JAKARTA,
Inflasi Tahun 2025 dan Faktor yang Mempengaruhi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi sepanjang tahun kalender 2025 mencapai sebesar 2,92 persen. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa inflasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor persediaan atau suplai. Hal ini berbeda dengan negara-negara maju yang inflasinya lebih dipengaruhi oleh sisi permintaan atau demand.
“Di Indonesia, terbukti kalau inflasinya sangat dipengaruhi oleh sisi suplai. Begitu suplai sulit maka inflasi tumbuh,” ujar dia ketika ditemui di kantor BPS, Selasa (20/1/2026). Ia menekankan bahwa kondisi wilayah yang terkena bencana menjadi salah satu contoh nyata bagaimana suplai komoditas bisa terganggu, sehingga menyebabkan inflasi.
Pada bulan penghujan, inflasi biasanya terjadi pada cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah. Hal ini disebabkan karena banyak panen yang terganggu akibat cuaca buruk, sehingga mengakibatkan kerusakan pada hasil panen. “Artinya, inflasi di Indonesia perlu dikendalikan dari segi suplai, terutama ketersediaan pasokan dan sistem logistik yang baik,” tambahnya.
Emas sebagai Kontributor Inflasi
Terkait dengan data inflasi 2025, Amalia menjelaskan bahwa emas jadi kontributor inflasi yang cukup besar pada Desember 2025. Hal ini disebabkan karena harga emas melonjak di pasar internasional dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kalau harga emas di pasar internasional naik, tentunya ya ini akan ditransmisikan ke dalam harga emas perhiasan,” ucap dia. Secara bulanan, inflasi emas pada Desember 2025 masih menunjukkan angka yang tinggi di level 3,4 persen dengan andil inflasi sebesar 0,07 persen.
Inflasi emas perhiasan ini memang memiliki porsi yang signifikan terhadap inflasi yang terjadi tahun lalu. Harga emas sendiri secara tahunan mengalami inflasi hingga 58,98 persen, dengan andil inflasi 0,79 persen pada periode Desember 2025. Emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar sepanjang 2025.
Komoditas dengan Andil Inflasi Terbesar Tahun 2025
Amalia menjelaskan, terdapat beberapa komoditas yang memiliki andil inflasi terbesar pada 2025. Emas perhiasan menempati posisi pertama sebagai komoditas dengan andil inflasi paling besar yakni 0,79 persen. Selanjutnya, posisi selanjutnya ditempati oleh komoditas cabai merah dengan andil inflasi 0,18 persen. Sementara itu, ikan segar dan cabai rawit memiliki andil inflasi 0,15 persen. Dengan persentase yang sama, beras juga masuk dalam jajaran komoditas dengan andil inflasi terbesar.
Adapun komoditas lain yang memiliki andil inflasi terbesar adalah tarif air minum PAM, bawang merah, sigaret kretek mesin (SKM), telur ayam ras, minyak goreng, dan bensin. Tak hanya itu, biaya sewa rumah, sigaret kretek tangan (SKT) dan uang kuliah akademi juga merupakan komoditas dengan andil inflasi terbesar.
“Andil inflasi ini dihitung dari kenaikan harga dan juga proporsi dari konsumsi yang dilakukan masyarakat terhadap komoditas itu,” ungkap dia. Perhitungan inflasi dilakukan bukan hanya sekadar dari perubahan harga, tetapi juga dibobot berdasarkan berapa besar proporsi dari komoditas tersebut dalam keranjang konsumsi masyarakat.
Inflasi Tak Langsung Cerminkan Harga yang Dibayar Masyarakat
Lebih lanjut, Amalia menjelaskan, angka inflasi belum tentu mencerminkan berapa harga yang harus dibayar oleh masyarakat. Ia menjabarkan, inflasi adalah perubahan kenaikan harga yang dihitung berdasarkan proporsi dari jenis barang yang dikonsumsi oleh masyarakat. Kendati demikian, harga yang dibayar oleh konsumen bukan kenaikan harga akibat inflasi.
Adapun, apa yang dibayar masyarakat ketika belanja disebut dengan level harga. “Jadi inflasi rendah, belum tentu (mencerminkan) level harga yang rendah,” ungkap dia. Sebagai contoh, harga rata-rata minyak goreng dalam setahun ke belakang relatif stabil di level Rp 19.616 per liter. Pada awal 2025, harga minyak goreng juga berada di level 19.600-an. Namun harga tersebut stabil berada di level harga yang relatif tinggi.
“Artinya, secara inflasi dia (minyak goreng) rendah, tetapi secara level harga, minyak goreng sudah relatif tinggi. Ini yang saya sebut, dia harga tinggi tapi relatif stabil,” terang dia. Dengan contoh di atas, apa yang dibayar masyarakat bukanlah inflasinya, tapi level harganya.
Deflasi Tak Cerminkan Turunnya Daya Beli Masyarakat
Sebaliknya, Amalia menjelaskan, deflasi tidak dapat diartikan sebagai penurunan daya beli masyarakat. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), deflasi adalah keadaan yang menunjukkan daya beli uang meningkat dalam masa tertentu karena jumlah uang yang beredar relatif lebih kecil daripada jumlah barang dan jasa yang tersedia.
Amalia mengugkapkan, deflasi tak bisa diartikan sebagai penurunan daya beli karena hal ini tergantung dari penyebabnya. Sebagai ilustrasi, suatu waktu harga cabai rawit mencapai harga Rp 150.000 per kg. Kemudian bulan berikutnya, dengan adanya pasokan yang melimpah dan panen raya terdapat pasokan yang melimpah. Hal ini membuat harga cabai rawit turun jadi Rp 100.000 per kg. Penurunan harga tersebut akan terekam sebagai deflasi karena harga komoditas turun.
“Apakah hal tersebut terjadi karena penurunan daya beli? Bukan, karena penurunan harga terjadi akibat suplai yang bertambah, sehingga harganya turun,” terang dia. Adapun, pada awal 2025, BPS melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Januari dan Februari masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,76 persen dan 0,48 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Dampak Bencana terhadap Inflasi
Amalia menjelaskan, inflasi Desember 2025 yang dilaporkan oleh BPS juga telah merekam tingkat inflasi di daerah bencana. BPS telah merekam bagaimana dampak bencana terhadap perubahan harga di daerah tersebut. Adapun, daerah bencana tersebut terutama pada bencana ekologis banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia menjabarkan, inflasi Aceh secara bulanan mengalami inflasi sebesar 3,60 persen pada Desember 2025. Padahal, bulan November 2025, provinsi Aceh mengalami deflasi 0,67 persen. Hal ini terjadi karena pada November 2026 Aceh mengalami peningkatan pasokan (supply) pada beberapa komoditas, sehingga harganya turun.
Dengan adanya bencana, suplai bahan makanan dan bahan pokok ke Aceh tersendat. “Sehingga menyebabkan harga yang relatif tinggi pada beberapa komoditas yang diperlukan masyarakat,” terang Amalia. Sementara itu, Sumatera Utara mengalami inflasi senilai 1,66 persen dan inflasi di Sumatera Barat sebesar 1,48 persen.
Hal ini mencerminkan, kenaikan harga komoditas yang paling tinggi dirasakan oleh Provinsi Aceh. “Karena di Aceh itu paling banyak daerah yang terisolasi akibat terjadinya bencana yang terjadi pada Desember dan akhir November,” ungkap dia. Salah satu penyebab inflasi tinggi di Aceh adalah kenaikan harga beras, bahan bakar rumah tingga seperti LPG, minyak goreng, bawang merah hingga telur ayam ras.
Ia menekankan, komoditas penyebab inflasi di berbagai daerah yang mengalami bencana ternyata berbeda-beda. Itu dipengaruhi oleh persediaan kondisi pasokan komoditas di daerah terdampak bencana. “Dan juga seberapa besar masyarakat mengkonsumsi komoditas tersebut di dalam keranjang konsumsinya,” terang dia.
Sedikit catatan, Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara jarang menjadi provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi. “Akibat bencana mereka mengalami inflasi ini karena memang sulitnya pasokan bahan makanan pokok, akibat dari terganggunya infrastruktur, dan bahkan beberapa daerah terisolir,” tutup dia.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












