Bisnis  

Terus Bersemangat, Mindayani Wirjono Jalankan Usaha Kue Keranjang Sejak 1980-an

Usaha Dodol Keranjang yang Bertahan Selama 40 Tahun

Di usia yang tidak muda lagi, Mindayani Wirjono (82) masih mempertahankan semangatnya untuk menjalankan usaha produksi dodol cina atau kue keranjang. Meskipun pasar kue keranjang saat ini terasa anjok karena sepi peminat, ia tetap berupaya agar bisnisnya terus berjalan.

Minda menjalankan usahanya di Jalan Belimbing, Kecamatan Tegal Barat, dengan nama merek kue keranjangnya ‘Sido Makmur’.

Merintis usaha sejak tahun 1980-an, dari dapur yang awalnya hanya menggunakan gedebok pisang, kini ia memiliki hingga puluhan karyawan. Kapasitas produksi kue keranjang tiap harinya bisa mencapai 3 kuintal.

Minda mengenang, saat awal menjalankan usaha, dapur yang terbuat dari gedebok pisang itu roboh akibat hujan deras. “Dulu saja tidak punya dapur, pakainya gedebok pisang. Kalau kehujanan, gedeboknya ambruk, saya sampai nangis,” ujarnya.

Setelah menjalankan usaha lebih dari 40 tahun, kue keranjang buatannya sudah banyak dikenal hingga ke kota-kota besar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DIY. Pengiriman produknya bisa sampai Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan, dan Karawang.

Namun, tahun perayaan Imlek tahun Kuda Api ini pesanan dodol keranjangnya terbilang merosot dari Imlek sebelumnya. “Untuk permintaan saat ini banyak yang turun, yang di Karawang saja turun sampai 50 persen. Bilangnya pada sepi-sepi, dagangannya sepi. Faktornya mungkin ekonomi melemah,” tuturnya sambil menahan rasa tak patah semangat.

Perjalanan Usaha yang Penuh Perjuangan

Minda mengungkap bahwa perjalanan usahanya tidak mudah. Ia menyebut telah merasakan jatuh bangun selama berwirausaha. Ia memulai usaha di usia sekitar 40 tahun. Saat awal berkarir dari nol, ia merintis usaha bersama pembantu tetangganya, yang kini sudah meninggal dunia.

Ia yang berstatus ibu delapan anak, dituntut untuk bisa putar otak demi menghidupi keluarganya. Saat itu, Minda juga memiliki toko bernama Sido Makmur, nama tersebut yang kini sudah terkenal menjadi merek kue keranjangnya.

“Ide awal usaha kue keranjangnya justru datang dari pembantu tetangga. Saya dahulu merintis dari bawah bersama Wa Nyamin sekarang sudah almarhum,” tuturnya.

Awal Mula Usaha Dodol Keranjang

Minda menyebut, Wa Nyamin mengaku iba kepada dirinya karena memiliki banyak anak. Karena Wa Nyamin pernah bekerja di produsen dodol keranjang, maka ia menawarkan kepada Minda untuk memulai usaha dodol keranjang.

“Kata Wa Nyamin, saat itu dia kasihan sama saya, karena saya hidupnya susah dan anaknya banyak. Kemudian dimulailah usaha dodol keranjang ini,” ungkapnya.

Minda juga menyebut bahwa dirinya sempat ragu saat mengawali berwirausaha dodol keranjang lantaran tidak punya modal dan keahlian untuk membuatnya. “Tapi saya diyakinkan oleh Wa Nyamin, katanya dia siap membantu,” terangnya.

Lantaran termotivasi oleh Wa Nyamin, Minda kemudian merintis usaha bersama anaknya, Waja, yang saat ini juga sudah meninggal dunia. Awalnya, kata Minda, ia hanya mampu memproduksi dodol keranjang 20 kilogram per hari.

Proses Produksi yang Menguras Tenaga

Tak modern seperti saat ini yang sudah menggunakan mesin untuk membuat adonan dodol, saat itu semua pekerjaan mengadon dodol dibuat menggunakan tangan. Minda mengaku sangat bersyukur, saat ini usahanya bisa berkembang pesat hingga ke luar kota dengan produksi harian mencapai 2-3 kuintal adonan.

“Produksinya ya biasa dua kuintal, tiga kuintal, jadinya ya dua kali lipatnya sih. Kira-kira ya 400 biji, kan 200 kilogram gula, 200 kilogram tepung ketan,” tuturnya.

Lantaran harga bahan pokok yang naik, tahun ini Minda menaikkan harga jual dagangannya. Untuk tepung ketan saja yang semula Rp 175 ribu kini menjadi Rp 190 ribu.

Kondisi Pasar yang Menurun

Kini, di saat pasar sepi, membuat Minda harus tega mengurangi karyawannya. “Untuk jumlah karyawan sekarang lebih sedikit, cuma 20 orang. Kalau tahun kemarin masih bisa mempekerjakan 50 karyawan,” katanya.

Pengolahan adonan dodol keranjang berawal dari tepung ketan yang ditakar sesuai takaran. Kemudian, tepung dimasukkan ke dalam mesin dicampur dengan air dan gula dan diaduk hingga beberapa jam. Barulah setelah jadi, di tangan-tangan cekatan, adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang dilapisi plastik.

Setelah dicetak, adonan kemudian dimasukkan ke dalam kompor oven raksasa yang bisa merebus ratusan biji adonan cetakan dodol keranjang. Bahkan untuk memasukkan ke kompor oven raksasa, karyawan Minda harus menggunakan alat bantu dongkrak.

Usai direbus beberapa jam di kompor oven raksasa, barulah dodol keranjang siap dipasarkan hingga ke kota-kota besar.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *