Kronologi Pembunuhan yang Menghebohkan di Lombok Barat
Pembunuhan seorang anggota polisi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi perhatian masyarakat setelah terungkap bahwa korban dibunuh oleh istrinya sendiri. Kasus ini menunjukkan bagaimana konflik dalam rumah tangga dapat berujung pada tindakan ekstrem.
Penganiayaan yang Dilakukan oleh Terdakwa
Terdakwa, Briptu Rizka Sintiyani, melakukan serangkaian tindakan kekerasan terhadap suaminya, Brigadir Esco Fasca Rely. Dalam sidang pengadilan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengungkapkan bahwa Rizka menginjak bagian uluh hati korban, menendang pinggang sebelah kiri, serta menusuk kaki korban sebanyak tiga kali. Tindakan tersebut dilakukan setelah emosi Rizka memuncak akibat tidak diberikan uang remunerasi sebesar Rp10 juta.
Setelah membunuh suaminya, Rizka memindahkan tubuh korban ke kamar adiknya. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan bukti-bukti kejahatan yang telah ia lakukan.
Hasil Visum dan Bukti Kekerasan
Hasil visum et repertum dari jenazah Brigadir Esco Fasca Rely menunjukkan banyak luka yang diderita korban. Ditemukan luka iris di sela jari tangan, kaki, telapak kaki, betis, dan telinga. Selain itu, ada luka memar di ginjal dan lambung akibat kekerasan tumpul. Luka robek di wajah dan dagu disertai resapan darah dan patah tulang hidung juga ditemukan.
Selain itu, ditemukan luka memar luar di kepala bagian belakang dengan resapan darah dan pendarahan subdural di otak kecil serta batang otak yang menyebabkan kematian korban. Luka jeratan di leher korban disebut sebagai post mortem atau setelah korban meninggal dunia karena tidak ditemukan tanda resapan darah di leher maupun patah tulang leher.
Pemicu Pembunuhan
Kasus ini bermula ketika Rizka meminta uang remunerasi sebesar Rp10 juta kepada suaminya. Uang tersebut merupakan tunjangan kinerja yang diterima anggota Polri. Sejak pagi, Rizka terus menagih uang tersebut namun tidak kunjung diberikan oleh korban. Ibu dua anak ini berulang kali menghubungi suaminya melalui telepon dan pesan singkat, tetapi tidak mendapatkan balasan.
Akhirnya, Esco membalas pesan Rizka dengan mengatakan akan dikirim uang tersebut. Namun, uang tersebut tidak kunjung masuk ke rekening Rizka. Rizka kembali mengirim pesan WhatsApp dengan nada peringatan agar tidak memancing emosinya.
Tindakan Ekstrem yang Dilakukan
Sekira pukul 18.00 Wita, Rizka menuju Polsek Sekotong dan menghubungi korban, tetapi tidak mendapatkan balasan. Setelah itu, Rizka kembali ke rumah dan menemukan sepeda motor suaminya terparkir di sana. Lampu rumah juga sudah menyala.
Pada saat itu, korban sedang tertidur di lantai kamar anaknya. Rizka kemudian masuk dan langsung menginjak bagian uluh hati, menendang pinggang sebelah kiri korban, serta memukul wajah korban berkali-kali. Ia juga menggunakan gunting untuk menusuk kaki korban sebanyak tiga kali.
Keluarga Ikut Menyembunyikan Jasad
Setelah menghabisi nyawa suaminya, Rizka memindahkan tubuh korban ke kamar adiknya. Anak korban dan terdakwa juga melihat peristiwa tersebut. Mereka berbicara dengan cara berbisik-bisik. Anak korban sempat melihat ayahnya tertidur dengan menggunakan singlet dan tertutup selimut di kamar Dani, salah satu terdakwa lain.
Melihat anaknya ada di sana, Rizka meminta untuk tidak membicarakan peristiwa itu ke orang lain. Keempat terdakwa yang turut membantu Rizka ini didakwa dengan beberapa pasal hukum terkait kekerasan dalam rumah tangga dan pembunuhan.
Penyelidikan dan Penetapan Tersangka
Kasus kematian Brigadir Esco Fasca Rely mencuat setelah jenazahnya ditemukan dengan leher terikat tali di kebun kosong dekat rumahnya. Polisi melakukan penyelidikan dan menetapkan Rizka sebagai tersangka. Selain Rizka, polisi juga menetapkan empat tersangka lain yaitu Saiun, Nuraini, Paozi, dan Dani yang diduga turut serta membantu tersangka Rizka.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











