Daerah  

Jembatan 100 Meter Jawab Rasa Rindu di Sungai Pallaka Tompobulu

Harapan Baru bagi Warga Tompobulu

Di tengah alam yang indah dan pemandangan yang menyejukkan, warga Desa Bonto Manurung dan Bonto Matinggi di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, selama bertahun-tahun menghadapi tantangan berat dalam akses pendidikan dan ekonomi. Sungai Pallaka, yang mengalir tenang di bawah kaki mereka, menjadi penghalang yang tak bisa diabaikan. Sejak puluhan tahun lalu, warga hanya mengandalkan gondola penyeberangan untuk melintasi sungai tersebut.

Gondola ini, sebuah kotak besi kecil yang ditarik manual, telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga petani bergantian menaikinya setiap hari. Meskipun gondola menjadi solusi sementara, namun tidak selalu aman, terutama saat musim hujan. Arus air yang deras dapat membuat gondola bergoyang tak karuan, sehingga warga harus menunggu hingga air surut sebelum bisa menyeberang.

Namun, kini ada harapan baru. Kodim 1422/Maros memulai pembangunan jembatan gantung di atas Sungai Pallaka. Jembatan sepanjang 100 meter ini dirancang khusus untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Dengan anggaran sekitar Rp500 juta, progres pembangunan saat ini mencapai 43,8 persen. Targetnya adalah rampung sebelum Lebaran.

Proses Pembangunan yang Berjalan Perlahan Tapi Pasti

Pembangunan jembatan ini dilakukan dengan langkah-langkah yang detail dan hati-hati. Pembersihan lokasi telah tuntas 100 persen, memberikan awal yang baik untuk proses konstruksi. Bowplank terpasang 75 persen, menjadi garis awal yang menandai arah masa depan. Material terus berdatangan, progresnya 55 persen.

Di sisi sungai, blok beton anchor mulai dirambat. Sisi A baru 15 persen, masih merintis. Namun di Sisi B, pekerjaan ini telah mencapai 95 persen, nyaris utuh. Penggalian lubang pondasi cylop di Sisi B telah rampung 100 persen, meninggalkan jejak-jejak tanah yang digali demi pijakan yang lebih kuat.

Di Sisi A, baru 10 persen, pelan tapi pasti. Pekerjaan footplate dan pondasi pylon pun menunjukkan irama yang berbeda, 5 persen di Sisi A dan 48,5 persen di Sisi B. Blok beton anchor di Sisi B kini berada di angka 43 persen. Bronjong yang memeluk tebing sungai telah tersusun 64 persen, menjaga tanah agar tak lagi mudah runtuh oleh arus.

Di atasnya, rangka-rangka mulai mengambil bentuk. Gelagar jembatan telah terpasang 47 persen, tiang pylon berdiri 38 persen, perlahan menantang langit. Hanger jembatan dan clampnya berada di kisaran 25 persen. Pembentangan slim baru 20 persen, namun sling bentangan atas dan bawah masing-masing sudah mencapai 50 persen. Sling kait angin pun 50 persen, bersiap menahan goyangan angin yang kelak datang menguji.

Di sudut lain, balok dan papan dipotong dan diangkat, masing-masing 50 persen. Besi landasan lantai jembatan baru 25 persen, calon pijakan ribuan langkah yang sebentar lagi akan melintas tanpa rasa takut.

Tim yang Terlibat dalam Pembangunan

Sebanyak 21 personel Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) diterjunkan. Mereka dibantu Babinsa, personel Pen Kodim 1422/Maros, Pusat Zeni Angkatan Darat (Pusziad), Detasemen Zeni Bangunan (Zibang), serta 10 warga yang ikut bahu membahu.

Komandan Kodim (Dandim) 1422/Maros, Letkol Arm Agung Yuhono, menjelaskan medan Tompobulu bukan tantangan ringan. “Kami dibantu Batalyon Zipur yang memiliki keahlian dalam teknik pembangunan jembatan, kemudian diasistensi Zeni Kodam yang memiliki kemampuan di bidang konstruksi,” katanya.

Ia mengakui kendala utama yang dihadapi dalam proses pembangunan jembatan harapan warga ini adalah cuaca. Musim hujan bisa menghentikan pekerjaan sewaktu-waktu. Tak hanya itu, material sling khusus untuk jembatan gantung tak bisa dibeli di Butta Salewangan, harus didatangkan langsung dari tanah Kalimantan. Proses pengiriman memakan waktu dan biaya. Tantangan lain adalah pembangunan pondasi di tepi jauh sungai. Material harus diangkut satu per satu menggunakan gondola. “Itu cukup menguras tenaga dan waktu,” katanya.

Namun target tetap dipasang. “Mudah-mudahan sebelum Lebaran sudah jadi,” katanya.

Impian yang Menjadi Kenyataan

Program ini juga menjadi bagian dari target nasional yang dicanangkan Kepala Staf Angkatan Darat sebagai Ketua Tim Satgas Pembangunan Jembatan. Targetnya 7.000 jembatan dibangun dalam setahun di seluruh Indonesia.

Jika jembatan rampung, gondola yang selama ini menjadi simbol keterbatasan akan dilepas. Kelak, anak-anak seperti Farel tak perlu lagi menarik sling setiap pagi. Tangan kecil mereka bisa fokus menggenggam alat tulis, bukan lagi menarik sling gondola yang bergerak dikait katrol. Mereka akan melangkah di atas lantai jembatan yang kokoh.

Para petani tak lagi menunggu air surut untuk membawa hasil panen. Ibu-ibu tak perlu menahan napas saat gondola bergoyang diterpa angin. Tahun ini, mereka tak hanya menyambut kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Akan tetapi, mereka juga akan menyambut kemenangan karena dapat melintasi batas yang terbentang pada aliran Sungai Pallaka dengan jembatan gantung baru.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *