Fenomena Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026
Menjelang Ramadhan 1447 H, masyarakat dunia akan menyaksikan fenomena astronomi yang langka, yaitu Gerhana Matahari Cincin. Peristiwa ini dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026. Sebagai gerhana pertama di tahun tersebut, fenomena ini menarik perhatian para ilmuwan dan penggemar astronomi.
Proses terjadinya Gerhana Matahari Cincin akan dimulai pada pukul 04.56 EST (16.56 WIB) dan mencapai puncaknya sekitar 07.12 EST (19.12 WIB). Namun, fenomena ini tidak akan mudah dilihat oleh banyak orang. Jalur annularitas, atau wilayah yang dapat menyaksikan “cincin api” dengan sempurna, hanya melintasi benua Antartika bagian barat hingga pesisir Laut Davis di Samudera Selatan.
Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 4.282 kilometer dan lebar 616 kilometer. Meskipun demikian, fase parsial gerhana dapat diamati lebih luas, termasuk di seluruh Antartika, Afrika tenggara, ujung selatan Amerika Selatan, serta sebagian wilayah Samudra Pasifik, Hindia, Atlantik, dan Selatan.
Setelah Gerhana Matahari Cincin, akan ada peristiwa lain yang juga menarik, yaitu Gerhana Bulan Total. Fenomena ini dijadwalkan terjadi pada 3–4 Maret 2026. Saat itu, bayangan Bumi akan membuat Bulan tampak merah darah. Fenomena “bulan merah” ini diperkirakan dapat diamati selama sekitar 58 menit di wilayah barat Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, dan Asia Timur.
Sebanyak 31 persen populasi dunia atau sekitar 2,5 miliar orang berpeluang melihat gerhana total tersebut. Namun, sayangnya, gerhana bulan total ini tidak bisa disaksikan dari wilayah Indonesia.
Alasan Gerhana Tidak Dapat Dilihat di Indonesia
Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Pusat Riset Antariksa Badan Riset Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, fenomena Gerhana Matahari Cincin tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Menurutnya, jalur gerhana berada jauh dari wilayah Nusantara.
“Gerhana Matahari Cincin (GMC) 17 Februari 2026 hanya terlihat dari wilayah Antartika,” ujarnya saat dikonfirmasi. Ia juga menjelaskan bahwa konfigurasi posisi Bumi, Bulan, dan Matahari membentuk jalur gerhana di Pasifik Selatan dan Antartika, sehingga tidak melintasi Indonesia.
Karena jalur gerhana tidak melintasi Indonesia, BRIN tidak mengeluarkan imbauan khusus kepada masyarakat terkait pengamatan gerhana kali ini. Namun, Thomas menyebutkan bahwa Indonesia tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan fenomena serupa. Gerhana Matahari Cincin berikutnya yang melintasi Indonesia dijadwalkan terjadi pada 21 Mei 2031, dan akan melewati Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku.
Durasi dan Jalur Gerhana Matahari Cincin
Menurut informasi dari Space.com, pada 17 Februari 2026, sekitar 96 persen cakram Matahari akan tertutupi oleh Bulan, membentuk cincin api yang langka. Durasi maksimum fase cincin ini diperkirakan berlangsung selama 2 menit 20 detik, dan hanya dapat dilihat dari jalur sempit di wilayah Antarktika yang sangat terpencil.
Kondisi geografis tersebut membuat hanya sedikit orang yang dapat menyaksikan langsung gerhana matahari cincin ini. Sebagian besar pengamat yang berpotensi melihatnya adalah para peneliti yang sedang bertugas di stasiun ilmiah di Antarktika.
Waktu Fase Gerhana 17 Februari 2026
- Gerhana sebagian dimulai pukul 9:56 UTC (sekitar 16:56 WIB)
- Gerhana cincin dimulai pukul 11:42 UTC (sekitar 18:42 WIB)
- Gerhana maksimum dimulai pada pukul 12:12 UTC (sekitar 19:12 WIB)
- Gerhana cincin berakhir pada pukul 12:41 UTC (sekitar 19:41 WIB)
- Gerhana sebagian berakhir pada pukul 14:27 UTC (sekitar 21:27 WIB)












