Penyaluran Santunan dan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir di Aceh Utara
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, secara langsung menyerahkan santunan kepada 270 ahli waris korban meninggal dunia akibat bencana banjir di Aula Kantor Bupati Aceh Utara. Santunan yang disalurkan mencapai total sebesar Rp 4.050.000.000. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam pemulihan pasca-bencana banjir yang terjadi di wilayah tersebut.
Gus Ipul menjelaskan bahwa penyaluran santunan dilakukan sesuai arahan Presiden. Pemberian santunan diberikan dalam bentuk uang tunai, yaitu sebesar Rp 15 juta untuk setiap korban meninggal dunia dan Rp 5 juta untuk korban luka berat. Hingga saat ini, sebanyak 836 jiwa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menerima santunan tersebut.
Pada acara penyerahan santunan tersebut, Gus Ipul hadir pada pukul 12.00 WIB. Kedatangannya disambut dengan pembacaan doa dan selawat. Suasana acara terasa tenang dan semua peserta mendengarkan dengan seksama. Dalam sambutannya, Gus Ipul menjelaskan bahwa pemerintah memiliki mekanisme khusus dalam menangani bencana banjir di tiga provinsi tersebut.
Presiden Prabowo Subianto secara langsung memerintahkan berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk bekerja sama menanggulangi dampak bencana. Tahap pertama adalah kedaruratan dan evakuasi, yang dilakukan oleh petugas-petugas terlatih dari Basarnas, TNI, Polri, dan kader-kader terlatih lainnya.
“Di mana yang melakukan evakuasi itu adalah orang-orang yang terlatih. Orang-orang yang memang memiliki kemampuan khusus untuk mengevakuasi korban-korban bencana,” jelas Gus Ipul.
Bantuan Logistik yang Disalurkan
Selain evakuasi, pemerintah juga membuka shelter atau posko pengungsian serta mendistribusikan bantuan logistik. Di Kabupaten Aceh Utara, bantuan logistik yang telah disalurkan antara lain:
- Makanan siap saji 750 paket
- Makanan anak 760 paket
- Family kit 200 paket
- Kidswear 100 paket
- Sandang dewasa 200 paket
- Kasur 100 lembar
- Selimut 400 lembar
Selanjutnya, juga tersalur tenda gulung 200 lembar, tenda keluarga 120 unit, tenda induk 1 unit, sandang anak 400 paket, penjernih air 2 unit, sembako 5.000 paket, peralatan ibadah 500 paket, dan beras reguler 2.000 kilogram.
Kemensos juga bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk mendirikan dapur umum. Di Aceh Utara, satu dapur umum beroperasi mampu memasak 6.000 porsi makanan siap saji per hari.
Tahap Rekonstruksi dan Rehabilitasi
Setelah masa kedaruratan dan evakuasi, penanganan bencana dilanjutkan pada tahap rekonstruksi dan rehabilitasi untuk memperbaiki dan membangun kembali sarana prasarana yang rusak. Pada tahap ini, berbagai instansi terlibat. Khusus untuk Kemensos, diberikan mandat atau tugas oleh Presiden untuk memberikan dukungan-dukungan yang diperlukan oleh keluarga terdampak.
Saat ini, Kemensos fokus pada penyaluran santunan kepada ahli waris yang meninggal dunia dan yang luka-luka. Ke depan, setelah para korban bencana menempati Hunian Tetap (Huntap) atau Hunian Sementara (Huntara), Kemensos akan memberikan dukungan berupa bantuan perabotan rumah senilai Rp 3 juta per keluarga, kemudian bantuan jaminan hidup (jadup) senilai Rp 450 ribu per orang per bulan yang akan diberikan selama 3 bulan.
Di samping itu, korban terdampak juga akan menerima bantuan pemberdayaan dalam rangka pemulihan ekonomi senilai Rp 5 juta per keluarga. Semua bantuan tersebut dilakukan melalui mekanisme pengusulan dari Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati/Wali Kota, kemudian penetapan daftar normatif melalui Forkopimda, dan validasi Mendagri selaku satgas rehabilitasi.
Apresiasi dari Wakil Bupati Aceh Utara
Di tempat yang sama, Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penanganan bencana banjir khususnya di Aceh Utara.
“Dalam kesempatan ini kami menyampaikan, kita patut dan harus mengapresiasi dan menghargai semua pihak, yang selama dua bulan musibah ini telah melanda, dari unsur manapun yang sudah bersama-sama membantu dan memasang badan untuk kepentingan penanganan bencana di Aceh Utara,” ujar Tarmizi.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












