Lee Jangwoo dan BamBam GOT7 membuka restoran pertama mereka di Marrakesh, Maroko. Lebih tepatnya di sebuah pasar malam terkenal di kota tersebut. Chef Paik awalnya kesulitan untuk memperkenalkan hidangannya disana, karena mayoritas masyarakat disana muslim dan banyaknya asumsi bahwa hidangan Korea Selatan mengandung babi.
Untungnya, Chef Paik dan rekan-rekan merekrut dua warga lokal yang dapat membantu mereka untuk menjual produk mereka. Dan dengan cepat menjadi sorotan warga lokal. Sayangnya, karena persaingan yang tidak sehat dan dugaan jahat dari sesama penjual di pasar, Chef Paik hanya bertahan di pasar selama beberapa hari saja. Untungnya ada pemilik toko yang dengan senang hati meminjamkan tokonya agar Chef Paik dan kru dapat melanjutkan proyek mereka disana.
Setelah itu, Chef Paik dan Lee Jangwoo, bersama dua rekan baru yaitu John Park dan Kwon Yuri, melanjutkan bisnis mereka di Naples, Italia. Disana, mereka juga merekrut dua warga lokal yang masih sangat muda untuk membantu mereka. Hari-hari pertama mereka dihantui dengan sedikitnya pelanggan. Hal ini dikarenakan restoran mereka adalah restoran khas Korea Selatan pertama di Naples, sehingga tidak dikenal dengan baik oleh warga sekitar. Namun, dalam beberapa hari usaha para kru terbalaskan dengan hari-hari sibuk karena restoran yang selalu penuh.
The Genius Paik 2 (2023-2024)
Setelah menyelesaikan misinya di Italia, Chef Paik kembali dengan Lee Jangwoo, John Park dan Kwon Yuri, serta Lee Kyuhyung, untuk membuka restoran mereka yang kedua di San Sebastian, Spanyol. Daerah itu adalah region dimana Spanyol bertemu dengan Prancis, dan masih kental dengan budaya tradisional Basque mereka. Sehingga makanan disana sangat unik.
Chef Paik menggunakan sebuah restoran terbelangkai di jalan utama yang dipenuhi dengan restoran lainnya pula. Disana ia dan rekan-rekannya, dan dua rekrutan warga lokal, menjalankan bisnis mereka dengan berbagai konsep. Chef Paik diberikan misi untuk membuka cabang di sebuah gang berisikan bar, dan disana ia harus menjual pinxto pote khas Korea Selatan.
Daerah San Sebastian memiliki restoran khas mereka yang disebut Pintxo Pote, sebuah konsep berjualan satu jajanan dan satu minuman dengan harga terjangkau. Biasanya dapat ditemukan di bar. Restoran mereka dengan cepat menarik perhatian warga lokal yang walaupun tidak pernah memakan hidangan khas Korea Selatan, mereka tidak asing dengan budaya Korea Selatan. Bahkan beberapa sangat bersemangat karena akhirnya ada restoran Korea Selatan di kota mereka.
The Genius Paik 3 (2026)
Setelah vakum selama beberapa saat, Chef Paik dengan kru biasanya, Lee Jangwoo, John Park dan Kwon Yuri, kembali berkumpul dan membuka restoran ketiga mereka di Lyon, Prancis. Kali ini mereka datang bersama Yoon Shiyoon, yang akhir-akhir ini terkenal karena kemampuannya memanggang roti dan pengalamannya di industri kuliner. Mereka juga merekrut dua warga lokal, yang salah satunya kebetulan juga berdarah campuran Prancis-Korea Selatan.
Mereka membuka restoran mereka di gang yang juga dipenuhi dengan restoran-restoran hidangan khas Prancis. Tidak hanya itu, hampir sebagiannya sudah buka sejak abad 19 dan mendapatkan banyak penghargaan. Chef Paik juga harus beradaptasi dengan konsep jamuan Prancis yang memiliki banyak sajian, sedangkan hidangan Korea Selatan biasanya disajikan dalam sekali sajian. Tidak hanya itu, bahan makanan yang mereka gunakan juga cukup asing bagi warga lokal. Bahkan mereka dapat mendapatkan salah satunya secara gratis, karena biasanya akan dibuang oleh penjual.
Seri season ketiga ini masih berlangsung dan dapat ditonton di Viu. Season pertama mendapatkan skor 8.0/10, sedangkan season kedua mendapatkan skor 8.1/10, dan sejauh ini season ketiga mendapatkan skor 8.0/10 di MyDramaList.
Melalui ketiga seri ini, kita dapat melihat sedikit lebih dalam tentang dunia kuliner di negara-negara lain. Bahkan sebagai penonton kita dapat memperkirakan bagaimana respon para pelanggan asing terhadap sajian baru, serta bagaimana bisnis dapat berjalan. Kita juga dapat mempelajari beberapa hal tentang dunia kuliner negara-negara target. Seperti di Italia, mereka cukup terbuka dengan hidangan baru, di Spanyol orang-orang juga suka cemilan, di Prancis ada hirarki dalam dunia kuliner.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












