Daerah  

Berita Populer Padang: Kunjungan Deddy, Demo Pedagang, dan Banjir di Beberapa Titik

Berita Terkini Kota Padang

Deddy Corbuzier Kunjungi Lokasi Terdampak Bencana di Kampung Talang, Sumatera Barat

Publik figur, Deddy Corbuzier, mengunjungi lokasi terdampak bencana di Kampung Talang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026). Ia datang dengan mengenakan syal cokelat serta topi baret dan baju kaos abu-abu. Kunjungan ini dalam rangka melihat pembangunan hunian tetap (huntap), dan Surau Buluh Talang yang dibangun di atas tanah kaum di Kapalo Koto.

Kedatangan Deddy Corbuzier disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Terlihat ia juga menyapa dan menyalami korban terdampak bencana.

Sekitar pukul 14.01 WIB, Deddy Corbuzier terlihat datang bersama Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari. Saat datang, ia langsung diarahkan oleh Koordinator Lapangan Pembangunan Huntap, Dasrul, untuk melihat peta pembangunan di daerah tersebut. Bahkan Feri juga menjelaskan terkait pembangunan huntap yang dibangun di atas tanah kaum Suku Tanjung.

Usai melihat peta pembangunan, Deddy bersama Feri Amsari langsung menuju pembangunan Surau Buluh Talang. Lokasinya sendiri sangat berdekatan, kira-kira beberapa meter dari pembangunan huntap, namun masih satu kawasan. Di saat melihat pembangunan surau itu yang nantinya menggunakan bambu, Feri menyampaikan kepada Deddy sebuah peribahasa “Bagai aur dengan tebing”. Artinya, hubungan yang sangat erat, akrab, dan saling tolong-menolong atau saling melengkapi satu sama lain.

Ibarat tanaman aur (bambu) yang tumbuh di tebing, keduanya tidak bisa dipisahkan. Karena aur menahan tebing dari erosi, sementara tebing menopang aur untuk tumbuh. “Ini menurut saya inovasi ya, Tuhan memberikan kita sumber kekayaan yang luar biasa, tinggal kita jangan serakah,” ungkapnya saat berbincang satu sama lain.

Bahkan kata Deddy, inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lainnya yang juga terdampak bencana atau melakukan pembangunan. Sebab, melihat pembangunan tersebut dimulai dari huntara, dilanjutkan hunian sehat dan layak (hunsela) hingga huntap di atas tanah kaum. “Ini bisa jadi contoh terkait pembangunan di atas tanah kaum bagi daerah lainnya,” sebutnya.

Setelah itu, Deddy dan lainnya menuju ke arah tenda berwarna putih di tengah kawasan pembangunan huntap. Di perjalanan, ia sesekali meladeni foto dengan masyarakat. Hingga akhirnya berbincang dengan pihak terkait dan meninggalkan huntap sekira pukul 14.39 WIB.

Ratusan Pedagang Pasar Raya Padang Kembali Menggelar Aksi Unjuk Rasa

Ratusan pedagang Pasar Raya Padang kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Rumah Dinas Wali Kota Padang, Rabu (11/2/2026) siang. Aksi tersebut merupakan lanjutan protes atas kebijakan relokasi pedagang ke Pasar Raya Fase VII yang dinilai berdampak pada menurunnya pendapatan mereka.

Aksi dimulai dengan long march dari kawasan Pasar Raya kemudian dilanjutkan ke rumah dinas Wali Kota. Sampai di rumah dinas, para pedagang kembali menyampaikan keluhan yang dirasakannya. Bahkan pedagang juga membawa sejumlah dagangannya yang mulai rusak karena kunjung tak terjual.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Sumatera Barat, Muhammad Yani, mengatakan para pedagang kaki lima (PKL) menyayangkan sikap Wali Kota Padang yang tidak menemui massa aksi untuk mendengarkan langsung aspirasi mereka. “Kami tidak mengetahui apa alasan Wali Kota tidak menemui pedagang. Atau mungkin kami dianggap bukan warga Kota Padang,” kata Yani.

Menurutnya, pada aksi sebelumnya para pedagang telah melakukan pertemuan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan solusi atas tuntutan pedagang. Pada aksi kedua ini, mereka kembali tidak dapat bertemu langsung dengan Wali Kota. Yani menyebutkan, pihaknya mendapat informasi bahwa Wali Kota menghadiri pembukaan MTQ di Kecamatan Padang Barat. Sementara lokasi rumah dinas juga berada di kawasan yang sama.

“Kami mendapat informasi beliau menghadiri pembukaan MTQ di Padang Barat. Rumah dinas juga di Padang Barat, tidak sampai lima menit untuk hadir menemui masyarakat. Namun sampai hari ini beliau tidak hadir,” ujarnya.

Para pedagang meminta agar relokasi pedagang selasar ke basement Fase VII ditunda sementara waktu, terutama menjelang bulan Ramadan. Mereka berharap setelah Lebaran nanti, para pedagang dapat kembali beraktivitas seperti semula. “Kami mengharapkan tuntutan kami digubris. Kami juga meminta agar pedagang diizinkan berdagang mulai pukul 17.00 WIB, karena pada sore hingga malam hari itulah ada sedikit aktivitas jual beli,” tuturnya.

Selain itu, pedagang berencana melanjutkan aksi dengan menggelar long march pada momentum Car Free Day (CFD) di Kota Padang. Rencananya, massa akan berjalan kaki menuju kawasan GOR H Agus Salim agar masyarakat mengetahui persoalan yang mereka hadapi. “Agar masyarakat Kota Padang tahu permasalahan di Pasar Raya. Kami juga berencana pada hari Senin meminta jadwal ke DPRD Kota Padang untuk hearing dan meminta anggota DPRD memanggil Wali Kota agar bisa hadir dalam pertemuan tersebut,” tutup Yani.

Operasi SAR Dilakukan Akibat Banjir di Beberapa Titik di Kota Padang

Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang menurunkan tim untuk melakukan operasi SAR menyusul terjadinya banjir di sejumlah titik di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (11/2/2026) malam. Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, melalui keterangan resminya menyampaikan bahwa informasi awal diterima pada pukul 20.48 WIB dari seorang warga bernama Feri. Laporan tersebut menyebutkan curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir dan warga membutuhkan evakuasi.

“Pada Rabu malam sekitar pukul 20.45 WIB, curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan banjir di Kota Padang dan warga membutuhkan evakuasi,” ujar Abdul Malik. Menindaklanjuti laporan tersebut, enam personel rescuer diberangkatkan pada pukul 21.00 WIB menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan operasi SAR.

Dalam operasi ini, tim SAR dilengkapi sejumlah peralatan, di antaranya satu unit rescue car, perahu rafting, peralatan SAR air, peralatan mountaineering, peralatan medis, serta peralatan komunikasi. Abdul Malik menyebutkan, salah satu kendala di lapangan adalah debit air yang meningkat dan arus yang cukup deras. Sementara kondisi cuaca saat operasi berlangsung masih diguyur hujan dengan kecepatan angin sekitar 6 knot.

Hingga saat ini, data korban masih dalam proses pendataan dan akan disampaikan lebih lanjut setelah tim melakukan asesmen di lokasi. “Kami terus melakukan pemantauan dan operasi sesuai prosedur. Perkembangan selanjutnya akan kami informasikan kembali,” tutupnya.

Banjir Genangan di Tiga Kecamatan di Kota Padang

Hujan lebat yang mengguyur sebagian wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, sejak Rabu (11/2/2026) sore, menyebabkan genangan air dan banjir di sejumlah titik. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan berdasarkan laporan sementara petugas di lapangan, banjir terjadi di beberapa kawasan. “Berdasarkan informasi sementara, titik-titik banjir berada di kawasan Nanggalo, Koto Tangah, Tabing Banda Gadang, serta Lubuk Begalung,” ujarnya.

Ia menjelaskan, curah hujan yang cukup tinggi sejak sore hari membuat sejumlah drainase meluap sehingga air menggenangi badan jalan dan permukiman warga. “Karena hujan lebat sejak sore tadi menyebabkan sejumlah kawasan banjir,” katanya. Meski demikian, Hendri menyebutkan ketinggian air rata-rata tidak terlalu tinggi atau ekstrem. Genangan air berkisar setinggi mata kaki orang dewasa hingga betis.

Selain itu, BPBD juga menerima laporan banjir di kawasan Pegambiran, Kecamatan Lubuk Begalung. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan dan evakuasi warga yang terdampak. “Iya, kita sudah mendapatkan informasi terkait banjir di kawasan Pegambiran. Anggota sudah kita kirimkan untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.

Hingga saat ini, BPBD masih melakukan pendataan terhadap dampak banjir, termasuk jumlah warga terdampak dan kerugian yang ditimbulkan. “Untuk data lengkap dampak dari banjir ini belum kita dapatkan. Nanti akan kita informasikan kembali,” tutup Hendri.

Banjir Rendam Jalan Pirus Lubuk Begalung

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Padang, Sumatera Barat sejak Rabu (11/2/2026) sore mengakibatkan sejumlah titik mulai terendam banjir. Salah satu kawasan yang terdampak cukup signifikan berada di Kecamatan Lubuk Begalung. Luapan air dilaporkan menggenangi ruas jalan di Pegambiran Jalan Pirus, Kelurahan Ampalu Nan XX.

Kondisi ini membuat aktivitas warga sekitar mulai terganggu akibat debit air yang meningkat dengan cepat setelah waktu Magrib. Alda Amelia, salah seorang warga setempat, mengonfirmasi bahwa genangan air di sepanjang Jalan Pirus saat ini telah mencapai ketinggian semata kaki orang dewasa. Menurutnya, air mulai naik sesaat setelah hujan lebat melanda kawasan tersebut.

“Banjir mulai terjadi setelah Magrib. Hingga saat ini, kondisi air di jalanan terpantau masih mengalir cukup deras karena hujan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan reda,” ujar Alda saat dihubungi, Rabu malam. Meskipun genangan air di jalan utama terpantau cukup tinggi, Alda menyebutkan bahwa hingga laporan ini diterima, air belum sampai masuk ke dalam area bangunan rumah warga secara merata.

Namun, kewaspadaan warga mulai meningkat seiring terus turunnya hujan. “Setahu saya untuk saat ini belum ada air yang masuk sampai ke dalam rumah warga. Tapi kalau di jalanan memang alirannya masih sangat deras dan cukup tinggi,” tambah Alda menjelaskan kondisi terkini di lingkungannya.

Berdasarkan rekaman video yang diterima tim redaksi, terlihat aliran air berwarna cokelat pekat mengalir di depan pemukiman. Dalam video tersebut, tampak luapan air bahkan sudah menyentuh pagar rumah warga dan nyaris meluap ke bagian teras. Warna air yang keruh kecokelatan mengindikasikan adanya luapan dari saluran drainase atau kiriman dari dataran yang lebih tinggi.

Meski demikian, akses lalu lintas di Jalan Pirus dilaporkan masih bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. “Akses jalan masih bisa dilalui, kendaraan baik roda dua maupun roda empat masih terlihat melintas meski harus lebih berhati-hati karena derasnya arus air di permukaan jalan,” tutupnya.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *