PSIS Semarang Hadapi Kendal di Laga Penentu, Kekalahan Bisa Turun Kasta, Tapi Ada Peluang Positif

Kemenangan Bersejarah PSIS Semarang di Stadion Jatidiri

PSIS Semarang akhirnya berhasil meraih kemenangan penting dalam pertandingan melawan Persela Lamongan di pekan ke-17 Pegadaian Championship 2025-2026. Kemenangan tipis dengan skor 1-0 menjadi titik balik yang sangat berarti bagi Laskar Mahesa Jenar, yang sebelumnya terpuruk di papan bawah klasemen.

Pertandingan berlangsung di Stadion Jatidiri pada Sabtu (24/1/2026) malam dan berjalan sangat dramatis. PSIS berhasil mengamankan tiga poin setelah gol semata wayang yang dicetak oleh kapten tim, Otavio Dutra, pada menit ke-54. Hasil ini sangat spesial karena diraih di tengah situasi genting, di mana posisi PSIS masih jauh dari kata aman di klasemen.

Peran Utama Kapten Tim, Otavio Dutra

Sosok Dutra menjadi figur sentral dalam kebangkitan PSIS. Bek veteran berusia 42 tahun itu berhasil menjawab kritik yang sempat mengarah padanya usai performa rapuh lini belakang saat melawan Deltras FC. Di hadapan publik sendiri, Dutra tampil kokoh sebagai pemimpin barisan pertahanan, lebih disiplin dan terorganisasi dibandingkan sebelumnya.

Tidak hanya bertahan, Dutra juga mencatatkan namanya di papan skor sebagai pahlawan kemenangan. Gol yang tercipta pada menit ke-54 merupakan hasil kerja sama apik antara Dutra dan Fadhilah Alwi, yang mencatatkan assist.

Setelah laga, Dutra tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya atas kemenangan yang diraih timnya. Ia mengungkapkan bahwa ini adalah tiga poin pertama sejak ia bergabung dengan PSIS. “Puji Tuhan kita bisa mendapatkan tiga poin di kandang,” ujarnya.

Taktik yang Berbeda dan Tekanan Berat

Secara taktik, PSIS tampil dengan pendekatan berbeda dibandingkan laga-laga sebelumnya. Pelatih Jafri Sastra menerapkan skema 3-5-2, membuat pertahanan PSIS lebih solid dan seimbang. Dutra bekerja sama dengan Aldair Simanca dan Dani Ibrohim untuk menjaga kedalaman lini belakang.

Namun, kemenangan ini tidak diraih dengan mudah. PSIS harus berjuang ekstra keras setelah Safna Delpi diusir wasit menit ke-31 akibat kartu merah. Bermain dengan 10 pemain sejak pertengahan babak pertama, membuat beban Mahesa Jenar semakin berat.

Situasi semakin menantang karena pertandingan berlangsung di bawah guyuran hujan sepanjang 90 menit. Dutra mengakui laga tersebut menjadi salah satu pertandingan paling melelahkan sejak ia bergabung. “Pertandingan sangat berat, apalagi kami harus bermain dengan kekurangan satu pemain di babak pertama,” katanya.

Meski demikian, PSIS justru menunjukkan mentalitas berbeda. “Tapi, kami tidak terlalu merasakan itu karena semua pemain bekerja keras,” lanjutnya. Dutra menilai kehilangan satu pemain justru memicu semangat kolektif tim. “Meskipun kehilangan satu pemain, teman-teman justru tampil lebih dan itu menurut saya menjadi kunci kesuksesan kami sehingga kami bisa meraih tiga poin di kandang.”

Adaptasi dan Proses Menyatu sebagai Tim

Dutra mengakui faktor adaptasi menjadi tantangan besar di awal kedatangannya. “Karena kami baru datang dan saya belum terlalu mengenal teman-teman. Memang kami butuh waktu,” tuturnya. Ia menegaskan banyaknya pemain baru membuat proses menyatu sebagai tim tidak instan.

“Baru hari ini kami benar-benar bermain sebagai satu tim dan hasilnya bisa kita lihat,” kata dia. “Semua bekerja keras dan puji Tuhan kami bisa menang melawan tim yang kuat,” tambahnya.

Tanggapan Pelatih dan Persiapan untuk Laga Mendatang

Pelatih PSIS, Jafri Sastra, juga menyambut kemenangan ini dengan rasa syukur mendalam. “Alhamdulullah malam ini semua pemain bermain luar biasa. Kinerja anak-anak, atau teman-teman luar biasa di dalam lapangan selama 90 menit,” ujar Jafri.

Meski meraih tiga poin penting, Jafri menegaskan timnya tidak boleh cepat puas. “Kami akan mempersiapkan pertandingan ke depan, agar bisa bermain lebih konsisten dan semua pemain harus siap, apakah dimainkan atau tak dimainkan,” tegasnya.

PSIS kini menatap laga berikutnya yang jauh lebih krusial. Pada pekan ke-18, Mahesa Jenar akan kembali bermain di kandang menghadapi Kendal Tornado FC, Jumat (30/1/2026). Laga ini berstatus hidup-mati, karena kekalahan bisa menyeret PSIS ke jurang degradasi.

Saat ini PSIS masih tertahan di papan bawah klasemen dan belum sepenuhnya aman dari ancaman turun kasta. Manajemen sendiri telah menunjukkan keseriusan dengan mendatangkan total 14 pemain baru demi menyelamatkan tim. Kini, seluruh nasib PSIS Semarang akan ditentukan di Stadion Jatidiri, saat Mahesa Jenar bertaruh segalanya demi bertahan di Pegadaian Championship 2025-2026.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *