Anthoni Salim, Konglomerat Berharta Rp272 Triliun, Hadiri Pertemuan dengan Presiden Prabowo
Anthoni Salim, seorang konglomerat berkekayaan hingga Rp272 triliun, hadir dalam pertemuan penting dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Hambalang, Bogor. Pertemuan ini berlangsung pada malam hari, Selasa, 10 Februari 2026. Ia duduk di ujung kiri, atau dua kursi dari Presiden. Di sampingnya, terdapat bos Barito Grup, Prajogo Pangestu.
Pertemuan tersebut berlangsung cukup intensif, selama lebih dari 4,5 jam, mulai pukul 19.00 hingga sekitar 23.30 WIB. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis antara Kepala Negara dan pelaku usaha untuk memperkuat sinergi pembangunan nasional.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya semangat Indonesia Incorporated sebagai fondasi kerja sama seluruh elemen bangsa. “Di momen itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya semangat Indonesia Incorporated, yang berarti bahwa kolaborasi erat seluruh sektor, yakni antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan ekonomi,” jelas Seskab Teddy dalam keterangan tertulisnya.
Para pengusaha yang hadir turut menyatakan kesamaan pandangan dan komitmen kuat untuk mendukung agenda besar pemerintahan. Dukungan tersebut dilakukan melalui keterlibatan aktif dunia usaha pada sektor-sektor prioritas yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat dan penguatan fondasi pembangunan nasional.
“Para pengusaha yang hadir senada seirama menyatakan komitmen solidnya untuk mendukung visi misi Pemerintah dalam sektor paling strategis yaitu pemenuhan makan bergizi, sekolah dan pendidikan tinggi, kesehatan, rumah subsidi, koperasi dan kampung nelayan serta kedaulatan pangan dan energi,” tulis Seskab Teddy.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga mengajak dunia usaha untuk mengambil peran aktif bersama dengan pemerintah dalam penciptaan lapangan kerja. “Khususnya di sektor riil, guna mendorong pengembangan industri serta penguatan UMKM,” jelas Seskab Teddy.
Pertemuan ini mencerminkan arah kepemimpinan Presiden Prabowo yang menempatkan kolaborasi strategis antara pemerintah dan pelaku usaha sebagai kunci menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Profil Anthoni Salim
Selain Indofood, Anthoni Salim juga dikenal sebagai pemilik jaringan supermarket Indomaret. Dilansir dari Tribunnews Wiki, Anthoni lahir pada 15 Oktober 1949 di Kudus, Jawa Tengah. Ia memiliki nama Tionghoa, yaitu Liem Hong Sien. Ia merupakan putra dari Liem Sioe Liong atau Sudono Salim, perintis Salim Group.
Saat masih muda, dirinya sudah dipercaya oleh ayahnya untuk memegang beberapa tanggung jawab pada perusahaan. Sebelum krisis moneter tahun 1998, Salim Group sudah menjadi perusahaan terbesar di Indonesia. Perusahaan itu mempunyai aset sebesar 10 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Namun, Salim Group terguncang ketika dilanda krisis moneter. Perusahaan yang membawahi Bank Central Asia (BCA) tersebut harus berhutang melalui dana talangan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Alhasil, BCA menanggung hutang sebesar 52 triliun. Akibatnya, Anthoni melepas beberapa perusahaannya. Seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA (kemudian dikuasai Farallon Capital dan Grup Djarum), dan PT Indomobil Sukses Internasional. Lalu beberapa perusahaan lain dipertahankan, antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills, yang merupakan produsen mie instan dan terigu terbesar di dunia.
Salim Group juga berkibar beberapa perusahaan di luar negeri, seperti di Hong Kong, Thailand, Filipina, Cina, dan India.
Harta Kekayaan Anthoni Salim
Majalah Forbes merilis daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 11 Desember 2024. Di situ tertulis bahwa Anthoni dan keluarga menduduki peringkat kelima orang terkaya di Indonesia dengan harta mencapai 12,8 miliar dolar AS.
Sementara itu, empat orang lain yang memiliki kekayaan di atas Anthoni adalah sebagai berikut:
- R Budi dan Michael Hartono, dengan kekayaan 50,3 miliar dolar AS.
- Prajogo Pangestu, dengan kekayaan 32,5 miliar dolar AS.
- Low Tuck Kwong, dengan kekayaan 27 miliar dolar AS.
- Keluarga Widjaja, dengan kekayaan 18,9 miliar dollar AS.












