Bisnis  

Kerugian Nelayan Surabaya Akibat Cuaca Ekstrem

Cuaca Ekstrem yang Membuat Pedagang Ikan Was-Was

Di Pasar Pabean, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur, para pedagang ikan kini tengah menghadapi tantangan besar. Mereka mengeluhkan penghasilan yang mereka peroleh akhir-akhir ini bisa merosot hingga dua kali lipat. Hal ini terjadi karena kondisi cuaca ekstrem yang terus-menerus melanda wilayah Jawa Timur.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin memberikan informasi tentang potensi gelombang tinggi serta cuaca ekstrem yang bisa memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk para nelayan dan pedagang ikan. BMKG Maritim Tanjung Perak menyampaikan bahwa gelombang tinggi masih berpotensi terjadi di sebagian besar perairan Jawa Timur. Bahkan, tinggi gelombang bisa mencapai empat meter di beberapa daerah.

Nelayan diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan. Mereka diminta untuk menjaga kewaspadaan ketika menemukan kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang sebesar 1,25 meter.

Selain itu, BMKG Stasiun Meteorologi Juanda juga memberi peringatan tentang potensi bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi di Jawa Timur hingga akhir Januari 2026. Fenomena seperti hujan lebat, angin kencang, dan hujan es diprediksi akan terus menghantui wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan radar, kecepatan angin di atas langit Jawa Timur meningkat drastis. Data terbaru menunjukkan kecepatan angin mencapai 32 knot, yang dapat memicu pohon tumbang dan merusak struktur bangunan.

Dampak Cuaca Buruk pada Harga Ikan

Huda, salah satu pedagang ikan di Pasar Pabean yang telah eksis sejak era 1849, menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem menjadi penyebab utama ketidakstabilan stok dan harga ikan. Menurutnya, cumi merupakan salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan.

“Cuaca buruk membuat cumi mahal. Harga standar cumi merah biasanya Rp65 ribu per kilogram, sedangkan cumi putih bisa mencapai Rp70 ribu per kilogram. Sekarang, saat cuaca buruk, cumi bisa mencapai Rp95-100 ribu per kilogram,” ujar Huda saat ditemui di lapaknya.

Selain cumi, komoditas lain seperti ikan kembung atau banyar juga mengalami kenaikan harga. Harga ikan kembung yang biasanya berkisar antara Rp25 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp35 ribu per kilogram. Penyebabnya adalah stok yang menipis dan harga yang lebih tinggi dari pemasok.

Kondisi Stok Ikan dan Penggunaan Ikan Beku

Meski stok ikan masih dalam ambang batas aman, Huda mengaku tidak selalu mendapatkan ikan segar. Ketika kuantitas terbatas, pedagang seperti dirinya terpaksa menggunakan ikan beku yang merupakan hasil tangkapan nelayan langsung di laut lepas.

“Kami tidak menggunakan ikan beku dari pabrik. Nelayan sekarang memiliki alat pendingin sendiri. Jika mereka menangkap ikan di tengah laut, mereka langsung membekukan ikan tersebut agar tidak rusak. Meskipun kualitasnya sama, harganya jauh lebih murah dibanding ikan segar,” jelas Huda.

Ikan yang dijualnya berasal dari berbagai daerah, seperti Rembang, Probolinggo, dan Madura. Beberapa jenis ikan yang sering dijual antara lain cakalang, tongkol putih, tenggiri, dorang, cumi, selar, kembung, tengkurungan, dan lemadang.

Harapan untuk Situasi yang Lebih Baik

Huda berharap situasi cuaca buruk yang terjadi saat ini segera mereda. Ia mengatakan bahwa dampak cuaca ekstrem sangat terasa, bahkan meski bukan musim purnama. Pendapatan harian yang ia peroleh kini turun hingga 50% dibanding hari-hari normal.

“Sangat terasa dampaknya cuaca ini. Saat cuaca bersahabat, saya bisa mendapatkan minimal Rp8 juta per hari. Tapi sekarang, rata-rata hanya Rp3-5 juta,” tutup Huda.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *